Peristiwa tersebut terjadi saat kompetisi mempertemukan sejumlah sekolah menengah atas terbaik di Kalimantan Barat. Dalam lomba itu, Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima untuk sebuah jawaban yang dinilai kurang tepat. Sementara itu, jawaban serupa dari Grup B SMAN 1 Sambas justru memperoleh nilai 10 dari juri yang sama.
Penilaian tersebut diberikan oleh Dyastasita Widya Budi yang bertugas sebagai dewan juri dalam perlombaan tersebut.
Pihak juri menyatakan perbedaan nilai bukan terletak pada substansi jawaban, melainkan pada kejelasan penyampaian peserta saat menjawab pertanyaan.
Salah satu juri lainnya, Indri Wahyuni, menjelaskan bahwa artikulasi peserta dari SMAN 1 Pontianak dinilai kurang jelas sehingga memengaruhi penilaian akhir.
Penjelasan tersebut memicu perdebatan di media sosial karena banyak warganet menilai penilaian dalam kompetisi akademik seharusnya lebih konsisten dan transparan.
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI merupakan ajang edukasi kebangsaan yang diselenggarakan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Materi yang dilombakan mencakup empat pilar utama kebangsaan, yaitu:
- Pancasila
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
- Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
- Bhinneka Tunggal Ika
Kompetisi ini biasanya diikuti siswa SMA sederajat dari berbagai daerah dan menjadi bagian dari program sosialisasi kebangsaan MPR RI.
Cuplikan video perbedaan penilaian tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat. Banyak netizen mempertanyakan standar penilaian yang digunakan juri, terutama karena jawaban yang dianggap serupa memperoleh skor berbeda.
Meski demikian, pihak penyelenggara menegaskan bahwa keputusan juri diambil berdasarkan berbagai aspek penilaian, termasuk ketepatan jawaban, kejelasan penyampaian, dan aturan teknis perlombaan.(dhil)










