Agnes Affenda Putri tampak berkaca-kaca. Kedua mata ibu muda itu selalu sembab, karena tak kuasa menahan tangis setiap kali menatap anak semata wayangnya. Dialah Mark Dalton Fegre. Bayi tiga tahun (batita) asal Purwakarta tersebut didiagnosis mengidap Acute Myeloid Leukemia (AML) atau Leukimia Myeloid Akut (LMA). Salah satu jenis kanker darah paling agresif dan mematikan.
LAPORAN: WAYTRI–Koranindopos.com
UJIAN demi ujian bak badai datang silih berganti menerjang kehidupan rumah tangga Agnes. Belum lekang dari ingatan Agnes, pukulan berat itu kali pertama datang pada Mei 2023. Suami tercintanya, Gregorius Yefri Setiawan, meninggal karena mengidap Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) atau Leukemia Limfoblastik Akut (LLA). Adalah jenis kanker yang mempengaruhi sel darah putih. Sejak saat itu, dia menjalani hidup sebagai single parent untuk membesarkan Dalton.
Bukan hal mudah bagi Agnes untuk melewati itu. Hari, minggu, bulan, hingga tahun berganti, Agnes menjalaninya dengan tabah. Namun itu belum cukup. Pukulan berat kedua datang pada 8 Agustus 2025. Jiwanya terguncang hebat ketika mengetahui diagnosis dokter Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Hospitals Semanggi-Jakarta terhadap Dalton. Dokter mendiagnosis Dalton mengidap AML atau LMA setelah melalui pemeriksaan Bone Marrow Puncture (BMP). Itu merupakan salah satu jenis kanker darah paling agresif dan mematikan yang juga merenggut nyawa ayah Dalton.
Agnes memutuskan Dalton untuk menjalani pemeriksaan BMP karena kondisinya yang terus menurun. Penyakit itu terdeteksi kali pertama pada awal Agustus 2025. Saat itu Dalton mengalami demam berkepanjangan, tubuh lemas, dan muncul lebam di bagian lutut. Hasil pemeriksaan darah di RS Siloam Purwakarta menunjukkan kadar leukosit Dalton mencapai 57,8 ribu. Kemudian, RS Siloam Purwakarta merujuknya ke MRCCC Siloam Hospitals Semanggi-Jakarta.

Meski telah menjalani tiga kali kemoterapi, kondisi Dalton semakin melemah. Dia sulit makan, sering mengantuk, dan kehilangan semangat bermain. Dokter menyarankan Agnes agar segera memutuskan untuk transplantasi sumsum tulang bagi Dalton. Itu adalah satu-satu cara untuk menyelamatkan hidup buah hatinya. ”Bila kemoterapi tingkat harapan hidup hanya sekitar 20 persen. Prosedur ini membutuhkan biaya sangat besar. Mencapai sekitar Rp 2 miliar di luar biaya perawatan harian, transfusi darah, dan obat-obatan,” ucap Agnes, menyeka air mata.
Penghasilan Agnes sebagai perawat di rumah sakit swasta untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pengobatan Dalton. Selama Dalton mengidap penyakit tersebut, Agnes berusaha mencari pendapatan tambahan dari berjualan sandwich dan salad. Namun, seiring terus menurunnya kondisi kesehatan Dalton, dia harus meninggalkan pekerjaan dan usahanya. ”Dalton adalah segalanya bagi saya. Harapan saya, dia bisa sembuh, sekolah, dan menjalani kehidupan normal seperti anak-anak lain,” ujar Agnes dengan suara bergetar, menahan kepedihan.
Dalton adalah sosok anak ceria. Dia mudah akrab dengan orang baru. Namun sejak sakit, dia lebih banyak terbaring dan tidak lagi bersemangat bermain. Keluarga besar berharap cerita ini dapat mengetuk hati pembaca dan masyarakat luas yang dermawan untuk dapat memberikan donasi seikhlasnya. ”Kami sudah berusaha mengumpulkan dana, namun sebagian besar habis untuk biaya kemoterapi dan perawatan. Kami sangat berharap ada yang tergerak untuk membantu menyelamatkan nyawa Dalton,” ungkap salah seorang kerabat Agnes. Para dermawan yang ingin membantu Dalton dapat menyalurkan donasi melalui laman resmi Kitabisa di tautan berikut: https://bit.ly/KitabisabantuDalton. (*/mmr)










