<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seni dan Budaya &#8211; Indopos</title>
	<atom:link href="https://koranindopos.com/seni-dan-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://koranindopos.com</link>
	<description>Indopos Portal Berita yang menyajikan Berita-berita Aktual dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2026 12:41:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/06/cropped-b543b1ee-68df-4e38-b9c6-65b57c328bea-1-32x32.jpg</url>
	<title>Seni dan Budaya &#8211; Indopos</title>
	<link>https://koranindopos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Makam Sunan Ampel, Masjid Tua dan Kampung Arab Bertemu dalam Satu Kisah</title>
		<link>https://koranindopos.com/ketika-makam-sunan-ampel-masjid-tua-dan-kampung-arab-bertemu-dalam-satu-kisah/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/ketika-makam-sunan-ampel-masjid-tua-dan-kampung-arab-bertemu-dalam-satu-kisah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Doe]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2026 01:56:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Makam Sunan Ampel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=124812</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, SURABAYA — Suasana Kota Surabaya yang panas dan sibuk seakan tertinggal ketika kaki mulai memasuki kawasan Ampel. Lorong-lorongnya ramai oleh peziarah. Pedagang menawarkan pakaian muslim, kitab, parfum dan aneka oleh-oleh. Di antara kerumunan itu, aroma rempah dan makanan berpadu dengan lantunan doa dari kompleks Masjid Ampel. Di kawasan inilah sejarah Islam di Surabaya seperti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://Koranindopos.com" rel="nofollow noopener" target="_blank">Koranindopos.com</a>, SURABAYA</strong> — Suasana Kota Surabaya yang panas dan sibuk seakan tertinggal ketika kaki mulai memasuki kawasan Ampel. Lorong-lorongnya ramai oleh peziarah. Pedagang menawarkan pakaian muslim, kitab, parfum dan aneka oleh-oleh.</p>
<p>Di antara kerumunan itu, aroma rempah dan makanan berpadu dengan lantunan doa dari kompleks Masjid Ampel.</p>
<p>Di kawasan inilah sejarah Islam di Surabaya seperti menemukan rumahnya.</p>
<p>Makam Sunan Ampel, salah satu tokoh Wali Songo, berada di kompleks Masjid Ampel, Jalan Petukangan I, Kecamatan Semampir.</p>
<p>Setiap hari, kawasan ini menjadi tujuan ribuan peziarah dari berbagai daerah. Mereka datang dengan berbagai tujuan. Ada yang ingin berdoa, membaca Al-Qur&#8217;an, mengenang perjuangan Sunan Ampel, hingga sekadar menelusuri salah satu kawasan bersejarah di Kota Pahlawan.</p>
<p>Namun Ampel bukan hanya tentang makam. Ia adalah sebuah perjalanan.</p>
<p>Perjalanan yang membawa pengunjung dari ruang spiritual menuju lorong-lorong sejarah, dari masjid tua menuju pasar tradisional, hingga ke kehidupan masyarakat Kampung Arab yang telah menjadi bagian dari wajah Surabaya.</p>
<p><strong>Di Balik Nama Besar Sunan Ampel</strong></p>
<p>Sunan Ampel dikenal dengan nama asli Raden Ahmad Rahmatullah. Ia merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa.</p>
<p>Pada masanya, dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah. Pendidikan menjadi bagian penting dari strategi penyebaran ajaran Islam.</p>
<figure id="attachment_124826" aria-describedby="caption-attachment-124826" style="width: 263px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" wp-image-124826" src="https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075526_WhatsApp-199x300.jpg" alt="Screenshot 20260804 075526 WhatsApp - Ketika Makam Sunan Ampel, Masjid Tua dan Kampung Arab Bertemu dalam Satu Kisah" width="263" height="396" title="Ketika Makam Sunan Ampel, Masjid Tua dan Kampung Arab Bertemu dalam Satu Kisah 1" srcset="https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075526_WhatsApp-199x300.jpg 199w, https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075526_WhatsApp-678x1024.jpg 678w, https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075526_WhatsApp.jpg 720w" sizes="(max-width: 263px) 100vw, 263px" /><figcaption id="caption-attachment-124826" class="wp-caption-text">Gerbang ke makam Sunan Ampel Surabaya<br />Foto : koranindopos.com/Doedoe</figcaption></figure>
