Koranindopos.com, JAKARTA – Inter Milan kembali menunjukkan daya bangkitnya di Serie A. Tertinggal dua gol lebih dulu, Nerazzurri berhasil membalikkan keadaan dan menaklukkan Pisa dengan skor telak 6-2 di kandang sendiri.
Kemenangan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu, tetapi juga respons kolektif tim dalam situasi sulit. Inter bahkan sudah memastikan comeback sebelum turun minum. Pelatih Cristian Chivu menilai laga itu sebagai ujian mental yang berhasil dilewati timnya. Dia juga memberikan penjelasan terkait momen krusial di awal pertandingan.
Cristian Chivu menegaskan bahwa pertandingan sepak bola tidak pernah selesai sebelum peluit akhir. Menurutnya, Inter mampu membalikkan keadaan karena tetap percaya pada proses meski tertinggal.
Pelatih asal Rumania itu menilai reaksi para pemain menjadi faktor penentu. Inter tidak kehilangan arah dan terus menekan Pisa dengan kualitas serta intensitas tinggi. “Sebuah pertandingan berlangsung 100 menit, dan itu bisa dibalikkan,” ujar Chivu kepada DAZN melalui FCInter1908.
Gol pembuka Pisa lahir dari situasi build-up Inter yang gagal. Yann Sommer kehilangan bola di luar kotak penalti, yang kemudian dimanfaatkan Stefano Moreo untuk mencetak gol dengan lob jarak jauh. Chivu secara terbuka membela kiper asal Swiss tersebut. Ia menegaskan bahwa kesalahan itu berawal dari instruksi yang ia berikan. ”Itu salah saya karena saya yang meminta hal-hal tertentu kepada kiper. Terkadang saya menempatkan Yann dalam situasi sulit,” kata Chivu.
Setelah kebobolan dua gol, Inter kembali kemasukan dari situasi bola mati. Namun, Chivu melihat momen itu justru memicu reaksi positif dari timnya. Pergantian Federico Dimarco menggantikan Luis Henrique pada menit ke-34 menjadi titik balik laga. Dimarco kemudian tampil sebagai Man of the Match dengan satu gol dan satu assist. ”Mereka mencetak gol dari situasi bola mati. Setelah itu, kami menunjukkan kebanggaan dan terus menekan dengan kualitas dan intensitas, lalu membalikkan keadaan,” ucap Chivu.
Bagi Chivu, sikap pemain menjadi aspek terpenting dari kemenangan ini. Ia menilai Inter sempat berada di ambang situasi sulit, tetapi memilih untuk tetap menjalankan rencana permainan. Pelatih Inter itu mengakui masih ada penyesalan kecil karena gol keempat baru tercipta di akhir laga. Namun secara keseluruhan, ia puas dengan respons anak asuhnya. ”Sikap adalah hal terpenting; terkadang Anda harus menderita, tetapi yang menentukan adalah bagaimana Anda bereaksi. Kami bisa saja runtuh, tetapi tim tetap melakukan hal-hal mereka,” ujarnya. (blt/mmr)










