Koranindopos.com, Jakarta – Industri musik tanah air kembali melahirkan sebuah proyek ambisius yang melampaui batas teritorial. Fearless, grup band yang terbentuk dari pertemuan tak sengaja di Jakarta, kini tengah mematangkan langkah besar untuk menembus pasar musik global. Digawangi oleh Fathan pada vokal, Edo pada gitar, dan Arya pada bass, band ini membawa visi yang jelas, menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam karya mereka demi menjangkau telinga pendengar di luar Asia Tenggara.
Pertemuan para personel ini bermula dari sebuah panggung tribute di Jakarta pada tahun 2023. Edo menceritakan bagaimana chemistry antara dirinya dan Fathan mulai terbangun hingga akhirnya mereka bertemu dengan Arya. Nama Fearless secara resmi dikukuhkan pada 13 Januari 2025, yang kemudian menjadi titik awal perjalanan profesional mereka hingga mendapatkan panggung di kancah internasional.
“Saya lagi main tribute Genesis di jakarta, Fathan ternyata satu panggung sama saya, itu 2023. Di sela sela check sound gue kenalan, terus berlanjut ketemuan. Sampai akhirnya dia ngajak gue gabung di Criss X. Pas di sana gue pikir kenapa kita nggak bikin band lintas negara aja. Terus kita ketemu sama Arya di Jakarta. Kita kumpul dan dapat namanya Fearless, itu 13 Januari 2025. Di situ lah ada acara di Kuching,” ungkap Edo mengenai sejarah terbentuknya band ini ditemui di Musicology Zone, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
Langkah perdana Fearless di kancah internasional dimulai saat mereka tampil di festival bergengsi Rock in the Jungle di Kuching, Malaysia pada Agustus 2025. Meski saat itu belum memiliki lagu sendiri, tekanan tersebut justru memicu kreativitas mereka hingga berhasil menciptakan lima lagu dalam waktu singkat. Kelima lagu tersebut, yakni Nothing Get Enough, Chaos, Ku Kejar, Dilema, dan Never Stop Believing, menjadi modal utama mereka untuk melangkah lebih jauh.

“Kebetulan Agustus 2025 ada acara rock in the jungle, annual event yang cukup terkenal di Kuching, Malaysia. Saat itu mau manggung tapi nggak ada lagu, nah Arya bagi saya lagu. Tapi arya instrumental, bikin saya pusing buat liriknya. Akhirnya jadilah 5 lagu. Jadinya kita pergi dengan 5 lagu yang dibuat itu. Kita memang sengaja buat lagu inggris karen target kita international. Kita ada pembicaraan lah dengan BMG Jerman, tapi syaratnya harus lagu bahasa Inggris,” jelas Fathan.
Salah satu lagu andalan mereka, Dilema, mencerminkan kedalaman lirik yang diusung oleh Fathan. Lagu ini bercerita tentang pergulatan batin manusia saat berada di titik terendah. Dengan balutan aransemen rock yang segar, Fearless optimis lagu-lagu mereka dapat diterima oleh label besar di Eropa, mengingat saat ini mereka tengah menjalin komunikasi intensif dengan BMG Jerman melalui jaringan produser di Sarawak.
“Lagu berjudul Dilema ini tentang membuat keputusan yang baik dan tidak baik. Di saat kita mendapat musibah, kita biasanya akan memutuskan sesuatu yang sulit,” tutur Fathan mengenai makna di balik karya mereka.
Ambisi Fearless tidak berhenti pada perilisan lagu. Mereka telah menyusun rencana matang untuk melakukan tur Eropa pada akhir tahun ini dengan menyasar Belanda dan Belgia. Strategi yang mereka gunakan terinspirasi dari band-band cadas Indonesia seperti Burgerkill dan Deadsquad yang sukses membangun jejaring sendiri di festival-festival musik dunia.
“Kebetulan kawan saya sendiri produser musik di Serawak, dia kenal BMG Jerman dan disuruh cari talent. Saat ini kita masih dalam diskusi. Akhir tahun ini saya punya plan tur eropa. Saya lihat kayak burger kill, mereka cari link sendiri,” tambah Fathan dengan penuh keyakinan.
Sebelum terbang ke benua biru, Fearless terlebih dahulu akan menyapa penggemar di dalam negeri melalui rangkaian tur promo. Amir Zidane, yang turut andil dalam perjalanan band ini, melihat potensi besar dalam diri Fearless karena karakter musiknya yang dianggap berbeda dan belum pernah ada sebelumnya di industri musik Malaysia maupun Indonesia.
“Fearless nanti habis lebaran akan rencana promo tur sampai Surabaya. Ada beberapa tempat gigs yang kita pilih. Gue menceburkan diri di fearless. Karena menurut gue fearless beda dan fresh,” ujar Amir Zidane memberikan testimoni.
Meskipun terpisah jarak karena Fathan menetap di Sarawak, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi Fearless untuk terus memproduksi karya. Tantangan geografis justru menjadi bumbu dalam membangun identitas band ini. Fathan sangat percaya bahwa kualitas produk musik mereka mampu berbicara banyak di ruang publik dan menarik minat pasar internasional.
“Pertama lokasi, karena saya tinggal di Serawak. Tapi saya percaya produknya fearless, ini sesuatu yang lain. Tantangannya gimana produk kita dikenal di publik,” pungkas sang vokalis.(Brg/Kul)