<p>Sunan Ampel dikenal sebagai ulama dan pendidik. Kawasan Ampel berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan dan dakwah Islam yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa.</p>
<p>Warisan itulah yang hingga kini masih melekat pada kawasan Ampel.</p>
<p>Nama Sunan Ampel tidak hanya terukir dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup dalam ingatan masyarakat yang datang berziarah.</p>
<p><strong>Makam Tanpa Kemegahan</strong></p>
<p>Di tengah ramainya kawasan Ampel, kompleks makam justru menghadirkan suasana yang lebih teduh.</p>
<p>Peziarah duduk dengan tenang. Sebagian membaca doa, sebagian lainnya mengaji. Tak banyak suara percakapan terdengar.</p>
<p>Makam Sunan Ampel sendiri tampak sederhana. Tidak ada cungkup besar yang menaunginya. Makamnya terbuka, seolah memperlihatkan kesederhanaan yang menjadi bagian dari kisah sang wali.</p>
<p>Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah bentuk nisannya. Nisan tersebut tersusun dalam empat tingkat dan pada bagian ujungnya memiliki bentuk menyerupai daun teratai.</p>
<p>Di sekitar makam Sunan Ampel terdapat pula makam sejumlah tokoh yang dikenal masyarakat, antara lain Mbah Sholeh dan Mbah Bolong atau Mbah Sonhaji.</p>
<p>Bagi para peziarah, makam-makam tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjalanan ketika berkunjung ke Ampel.</p>
<p><strong>Masjid yang Menyimpan Jejak Berabad-abad</strong></p>
<p>Beberapa langkah dari makam, berdiri Masjid Ampel. Masjid ini dipercaya dibangun pada 1421 dan menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah Sunan Ampel.</p>
<p>Usianya yang telah melewati berabad-abad membuat masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.</p>
<p>Namun Masjid Ampel bukan sekadar bangunan bersejarah yang dikunjungi wisatawan.</p>
<p>Ia tetap hidup.</p>
<p>Orang-orang datang untuk melaksanakan salat. Aktivitas keagamaan berlangsung sebagaimana masjid pada umumnya. Hanya saja, di tempat ini, setiap aktivitas seolah memiliki lapisan sejarah yang panjang.</p>
<p>Mereka yang datang untuk beribadah sekaligus berada di sebuah ruang yang telah menjadi saksi perjalanan Islam di Surabaya selama berabad-abad.</p>
<p>Kampung Arab dan Lorong yang Selalu Ramai Begitu meninggalkan kompleks masjid, suasana kembali berubah.</p>
<p>Lorong-lorong kawasan Ampel dipenuhi aktivitas perdagangan.</p>
<p>Kawasan ini dikenal sebagai Kampung Arab, salah satu kawasan yang memiliki karakter budaya Arab yang kuat di Surabaya.</p>
<p>Toko-toko berdiri rapat. Pakaian muslim dipajang di depan toko. Buku dan kitab agama tersusun di rak-rak. Parfum, makanan, rempah dan berbagai kebutuhan lainnya mudah ditemukan.</p>
<p>Di antara para peziarah, pedagang sibuk melayani pembeli.</p>
<p>Tidak ada batas tegas antara kawasan wisata religi dan kehidupan ekonomi masyarakat. Keduanya tumbuh berdampingan.</p>
<p>Pasar Ampel menjadi salah satu daya tarik yang membuat perjalanan ke kawasan ini semakin lengkap.</p>
<p>Setelah berziarah, pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong pasar, berburu oleh-oleh, mencicipi makanan, atau sekadar menikmati suasana Kampung Arab.</p>
<p>Lebih dari Sekadar Wisata Religi Kawasan Ampel memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan hanya dengan satu kata.</p>
<p>Menyebutnya sebagai tempat ziarah memang benar, tetapi belum cukup.</p>
<p>Ampel juga merupakan kawasan sejarah. Ia adalah ruang budaya. Ia menjadi pusat perdagangan. Dan bagi masyarakat Surabaya, Ampel merupakan bagian dari identitas kota.</p>
<p>Di tempat ini, sejarah tidak disimpan dalam ruang tertutup. Sejarah berjalan bersama manusia.</p>
<p>Ia hadir dalam doa para peziarah, dalam bangunan masjid, dalam makam, dalam percakapan pedagang, dalam aroma makanan, serta dalam lorong-lorong Kampung Arab yang terus dipenuhi aktivitas.</p>
<p>Itulah sebabnya Ampel selalu memiliki alasan untuk dikunjungi kembali.</p>
