Koranindopos.com, Jakarta – Meski tengah menjalani masa pembinaan akibat kasus narkoba, musisi Zul Zivilia menunjukkan bahwa kreativitas tak berhenti di balik jeruji. Ia kembali menyapa penikmat musik Tanah Air lewat single kolaborasi berjudul Sabar-sabar Ade, sebuah karya yang lahir dari keterbatasan namun sarat makna dan semangat untuk terus berkarya.
Single ini merupakan lagu ketujuh yang dirilis Zul selama menjalani masa tahanan di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur. Ini membuktikan kalau selama dipenjara, Zul Zivilia tidak hilang kreativitasnya sebagai seorang musisi.
“Jadi tentunya di sini sengaja kami membuat kegiatan, me-launching salah satu lagunya Zul yang berjudul Sabar Sabar Ade. Tentunya lagu ini kami berharap bisa dikenal oleh masyarakat. Dan juga dapat kami informasikan bahwa lagu ini sudah yang ketujuh ya bang Zul ya? Selama saya berdinas di Lapas Khusus ini, ini lagu yang ketujuh,” ujar Wahyu Indarto, Kepala Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur.
Peluncuran lagu tersebut digelar pada Rabu (21/1/2026) di Lapas Khusus IIA Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Momen ini menjadi istimewa karena melibatkan Putri Ajeng, mantan personel girlband 7Icons, yang saat ini menjalani pembinaan di Lapas Kelas IIA Tangerang, sehingga kolaborasi dilakukan lintas lembaga pemasyarakatan.

Kolaborasi ini terbilang unik karena mempertemukan dua musisi yang berada di lokasi berbeda dengan ruang gerak dan komunikasi terbatas. Proses penggarapan dilakukan dengan pengawasan ketat petugas, mulai dari pengiriman materi lagu hingga koordinasi teknis, menjadikan proyek ini contoh nyata sinergi pembinaan dan kreativitas.
“Dulu kita sering banget ketemu di acara musik. Jadi pas ada kesempatan kolaborasi ini, rasanya kayak nostalgia panggung, tapi bedanya sekarang kita di belakang tembok,” kata Zul Zivilia.
Dari sisi musikalitas, Sabar-sabar Ade hadir dengan nuansa ceria dan ritme yang mengajak pendengar bergoyang. Liriknya mengisahkan seorang pria yang meminta kekasihnya tetap setia menunggu hingga tiba waktu melamar, cerita sederhana namun relevan dengan kondisi personal para pembuat lagu.
“Rekamannya luar biasa, satu hari kelar secara dadakan. Pagi kita take vocal, siangnya langsung syuting video klip di sini. Memang agak ribet koordinasi antar dua Kanwil yang berbeda, tapi Alhamdulillah berkat dukungan pimpinan semuanya lancar,” terang Zul.
Bagi Putri Ajeng, keterlibatan dalam proyek ini menjadi bukti bahwa masa pembinaan tidak memutus peluang untuk tetap produktif. Selama berada di dalam lapas, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan seni dan pembinaan kepribadian yang justru membuat kesehariannya semakin terstruktur dan padat.
“Di sini jadwalku padat banget, ada menari, menyanyi, sampai pembinaan kepribadian. Malah lebih sibuk daripada waktu aku masih di Seven lcons dulu,” beber Putri Ajeng.
Pihak Lapas Khusus Gunung Sindur pun menyatakan dukungan penuh terhadap peluncuran karya tersebut. Kegiatan ini disebut sebagai bagian dari program pembinaan yang bertujuan memberi ruang bagi warga binaan untuk menghasilkan karya positif dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
“Tentunya di sini sengaja kami membuat kegiatan me-launching salah satu lagunya Zul yang berjudul Sabar-sabar Ade. Tentunya lagu ini kami berharap bisa dikenal oleh masyarakat. Dan juga dapat kami informasikan bahwa lagu ini sudah yang ketujuh ya Bang Zul ya selama saya berdinas di Lapas Khusus ini ini lagu yang ketujuh,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi dan Kerjasama Pemasyarakatan, Maulidi Hilal menyambut gembira apa yang dilakukan Zul dan Putri. Menurutnya, ini merupakan kreativitas tanpa batas
“Saling memberikan dukungan, saling mensupport, dan tentunya ini akan mengedukasi kepada masyarakat, bahwa di Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan Negara manapun, Lembaga Pembinaan Khusus Anak, banyak kreativitas tanpa batas, yang menembus batas meskipun di tempat yang terbatas,” katanya.
“Kita negara memang memenjarakan fisiknya, tapi akal pikiran, hatinya, tetap dibuka seluas-luasnya, sehingga tetap terlahir berbagai macam hasil karya warga binaan,” tandasnya. (Brg/Kul)










