Koranindopos.com – Jakarta. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan penting ke Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) di Jakarta Selatan untuk berdiskusi langsung dengan Menteri HAM, Natalius Pigai. Pertemuan ini membahas program inovatif pendidikan karakter berbasis barak militer yang digagas oleh Dedi untuk membina siswa SMP dan SMA yang bermasalah di wilayah Jawa Barat.
Program ini menuai perhatian publik karena mengusung pendekatan disiplin tinggi melalui kerja sama dengan lembaga militer, khususnya Kodam III Siliwangi. Menariknya, Menteri HAM Natalius Pigai secara tegas menyatakan dukungannya terhadap inisiatif ini. Ia bahkan mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) untuk mengeluarkan regulasi nasional agar program serupa dapat diterapkan secara luas di seluruh Indonesia.
“Ini bukan hukuman fisik. Ini pembinaan karakter,” tegas Pigai dalam konferensi pers, Selasa (6/5). Menurutnya, pendekatan militer yang digunakan justru memperkuat nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter positif tanpa melanggar prinsip-prinsip HAM.
Pigai menambahkan bahwa sistem pendidikan seperti ini selaras dengan visi besar Indonesia Emas 2045, yakni mencetak generasi muda yang unggul dan mampu bersaing secara global.
“Yang diterapkan di Jawa Barat bisa menjadi role model nasional. Kami ingin memastikan semua tetap dalam koridor HAM, namun mendukung pendidikan karakter yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa program ini dirancang sebagai solusi terhadap persoalan sosial yang kian kompleks di kalangan remaja, mulai dari kecanduan game online, tawuran, konsumsi obat terlarang, hingga pergaulan bebas. Ia menjelaskan bahwa banyak pelajar di Jawa Barat kini memiliki pola hidup yang tidak sehat dan rentan terhadap pengaruh negatif media sosial dan lingkungan.
“Banyak anak tidur jam 4 pagi karena bermain game. Mereka jadi malas sekolah, ikut tawuran, dan bahkan mengonsumsi obat-obatan seperti eksimer yang dijual bebas dengan harga murah,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, pendekatan konvensional melalui bimbingan konseling sekolah maupun peran orang tua tidak lagi cukup untuk mengatasi permasalahan ini. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pendidikan bela negara di barak militer dinilai sebagai langkah jangka pendek yang efektif.
Dalam program ini, pelajar akan mengikuti rutinitas ketat mulai dari bangun pukul 4 pagi, salat subuh, olahraga, hingga mengikuti pelajaran formal dan kegiatan keagamaan. Gubernur Dedi memastikan bahwa proses pembelajaran tetap berlangsung sesuai kurikulum dan diawasi oleh tenaga pendidik yang kompeten.
Selain membangun mental dan kedisiplinan, program ini juga menargetkan pelepasan ketergantungan terhadap ponsel, kendaraan bermotor, minuman keras, dan zat berbahaya lainnya.
“Ini bukan hukuman, tapi program pembinaan karakter yang komprehensif. Kami ingin anak-anak tumbuh sebagai pribadi tangguh, sehat, dan bertanggung jawab,” jelas Dedi.
Program ini akan segera diimplementasikan dengan menggandeng TNI secara resmi. Jika terbukti efektif, besar kemungkinan pendekatan serupa akan diperluas ke provinsi lain di Indonesia.