<p>Sejarah yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi</p>
<p>Kota Surabaya terus berubah. Gedung-gedung baru bermunculan. Jalan semakin padat. Teknologi dan gaya hidup masyarakat berkembang mengikuti zaman.</p>
<p>Tetapi di tengah perubahan itu, kawasan Ampel tetap mempertahankan identitasnya.</p>
<p>Makam Sunan Ampel masih diziarahi.</p>
<p>Masjid Ampel masih menjadi tempat ibadah. Pasar Ampel masih ramai.</p>
<p>Kampung Arab masih hidup dengan karakter budayanya.</p>
<p>Semuanya menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun dari gedung dan jalan, tetapi juga dari ingatan yang diwariskan lintas generasi.</p>
<p>Mengunjungi Ampel pada akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju makam seorang wali.</p>
<p>Ini adalah perjalanan untuk melihat bagaimana sebuah sejarah tetap hidup di tengah kota yang terus bergerak.</p>
<p>Dan ketika meninggalkan kawasan Ampel, mungkin yang tertinggal bukan hanya oleh-oleh dari pasar atau foto di depan masjid. Tetapi juga sebuah kesadaran sederhana:</p>
<p>bahwa di tengah modernitas Surabaya, ada sebuah kawasan yang masih menjaga cerita masa lalu agar tidak benar-benar hilang.</p>
<p>Ampel adalah salah satunya. ( doe)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/ketika-makam-sunan-ampel-masjid-tua-dan-kampung-arab-bertemu-dalam-satu-kisah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siropen Telasih: Dari Pabrik Kolonial hingga Menjadi Ikon Heritage Kota Lama Surabaya</title>
		<link>https://koranindopos.com/siropen-telasih-dari-pabrik-kolonial-hingga-menjadi-ikon-heritage-kota-lama-surabaya/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/siropen-telasih-dari-pabrik-kolonial-hingga-menjadi-ikon-heritage-kota-lama-surabaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Doe]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 01:32:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=124738</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, SURABAYA&#8211; Sirup Siropen Telasih bukan hanya menjadi bagian dari sejarah industri minuman di Surabaya, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang perubahan zaman hingga kini menjadi salah satu destinasi heritage di kawasan Kota Lama. Simak ulasan Doedoe wartawan koranindopos.com tentang sejarah pabrik sirup Siropen Telasih yang berdiri sejak 1923 ini. Lebih dari sekadar tempat produksi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Koranindopos.com, SURABAYA</strong>&#8211; Sirup Siropen Telasih bukan hanya menjadi bagian dari sejarah industri minuman di Surabaya, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang perubahan zaman hingga kini menjadi salah satu destinasi heritage di kawasan Kota Lama.</p>
<p><strong>Simak ulasan Doedoe wartawan koranindopos.com tentang sejarah pabrik sirup Siropen Telasih yang berdiri sejak 1923 ini.</strong></p>
<p>Lebih dari sekadar tempat produksi minuman, Siropen Telasih merupakan saksi perjalanan sejarah Surabaya sejak masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka. Bangunannya yang masih mempertahankan karakter arsitektur lama menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pencinta sejarah.</p>
<p>Pabrik bersejarah tersebut berada di Jalan Mliwis Nomor 5, kawasan Kota Lama Surabaya.</p>
<p>Sejarah Siropen Telasih bermula pada tahun 1923. Pabrik ini didirikan oleh dua pengusaha asal Belanda, J.C. van Drongelen dan Hellfach.</p>
<figure id="attachment_124740" aria-describedby="caption-attachment-124740" style="width: 198px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-124740" src="https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075538_WhatsApp-198x300.jpg" alt="Screenshot 20260804 075538 WhatsApp - Siropen Telasih: Dari Pabrik Kolonial hingga Menjadi Ikon Heritage Kota Lama Surabaya" width="198" height="300" title="Siropen Telasih: Dari Pabrik Kolonial hingga Menjadi Ikon Heritage Kota Lama Surabaya 2" srcset="https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075538_WhatsApp-198x300.jpg 198w, https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075538_WhatsApp-676x1024.jpg 676w, https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075538_WhatsApp.jpg 720w" sizes="(max-width: 198px) 100vw, 198px" /><figcaption id="caption-attachment-124740" class="wp-caption-text">Deretan botol sirup yang dipajang di display dengan berbagai varian rasa<br />Foto : Doedoe/koranindopos.com</figcaption></figure>
