Dusun Melur, Desa Bukit Rata, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh adalah salah satu permukiman yang terdampak bencana banjir bandang. Banjir tidak hanya menyisakan lumpur, namun juga luka mendalam. Salah seorangnya yang dirasakan Rindu Majalina.
LAPORAN: koranindopos.com
IBU rumah tangga berusia 39 tahun itu telah meninggalkan rumahnya sejak banjir menerjang sejak 26 November 2025. Dia Bersama tiga anaknya mengungsi ke Kota Medan, Sumatera Utara. ”Air tidak ada. PDAM mati. Tangki air jarang datang. Orang MCK (mandi, cuci, kakus, red) pakai plastik dan dibuang sembarangan ke mana-mana. Saya mau bersihkan rumah tak bisa, apalagi saya ada anak kecil yang butuh air bersih, susah jadinya,” kata Rindu dilansir dari BBC.com pada Rabu (17/12/2025).
Rindu menceritakan, listrik baru beberapa hari terakhir mengalir ke rumah penduduk. Tetapi, itu tidak sepanjang hari.”Setelah presiden datang, listrik hidup, presiden pulang langsung mati. Sekarang masih belum stabil,” katanya.
Untuk bertahan hidup, sambung Rindu, balita hingga anak-anak terpaksa mengonsumsi mi instan selama belasan hari. Namun ada hal lain yang membuatnya resah, yakni kondisi lingkungan kotor. Sampah di mana-mana, debu, dan nyamuk. ”Anak-anak sempat diare dan sampai hari ini masih demam. Hilang timbul demamnya. Lalu muntah-muntah dan kemarin enggak mau makan lagi. Gatal-gatal juga. Orang tua juga gula dan tensinya naik. Jadi kami ambil keputusan mengungsi,” ungkap Rindu. (bbc/mmr)










