Koranindopos.com – Jakarta. Di tengah derasnya pengaruh budaya asing yang membanjiri berbagai lini kehidupan, kecintaan generasi muda Indonesia terhadap budaya nasional terus diuji. Identitas bangsa seolah kian tergerus jika tidak dibarengi dengan upaya konkret untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan. Melihat kondisi itu, musik pun dihadirkan sebagai medium efektif untuk membangun kembali rasa nasionalisme di kalangan anak muda.
Salah satu inisiatif yang kini mencuri perhatian adalah Festival Nyanyian Anak Negeri (FNAN), sebuah ajang vokal yang dirancang lebih dari sekadar kompetisi menyanyi. FNAN menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk mengekspresikan bakat sekaligus memperkuat karakter kebangsaan mereka. Lebih dari itu, festival ini menawarkan pendekatan yang komprehensif: membina talenta muda menjadi pribadi kreatif, berkarakter kuat, serta memiliki disiplin dan jiwa nasionalisme yang kokoh.
“FNAN bukan hanya sekadar lomba suara, tapi tempat membentuk generasi yang paham jati diri bangsa. Mereka dibekali karakter, kreativitas, profesionalitas, dan yang paling utama, kecintaan terhadap tanah air,” ungkap pihak penyelenggara.
Di balik FNAN berdiri tiga nama besar yang memiliki rekam jejak dalam pengembangan budaya dan talenta nasional: Pay Burman, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, dan Tatang Wahyudi. Mereka menjadi motor penggerak utama lahirnya FNAN yang sarat dengan semangat membangun karakter bangsa lewat musik.

Festival ini memiliki konsep kompetisi yang unik dengan mengangkat lagu-lagu nasional, daerah, hingga lagu bertema kebangsaan yang diaransemen ulang dalam format kekinian. Meski dikemas modern, setiap lagu tetap mempertahankan sentuhan budaya Indonesia sebagai akar yang tak boleh dilupakan.
Tak hanya bermodal suara merdu, peserta FNAN juga harus melewati seleksi ketat dengan penilaian dari berbagai pakar di bidang musik, budaya, dan kreativitas digital. Para juri berasal dari kalangan musisi, penyanyi, produser, motivator, influencer, hingga budayawan, menciptakan penilaian lintas disiplin yang menyeluruh.
Tak berhenti di atas panggung, peserta juga digembleng dengan Wawasan Kebangsaan melalui kerja sama FNAN dengan sejumlah lembaga negara seperti Lemhannas, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Langkah ini menjadi bukti bahwa FNAN hadir dengan pendekatan holistik untuk membentuk generasi yang tak hanya piawai di bidang seni, tetapi juga tangguh dalam memegang nilai-nilai kebangsaan.
“Ini bukan sekadar festival biasa, tapi laboratorium kebangsaan bagi anak-anak muda kita,” kata penyelenggara menegaskan.
Menandai semarak FNAN 2025, sebuah lagu tema bertajuk “Anak Negeri” turut diluncurkan sebagai simbol pergerakan ini. Lagu tersebut dinyanyikan oleh dua musisi muda berbakat, Dul Jaelani dan Shanna Shannon, yang sekaligus didapuk sebagai ikon perdana FNAN.
Lewat lagu “Anak Negeri”, FNAN ingin menguatkan kembali semangat nasionalisme dengan cara yang dekat dengan dunia anak muda: musik yang inspiratif, penuh makna, namun tetap menyentuh akar budaya bangsa. Sebuah langkah nyata untuk memastikan bahwa di tengah derasnya globalisasi, identitas Indonesia tetap berdiri tegak di dada generasi penerusnya.