<p>Pada awal berdirinya, perusahaan tersebut menggunakan nama Limoenfabriek J.C. van Drongelen &amp; Hellfach. Sesuai namanya, pabrik ini memproduksi minuman limun dan sirup yang pada masa itu menjadi bagian dari perkembangan industri minuman di Hindia Belanda.</p>
<p>Salah satu produk yang kemudian dikenal luas adalah sirup bermerek Telasih.</p>
<p>Kehadiran pabrik tersebut menjadi bagian dari perkembangan industri pengolahan minuman di Surabaya yang ketika itu merupakan salah satu kota perdagangan penting di Hindia Belanda.</p>
<p>Tak hanya menghasilkan produk minuman, keberadaan pabrik ini juga menjadi gambaran bagaimana budaya dan teknologi industri Eropa mulai berkembang dan beradaptasi di kota-kota besar Indonesia pada masa kolonial.</p>
<p>Perjalanan Siropen Telasih tidak berhenti pada masa kolonial Belanda. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, pabrik ini mengalami perubahan pengelolaan.</p>
<p>Seperti banyak perusahaan dan fasilitas industri lainnya pada masa itu, pengelolaan pabrik mengalami peralihan. Nama dan kepemilikannya pun sempat berubah mengikuti situasi politik dan ekonomi pada masa pendudukan Jepang.</p>
<p>Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, aset dan pengelolaan perusahaan kemudian beralih ke tangan pemerintah Indonesia.</p>
<p>Dalam perkembangannya, pengelolaan Siropen Telasih berada di bawah PT Panca Wira Jatim, badan usaha milik daerah Jawa Timur.</p>
<p>Perjalanan panjang tersebut membuat Siropen Telasih bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sejarah yang kuat.</p>
<p>Bangunan Tua yang Menjadi Saksi Zaman salah satu daya tarik utama Siropen Telasih adalah bangunannya.</p>
<p>Meski telah melewati perjalanan lebih dari satu abad, bangunan pabrik masih mempertahankan karakter arsitektur klasiknya. Dinding dan struktur bangunan tua memberikan gambaran mengenai wajah kawasan industri Surabaya pada masa kolonial.</p>
<p>Kini, bangunan tersebut menjadi salah satu bangunan yang memiliki nilai cagar budaya di Kota Surabaya.</p>
<p>Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kota Lama, keberadaan Siropen Telasih menawarkan pengalaman berbeda. Di sini, sejarah tidak hanya dapat dibaca melalui buku atau papan informasi, tetapi juga dapat dilihat melalui bangunan yang masih berdiri dan aktivitas produksi yang tetap berlangsung.</p>
<p>Tradisi Sirup yang Tetap Bertahan, menariknya, usia yang panjang tidak membuat Siropen Telasih berhenti berproduksi.</p>
<p>Dengan nama Siropen Heritage atau Siropen Telasih, pabrik ini masih menghasilkan berbagai varian sirup dengan cita rasa klasik.</p>
<p>Beberapa produk yang dikenal antara lain Siropen Premium, Gourmet, dan Telasih dengan berbagai pilihan rasa.</p>
<p>Keberlangsungan produksi tersebut menjadi bagian penting dari cerita Siropen Telasih. Di tengah perubahan selera konsumen dan munculnya berbagai merek minuman modern, tradisi membuat sirup dengan karakter klasik tetap dipertahankan.</p>
<p>Bagi sebagian masyarakat Surabaya, Siropen Telasih bahkan bukan sekadar produk minuman. Rasanya menjadi bagian dari memori masa lalu dan perjalanan antargenerasi.</p>
<p><strong>Dari Pabrik Tua Menjadi Destinasi Heritage</strong></p>
<p>Perkembangan kawasan Kota Lama Surabaya turut memberikan ruang baru bagi Siropen Telasih untuk dikenal oleh generasi yang lebih muda.</p>
<p>Kawasan Kota Lama kini semakin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati suasana kota tua sekaligus menelusuri jejak sejarah Surabaya. Siropen Telasih menjadi salah satu titik yang menarik untuk dikunjungi karena memiliki kombinasi antara sejarah, arsitektur, dan produk lokal.</p>
<p>Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan tua, tetapi juga mencari produk sirup sebagai oleh-oleh khas Surabaya.</p>
