Koranindopos.com – Jakarta. Di tengah menjamurnya film horor di bioskop, sebuah langkah berani diambil DCU Production dan Rumah Semut Film dengan memperkenalkan film bergenre komedi berbalut daerah. Berjudul Coto vs Konro, film yang kental dengan budaya Makassar itu akan tayang di bioskop mulai 6 Februari 2025 mendatang.
Disutradarai oleh Irham Acho Bahtiar, film Coto vs Konro digadang-gadang siap menjadi sajian berbeda para penikmat film layar lebar. Terlebih, film itu juga dikemas dengan unsur kekeluargaan yang kuat sehingga diharapkan bisa menyentuh banyak hati yang menonton.
“Film ini membawa kisah tentang keluarga. Film ini dibutuhkan di tengah film-film bertema horor,” kata Irham Acho saat konferensi pers di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (23/1/2025).

Secara garis besar, film Coto vs Konro berkisah tentang Coto Haji Matto milik Haji Matto (Luthfi Sato), yang walaupun kecil namun sangat terkenal dan ramai pengunjung di Makassar karena menggunakan resep turun temurun yang tak ada sama dengan coto yang lain. Suatu hari, datanglah Daeng Sangkala (Awaluddin Tahir) yang berniat untuk membeli warung tersebut dan bermaksud untuk mengembangkannya menjadi bisnis yang besar. Namun, Haji Matto menolaknya dengan keras tawaran tersebut.
Beberapa minggu berselang, Daeng Sangkala kembali bersama istrinya, Lina (Aty Kodong) dan anak-anaknya membuka restoran Konro bernama “Konro Daeng Sangkala” yang letaknya tepat berhadapan langsung dengan warung Haji Matto. Menerapkan strategi promosi yang gencar dan pelayanan maksimal dengan merekrut Rustam ( Pieter Ell), seorang Manajer dan Konsultan yang berpengalaman, lama kelamaan Konro Daeng Sangkala berhasil membuat pelanggan setia Haji Matto berpindah.
Perseteruan keduanya pun semakin memanas seiring anak mereka, Rizal (Adit Triyuda) dan Sara (Nielam Amir) yang saling mendekat sehingga membuat suasana semakin panas.
“Film ini memang tidak fokus ke makanannya, sebenernya makanan hanya sebagai saksi bisu. Konfliknya ada pada pengusaha-pengusaha ini (Haji Matto dan Daeng Sangkala) dan tentang kisah keluarga mereka,” tambah Irham Acho.
“Inti ceritanya adalah keluarga nggak bisa dipisahkan meski beda visi, pada akhirnya mereka berdua berkompromi. Mudah-mudahan pesannya sampai ke penonton bahwa keluarga itu tetap nomor satu. Mudah-mudahan film ini bisa relate, bahwa perbedaan itu wajar, yang penting ending-nya. Kalau ending-nya baik, proses sebelumnya adalah kewajaran,” timpal Ferdy K selaku penulis skenario.
Bukan cuma ceritanya yang berbeda dari film kebanyakan, jajaran cast yang terlibat di dalamnya juga terbilang cukup unik. Hampir sebagian besar dari mereka adalah talent-talent lokal asli Makassar yang dianggap punya potensi untuk bisa berkembang jauh di dunia akting. Mereka antara lain Luthfi Sato, Awaluddin Tahir, Aty Kodong, Pieter Ell, Adit Triyuda, Nielam Amir, Andi Naufah Patadjangi, Anjas Chambank, Goenawan Monoharto, Zakaribo, Musdalifah Basri, Febby Putri Nilam Cahyani, Dodi Mahuze, Eddy Lagos, Ical Kate, Dani Brekelle, Ria Luthfi, Daeng Uki Nugraha, Chant Chiko Juwita, Bahar Merdu, Yuni Anggraeni, Muhammad Fahrul, Muis Ceska, Vanessa Hie.
















