Koranindopos.com, Jakatta – Setelah beberapa waktu tanpa rilisan baru, Lyodra Ginting kembali menghadirkan karya berjudul “Pura Pura” yang dirilis pada 30 April 2026. Lagu ini langsung menempatkan isu kejujuran dalam hubungan sebagai titik utama cerita, berbeda dari sejumlah lagu sebelumnya yang lebih berfokus pada fase jatuh cinta.
“Pura Pura” ditulis oleh Andmesh Kamaleng dan mengangkat situasi ketika seseorang memilih menutup mata terhadap tanda-tanda kebohongan. Dalam liriknya, tokoh utama digambarkan tetap bertahan meski sudah merasakan ada yang tidak beres, hingga akhirnya kebenaran muncul dan mengubah segalanya.
Alih-alih membangun cerita dari sudut patah hati semata, lagu ini lebih menyoroti proses sebelum hubungan benar-benar runtuh. Ada fase ragu, menahan diri untuk tidak curiga, hingga keputusan untuk tetap percaya. Pendekatan ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan realitas hubungan sehari-hari.
Dari sisi produksi, aransemen lagu dibuat sederhana dengan dominasi piano dan string ringan. Pilihan ini memberi ruang pada vokal Lyodra yang menjadi fokus utama. Ia mempertahankan karakter vokalnya yang bersih dengan dinamika yang naik perlahan di bagian klimaks lagu.
Video musik “Pura Pura” juga mengikuti alur yang serupa dengan isi lagu. Cerita ditampilkan secara langsung tanpa banyak simbol, memperlihatkan hubungan yang awalnya terlihat baik-baik saja, lalu berubah ketika tanda-tanda kebohongan mulai muncul. Pendekatan visual ini memperjelas pesan yang ingin disampaikan tanpa banyak interpretasi tambahan.
Dalam pernyataannya, Lyodra menyebut lagu ini sebagai gambaran situasi yang sering terjadi, ketika seseorang sebenarnya sudah menyadari adanya masalah, namun memilih bertahan. Ia menilai kondisi tersebut kerap terjadi karena rasa percaya yang sudah terbangun sebelumnya.
Rilisan ini sekaligus memperlihatkan konsistensi Lyodra dalam memilih tema yang dekat dengan pengalaman pendengar. Dengan “Pura Pura”, ia tidak hanya menghadirkan lagu baru, tetapi juga memperluas cara bercerita, dari sekadar ungkapan perasaan menjadi narasi yang lebih runtut tentang dinamika hubungan. (BRG/Kul)