<p>Di sinilah nilai heritage Siropen Telasih terasa kuat. Sebuah industri yang lahir pada masa kolonial mampu bertahan melewati pergantian zaman dan tetap hadir dalam kehidupan masyarakat hingga hari ini.</p>
<p><strong>Manisnya Sejarah yang Tak Lekang Zaman</strong></p>
<p>Perjalanan Siropen Telasih selama lebih dari 100 tahun merupakan cerita tentang ketahanan sebuah usaha sekaligus perubahan sebuah kota.</p>
<p>Dari sebuah pabrik bernama Limoenfabriek J.C. van Drongelen &amp; Hellfach pada 1923, melewati masa pendudukan Jepang, kemudian memasuki era Indonesia merdeka, hingga kini dikenal sebagai Siropen Heritage, perjalanan panjang itu menjadi bagian dari sejarah industri Surabaya.</p>
<p>Bangunannya menjadi saksi bisu perubahan zaman, sementara produk sirupnya menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini.</p>
<p>Di tengah revitalisasi Kota Lama Surabaya, Siropen Telasih mengingatkan bahwa warisan kota bukan hanya berupa gedung-gedung tua. Ada pula tradisi, produk, cerita, dan ingatan kolektif yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Siropen Telasih adalah sepotong sejarah Surabaya yang dapat dinikmati bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan cita rasa. (doe)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/siropen-telasih-dari-pabrik-kolonial-hingga-menjadi-ikon-heritage-kota-lama-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Kota Lama Surabaya: Menapak Jejak Sejarah, Perdagangan, dan Keberagaman</title>
		<link>https://koranindopos.com/menyusuri-kota-lama-surabaya-menapak-jejak-sejarah-perdagangan-dan-keberagaman/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/menyusuri-kota-lama-surabaya-menapak-jejak-sejarah-perdagangan-dan-keberagaman/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Doe]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2026 01:17:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=124635</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, SURABAYA — Jika ingin melihat bagaimana sebuah kota tumbuh dari pelabuhan, perdagangan, perjumpaan berbagai bangsa hingga menjadi salah satu kota penting di Indonesia, Kota Lama Surabaya adalah salah satu tempat yang menarik untuk disusuri. Di Kota Lama Surabaya, setiap sudut memiliki cerita. Dan untuk mendengarnya, terkadang kita hanya perlu berjalan lebih pelan. berikut laporan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Koranindopos.com, SURABAYA</strong> — Jika ingin melihat bagaimana sebuah kota tumbuh dari pelabuhan, perdagangan, perjumpaan berbagai bangsa hingga menjadi salah satu kota penting di Indonesia, Kota Lama Surabaya adalah salah satu tempat yang menarik untuk disusuri.</p>
<p><strong>Di Kota Lama Surabaya, setiap sudut memiliki cerita. Dan untuk mendengarnya, terkadang kita hanya perlu berjalan lebih pelan. berikut laporan Doedoe wartawan  koranindopos.com saat menyusuri setiap sudut Kota Lama Surabaya.</strong></p>
<figure id="attachment_124637" aria-describedby="caption-attachment-124637" style="width: 169px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-124637" src="https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075447_WhatsApp-169x300.jpg" alt="Screenshot 20260804 075447 WhatsApp - Menyusuri Kota Lama Surabaya: Menapak Jejak Sejarah, Perdagangan, dan Keberagaman" width="169" height="300" title="Menyusuri Kota Lama Surabaya: Menapak Jejak Sejarah, Perdagangan, dan Keberagaman 3" srcset="https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075447_WhatsApp-169x300.jpg 169w, https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075447_WhatsApp-577x1024.jpg 577w, https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot_20260804_075447_WhatsApp.jpg 715w" sizes="(max-width: 169px) 100vw, 169px" /><figcaption id="caption-attachment-124637" class="wp-caption-text">Monumen Revitalisasi Kawasan Kota Lama Surabaya<br />Foto : Doedoe/Koranindopos.com</figcaption></figure>
<p>Di kawasan ini, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku. Ia hadir melalui bangunan-bangunan tua, jalan yang pernah menjadi jalur perdagangan, kawasan permukiman berbagai etnis, hingga tempat-tempat yang menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.</p>
<p>Kini, wajah Kota Lama Surabaya semakin hidup setelah pemerintah kota melakukan revitalisasi kawasan heritage. Berpusat di kawasan Jalan Gelatik dan jalan  Rajawali membentang hingga kawasan Pecinan, Arab, serta kawasan niaga di sekitar Kalimas, Kota Lama menawarkan pengalaman perjalanan menembus lintasan waktu.</p>
<p>Sejarah Surabaya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Kali Mas. Sejak berabad-abad lalu, kawasan muara sungai ini memiliki posisi strategis sebagai jalur perdagangan dan pintu masuk menuju wilayah pedalaman.</p>
<p>Posisi tersebut kemudian menjadikan Surabaya berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Ketika pengaruh kolonial semakin kuat, kawasan kota lama tumbuh menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas.</p>
<p>Pedagang dan penduduk dari berbagai latar belakang—Tionghoa, Arab, Melayu, Jawa, India, hingga Eropa—berinteraksi dalam aktivitas perdagangan dan kehidupan sehari-hari. Jejak keberagaman tersebut hingga kini masih dapat dirasakan melalui karakter kawasan dan bangunan yang tersisa.</p>
<p>Karena itu, Kota Lama sesungguhnya bukan hanya kumpulan bangunan tua. Ia merupakan rekaman perjalanan Surabaya sebagai kota multikultural.</p>
<p>Untuk memahami Kota Lama Surabaya, perjalanan dapat dilakukan dengan mengenali karakter masing-masing kawasan.</p>
<p>Menurut berbagai literasi yang ada, Pemerintah Kota Surabaya saat ini membagi Kota Lama ke dalam empat zona utama, yaitu <strong>Zona Eropa, Zona Pecinan, Zona Arab, dan Zona Melayu</strong>. Keempatnya memiliki karakter sejarah, arsitektur, serta kehidupan masyarakat yang berbeda, tetapi saling terhubung dalam satu perjalanan sejarah Kota Surabaya.</p>
<p>Di kawasan Jalan Gelatik hingga jalan Rajawali, nuansa Eropa dan kolonial terasa paling kuat. Bangunan-bangunan besar dengan arsitektur kolonial menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat kegiatan ekonomi dan administrasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda.</p>
<p>Sejumlah bangunan bersejarah dapat ditemukan di sekitar kawasan ini, antara lain Pabrik Limoen dan Sirup  &#8220;Siropen&#8221; Telasih. Gedung  Internatio, Gedung Cerutu, De Javasche Bank, Museum Hoofdbureau, hingga kawasan Jembatan Merah.</p>
<p>Pemerintah Kota Surabaya melakukan revitalisasi kawasan tersebut dengan menata jalan, utilitas, ruang publik, serta elemen visual yang memperkuat karakter Eropa. Penataan itu diharapkan membuat kawasan tidak hanya menarik pada siang hari, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup hingga malam.</p>
<p>Beranjak ke Kembang Jepun, suasana berubah. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan masyarakat Tionghoa di Surabaya.</p>
<p>Koridor Kya-Kya Kembang Jepun menjadi salah satu titik yang menarik untuk menikmati perpaduan sejarah, budaya dan kuliner. Deretan bangunan dan aktivitas perdagangan mengingatkan bahwa kawasan Pecinan merupakan bagian penting dari perkembangan ekonomi Surabaya.</p>
<p>Revitalisasi Kembang Jepun juga diarahkan untuk menghidupkan kembali kawasan sebagai ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi. Pemerintah kota menata kawasan ini sekaligus berupaya mempertahankan identitas sejarahnya.</p>
<p>Tidak jauh dari kawasan perdagangan, perjalanan sejarah membawa wisatawan menuju Ampel.</p>
<p>Kawasan ini memiliki karakter yang berbeda karena kuat dengan tradisi Islam dan aktivitas perdagangan masyarakat keturunan Arab. Masjid dan kawasan religi Sunan Ampel menjadi salah satu magnet utama.</p>
<p>Namun, Ampel bukan hanya tentang wisata religi. Gang-gang, toko, kuliner, serta aktivitas perdagangan menciptakan suasana khas yang telah berkembang selama berabad-abad.</p>
<p>Pemerintah Kota Surabaya juga melakukan penataan kawasan Ampel dengan tujuan memperkuat identitasnya sebagai kawasan wisata religi. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah menghadirkan Sentra Wisata Kuliner Serambi Ampel sebagai bagian dari penataan kawasan.</p>
<p>Di balik tiga kawasan yang lebih populer, terdapat pula Zona Melayu yang menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Lama Surabaya.</p>
<p>Keberadaan berbagai komunitas di kawasan kota lama menunjukkan bahwa perkembangan Surabaya tidak dibentuk oleh satu kelompok saja. Interaksi berbagai etnis dan budaya ikut membangun karakter kota.</p>
<p>Karena itu, perjalanan Kota Lama sebaiknya tidak hanya berhenti pada bangunan kolonial atau kawasan Pecinan dan Arab, tetapi juga melihat bagaimana berbagai komunitas hidup berdampingan dan membentuk identitas Surabaya.</p>
<p>Salah satu daya tarik terbesar Kota Lama adalah bangunan-bangunan bersejarahnya.</p>
<p><strong>De Javasche Bank</strong>, misalnya, merupakan salah satu bangunan penting peninggalan masa kolonial yang kini menjadi museum. Arsitekturnya memberikan gambaran mengenai bagaimana lembaga keuangan pada masa Hindia Belanda beroperasi.</p>
<p>Kemudian ada <strong>Gedung Internatio</strong>, yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.</p>
<p>Tak jauh dari sana terdapat <strong>Gedung Cerutu</strong>, salah satu bangunan yang memiliki bentuk arsitektur khas dan menjadi penanda kawasan Jalan Rajawali.</p>
<p>Ada pula Jembatan Merah yang memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo. Kawasan di sekitar jembatan ini menjadi bagian dari rangkaian peristiwa heroik Surabaya pada 1945.</p>
<p>Dengan demikian, berkeliling Kota Lama bukan sekadar menikmati keindahan arsitektur. Setiap bangunan memiliki cerita yang membuat perjalanan terasa seperti membuka halaman demi halaman sejarah.</p>
<p>Revitalisasi Kota Lama menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembalikan kawasan bersejarah tersebut sebagai ruang publik yang aktif.</p>
<p>Penataan tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga jalan, pedestrian, utilitas, ruang terbuka, fasilitas wisata hingga aktivitas ekonomi masyarakat.</p>
<p>Pada 2024, Zona Eropa Kota Lama mulai diperkenalkan kembali sebagai kawasan wisata heritage. Pemerintah kota juga menggandeng komunitas untuk menghadirkan berbagai paket wisata, termasuk walking tour, penyewaan busana bergaya Eropa, sepeda listrik, hingga tur menggunakan mobil Jeep kuno.</p>
<p>Kawasan ini pun tidak diarahkan menjadi museum raksasa yang hanya bisa dilihat dari balik pagar. Sebaliknya, Kota Lama dihidupkan sebagai ruang tempat masyarakat dapat berjalan kaki, bersepeda, menikmati kuliner, berfoto, mengikuti tur sejarah, sekaligus belajar mengenai masa lalu Surabaya.</p>
<p>Ada satu hal yang membuat Kota Lama Surabaya berbeda. Kawasan ini tidak hanya menjual romantisme bangunan kolonial atau foto berlatar gedung tua. Di balik arsitekturnya terdapat cerita mengenai perdagangan, migrasi, pertemuan berbagai budaya, konflik, perjuangan, dan kehidupan masyarakat yang terus berkembang.</p>
<p>Kota Lama adalah gambaran bagaimana Surabaya dibentuk oleh keberagaman.</p>
<p>Di satu sisi terdapat bangunan bergaya Eropa. Di sisi lain ada Pecinan dengan tradisi perdagangan, kawasan Arab dengan kehidupan religi yang kuat, serta komunitas lain yang ikut membentuk wajah kota.</p>
<p>Revitalisasi kawasan ini pada akhirnya bukan hanya persoalan mempercantik kota. Lebih dari itu, ia merupakan upaya menjaga ingatan kolektif agar sejarah tidak hilang ditelan perkembangan zaman.</p>
<p>Cara terbaik menikmati Kota Lama mungkin bukan dengan terburu-buru mengejar banyak tempat, melainkan dengan berjalan kaki dan memperhatikan detail.</p>
<p>Mulailah dari kawasan Jalan Rajawali, melihat bangunan-bangunan kolonial, kemudian bergerak menuju Jembatan Merah. Dari sana perjalanan dapat dilanjutkan ke Kembang Jepun untuk menikmati suasana Pecinan dan kuliner, kemudian menuju kawasan Ampel untuk merasakan atmosfer wisata religi dan perdagangan yang khas.</p>
<p>Pemerintah Kota Surabaya juga mengembangkan konektivitas antarkawasan agar zona-zona Kota Lama dapat menjadi satu pengalaman wisata yang terintegrasi. Konsep pengembangan tersebut mencakup jaringan pejalan kaki, kendaraan tidak bermotor, serta konektivitas antarkawasan.</p>
