Minggu, 12 April 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Opini
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Opini
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Olahraga
  • More
Home Nasional

Menakar Kapasitas Indonesia Menjadi Mediator Konflik Global

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
5 Maret 2026
in Nasional
0
Menakar Kapasitas Indonesia Menjadi Mediator Konflik Global
Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – Jakarta. Gagasan Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik internasional kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Usulan tersebut muncul setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi perang terbuka di kawasan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sebelumnya menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang berkonflik. Bahkan disebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto bersedia melakukan perjalanan diplomatik ke Teheran apabila kedua pihak yang berseteru menyetujui upaya mediasi tersebut.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut memicu dampak geopolitik luas, termasuk ketidakstabilan politik dan potensi gangguan pada jalur perdagangan energi global.

Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur strategis perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di wilayah ini dapat memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.

Artikel Terkait

Kapal di Selat Hormuz Wajib Negosiasi dengan Iran, Ketegangan Kawasan Belum Mereda

Rotasi Jabatan Kodam V/Brawijaya, Letkol Inf Afiid Cahyono Resmi Pimpin Penerangan

KPK Gelar OTT di Jawa Timur, Bupati Tulungagung Ikut Diamankan

Situasi tersebut membuat banyak negara dan organisasi internasional mendorong upaya diplomasi untuk meredakan konflik sebelum berkembang menjadi perang berkepanjangan.

Meski niat Indonesia untuk menjadi penengah dipandang sebagai langkah idealis yang sejalan dengan prinsip politik luar negeri “bebas aktif”, sejumlah pakar menilai gagasan tersebut tidak mudah diwujudkan.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menilai bahwa usulan mediasi tersebut terlalu ambisius. Menurutnya, negara adidaya seperti Amerika Serikat belum tentu bersedia menerima mediasi dari negara berkembang dalam konflik bereskalasi tinggi.

Selain itu, faktor hubungan diplomatik juga menjadi pertimbangan penting. Indonesia dinilai belum memiliki kedekatan strategis yang cukup kuat dengan Iran maupun pihak-pihak yang terlibat konflik untuk menjadi mediator yang dipercaya sepenuhnya.

Selain tantangan diplomatik, terdapat pula risiko politik domestik. Upaya mediasi berpotensi menempatkan Indonesia dalam posisi yang sensitif, terutama jika harus berinteraksi langsung dengan para pemimpin negara yang terlibat konflik, termasuk pihak Israel.

Di sisi lain, sejumlah tokoh seperti mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menilai bahwa perbedaan kekuatan politik dan ekonomi antara negara-negara yang terlibat konflik dapat menyulitkan proses mediasi.

Sebagian pengamat menilai Indonesia sebaiknya fokus pada langkah diplomasi yang lebih realistis, seperti mendorong resolusi melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa serta mengambil sikap tegas terhadap pelanggaran hukum internasional.

Selain itu, Indonesia juga diharapkan memperkuat posisi diplomatiknya sambil memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi, termasuk menjaga stabilitas pasokan energi dan keamanan ekonomi domestik.

Dengan situasi geopolitik yang semakin kompleks, peran Indonesia dalam diplomasi global tetap penting. Namun, langkah tersebut perlu dilakukan secara terukur dan realistis agar upaya menjaga perdamaian dunia dapat berjalan efektif tanpa mengorbankan kepentingan nasional.(Dhil/dtk)

Topik: konflik globalmenakar

TerkaitBerita

Kapal di Selat Hormuz Wajib Negosiasi dengan Iran, Ketegangan Kawasan Belum Mereda
Nasional

Kapal di Selat Hormuz Wajib Negosiasi dengan Iran, Ketegangan Kawasan Belum Mereda

oleh Editor : Affandy
12 April 2026
Rotasi Jabatan Kodam V/Brawijaya, Letkol Inf Afiid Cahyono Resmi Pimpin Penerangan
Nasional

Rotasi Jabatan Kodam V/Brawijaya, Letkol Inf Afiid Cahyono Resmi Pimpin Penerangan

oleh Editor : Akula
12 April 2026
kpk
Nasional

KPK Gelar OTT di Jawa Timur, Bupati Tulungagung Ikut Diamankan

oleh Editor : Hairul
11 April 2026
Prabowo
Nasional

Prabowo: Rp31,3 Triliun Uang Negara Diselamatkan, Dorong Perbaikan Sekolah dan Rumah Rakyat

oleh Editor : Hairul
11 April 2026
Bank Jakarta

Direkomendasikan

Dari Jualan Burger ke New York, Aksi Sujud Syukur Aldi Taher Bakal Gebrak Panggung Fashion Dunia

Dari Jualan Burger ke New York, Aksi Sujud Syukur Aldi Taher Bakal Gebrak Panggung Fashion Dunia

12 April 2026
Xiaomi 17 Max Dirumorkan Jadi Smartphone Terkuat 2026, Ini Bocoran Spesifikasi dan Keunggulannya

Xiaomi 17 Max Dirumorkan Jadi Smartphone Terkuat 2026, Ini Bocoran Spesifikasi dan Keunggulannya

12 April 2026
Ford Bronco 2026 Wildtrak Resmi Meluncur, Dibekali Teknologi Sasquatch Terbaru untuk Medan Ekstrem

Ford Bronco 2026 Wildtrak Resmi Meluncur, Dibekali Teknologi Sasquatch Terbaru untuk Medan Ekstrem

12 April 2026
Harga Emas Antam Naik Tipis, Tembus Rp2.860.000 per Gram

Harga Emas Antam Naik Tipis, Tembus Rp2.860.000 per Gram

12 April 2026

Terpopuler

  • Isuzu Panther Reborn

    Isuzu Panther Reborn 2026 Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp 288 Jutaan dengan Skema Kredit Fleksibel

    601 shares
    Share 240 Tweet 150
  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    2764 shares
    Share 1106 Tweet 691
  • Toyota Kijang Super 2026 Resmi Meluncur, Mobil Legendaris Keluarga Kembali Jadi Sorotan

    472 shares
    Share 189 Tweet 118
  • Ratusan Konsumen Modernland Cilejit Tuntut AJB, Direktur MDLN Janji Bereskan Bertahap Mulai Desember 2025

    409 shares
    Share 164 Tweet 102
  • Halal Bihalal dan Reuni Alumni SMP Yasporbi II, Hangatkan Kembali Silaturahmi Setelah 34 Tahun

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Opini
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya