koranindopos.com – Jakarta. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencapai level terendah terhadap dolar Singapura pada pertengahan April 2026. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor global, termasuk kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah serta arus keluar modal dari pasar keuangan domestik.
Pada 16 April 2026, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 13.500 per dolar Singapura. Kondisi ini menandai tekanan signifikan terhadap mata uang Indonesia, yang sebelumnya juga telah melemah sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan laporan The Straits Times, pelemahan rupiah menimbulkan kekhawatiran terhadap penurunan permintaan Indonesia atas berbagai jasa dari Singapura. Sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling berpotensi terdampak, mengingat banyak warga Indonesia memanfaatkan layanan medis di negara tersebut. Selain itu, ekspor Singapura ke Indonesia juga diperkirakan dapat melambat jika daya beli menurun.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa sepanjang 2025, rupiah telah melemah sekitar 9,3% terhadap dolar Singapura. Tren pelemahan ini berlanjut pada 2026 dengan penurunan tambahan sekitar 4%, memperlihatkan tekanan yang berkelanjutan terhadap stabilitas mata uang nasional.
Sementara itu, S&P Global Ratings menilai bahwa profil kredit Indonesia termasuk yang paling rentan terdampak jika konflik di Timur Tengah berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi tersebut.
Meski dikenal sebagai negara penghasil minyak, Indonesia masih bergantung pada impor energi. Akibatnya, lonjakan harga minyak global akan meningkatkan beban impor serta memperbesar anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM), yang pada akhirnya menekan fiskal dan nilai tukar.
Para analis menilai bahwa stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global, kebijakan moneter, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor di pasar keuangan domestik.(Dhil)










