Koranindopos.com – Jakarta. Film drama religi bertajuk “Ibadah & Cinta” menjadi karya keempat hasil kolaborasi rumah produksi Multi Buana Kreasindo (MBK) dan Sinemata Productions. Melalui bendera Sinemata Buana Kreasindo (SBK) Productions, film ini melanjutkan jejak kerja sama sebelumnya seperti “Pengin Hijrah”, “The Bell: Panggilan untuk Mati”, dan “Ghost Soccer: Bola Mati” yang sudah lebih dulu diproduksi.
Film “Ibadah & Cinta” tidak hanya menawarkan kisah romantis, namun juga menyajikan latar cerita religi yang kuat. Kisah ini membawa penonton pada perjalanan batin dua anak muda, Rico dan Santun, yang berasal dari latar budaya serta nilai kehidupan yang berbeda, namun dipersatukan oleh cinta yang mereka yakini sebagai bagian dari ibadah.
Lokasi pengambilan gambar menjadi daya tarik tersendiri dalam film ini. Melbourne, Australia, dipilih sebagai salah satu lokasi utama. Beberapa tempat eksotis seperti dataran tinggi Grampians, Port Campbell, dan Twelve Apostles turut memperkuat atmosfer cerita. “Beberapa titik lokasi di Melbourne belum pernah hadir di film-film Indonesia,” ujar Rendy Gunawan, produser film ini, saat konferensi pers di Jakarta Utara, Kamis (17/7).
Tak hanya Melbourne, film ini juga melakukan pengambilan gambar di berbagai titik di Indonesia, seperti Pesantren Darunnajah di Cipining, Leuwiliang, serta kawasan Tapos, Cigombong, dan Sukabumi. Lokasi-lokasi tersebut dipilih untuk memperkuat nuansa pesantren dan nilai-nilai religius dalam cerita.
Cerita berpusat pada Rico, pemuda Indonesia yang tumbuh besar di Melbourne. Ia kembali ke Indonesia mengikuti sahabatnya, Ganda, dan mulai berkenalan dengan kehidupan pesantren. Di sinilah ia bertemu Santun, putri dari Kiai Umar yang dikenal sebagai perempuan religius dan disegani. Pertemuan itu mengubah pandangan hidup Rico.

Kisah mereka pun berkembang. Keduanya merasakan benih-benih cinta, namun jalan mereka tak mudah. Santun telah dijodohkan dengan Ustad Salman, pilihan Kiai Umar. Rico merasa tak sepadan, namun Santun meyakinkan bahwa pilihan hatinya adalah Rico. “Cinta layak diperjuangkan karena ia juga bagian dari ibadah,” menjadi pesan kuat dalam film ini.
Konflik semakin tajam ketika Santun divonis mengidap leukemia. Ia memutuskan pergi ke Australia bersama Rico, meninggalkan pesantren dan menimbulkan kemarahan Kiai Umar. Namun bagi keduanya, perjalanan ini adalah bagian dari perjuangan dan pengabdian. Mereka berharap suatu saat dapat meluluhkan hati sang Kiai dan memperoleh restunya.
Film ini disutradarai oleh Jastis Arimba dan melibatkan sejumlah nama besar seperti Indah Permatasari sebagai Santun, Achmad Megantara sebagai Rico, Mathias Muchus, Elma Theana, hingga Jamie Aditya. Proses produksi dijadwalkan rampung dalam 25 hari dengan target tayang awal tahun 2026. “Kami ingin menuntaskan produksi film ini semenarik mungkin,” kata Rendy Gunawan.
Untuk mendalami karakter dan memperkuat chemistry antar pemain, tim produksi menggelar workshop intensif selama 12 hari. Dengan skenario yang kuat serta visualisasi yang menawan, “Ibadah & Cinta” diharapkan bisa menjadi angin segar bagi perfilman religi di Indonesia.
Film ini menyajikan pesan mendalam bahwa cinta bukan hanya sekadar perasaan, tetapi juga ujian, perjuangan, dan bagian dari ibadah itu sendiri. Dengan latar lokasi yang sinematik dan narasi yang menyentuh, film ini menjadi satu dari sedikit kisah religi yang mengedepankan sisi emosional tanpa kehilangan nilai-nilai spiritualnya.