<p>Pada akhirnya, Kota Lama Surabaya bukanlah perjalanan untuk sekadar melihat masa lalu. Ia adalah perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah kota dibentuk oleh pertemuan manusia, perdagangan, budaya dan sejarah. (doe)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/menyusuri-kota-lama-surabaya-menapak-jejak-sejarah-perdagangan-dan-keberagaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>80 Jejak Asrul Sani Tersimpan di Perpusnas, Dari Buku hingga Rekaman Audio</title>
		<link>https://koranindopos.com/80-jejak-asrul-sani-tersimpan-di-perpusnas-dari-buku-hingga-rekaman-audio/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/80-jejak-asrul-sani-tersimpan-di-perpusnas-dari-buku-hingga-rekaman-audio/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Akula]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 13:11:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Asrul Sani]]></category>
		<category><![CDATA[Perpusnas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=120795</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, Jakarta &#8211; Nama Asrul Sani kembali menjadi perhatian publik. Lebih dari satu abad setelah kelahirannya, karya-karya tokoh sastra dan perfilman Indonesia itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Dalam peringatan Seabad Setahun Asrul Sani yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Perpusnas mengungkapkan bahwa lembaga tersebut menyimpan sedikitnya 80 koleksi yang berkaitan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Koranindopos.com, Jakarta &#8211;</strong> Nama Asrul Sani kembali menjadi perhatian publik. Lebih dari satu abad setelah kelahirannya, karya-karya tokoh sastra dan perfilman Indonesia itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).</p>
<p>Dalam peringatan Seabad Setahun Asrul Sani yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Perpusnas mengungkapkan bahwa lembaga tersebut menyimpan sedikitnya 80 koleksi yang berkaitan dengan sosok penyair, penulis skenario, sekaligus budayawan tersebut.</p>
<p>Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan puluhan koleksi itu menjadi bukti bahwa pemikiran dan karya Asrul Sani masih dapat diakses serta dipelajari oleh masyarakat hingga sekarang.</p>
<p>“Perpusnas memiliki karya-karya Asrul Sani. Dalam catatan saya, yang bisa kita temukan sementara ini terdeteksi ada 80 judul,” kata Aminudin.</p>
<p>Koleksi tersebut terdiri atas 31 judul monograf, 16 majalah, tiga koleksi surat kabar, tiga koleksi foto, serta 27 koleksi audio yang mendokumentasikan perjalanan intelektual dan kreativitas Asrul Sani.</p>
<p>Menurut Aminudin, pelestarian karya para tokoh bangsa merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya literasi. Karena itu, Perpusnas terus berupaya menghadirkan bahan bacaan yang relevan sekaligus memperkenalkan kembali karya sastra kepada generasi baru.</p>
<p>Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan karya-karya klasik dalam format yang lebih dekat dengan pembaca masa kini. Sejumlah karya sastra bahkan telah diadaptasi menjadi komik maupun cerita digital agar lebih mudah dinikmati.</p>
<p>“Ketika kita bicara tentang literasi, ini adalah bicara tentang pengembangan kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.</p>
<p>Peringatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta menilai Asrul Sani merupakan figur penting yang memberi pengaruh besar dalam perkembangan sastra, perfilman, dan pemikiran kebudayaan Indonesia.</p>
<p>Sebagai penyair Angkatan &#8217;45, Asrul Sani dikenal menghadirkan tema kemerdekaan dan kemanusiaan dalam berbagai karyanya. Sementara di dunia perfilman, sejumlah skenario yang ditulisnya dianggap ikut membentuk sejarah sinema nasional.</p>
<p>Bambang mencontohkan film &#8220;Naga Bonar&#8221; sebagai salah satu karya yang berhasil memadukan kisah perjuangan bangsa dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat.</p>
<p>“Melalui karya-karyanya, beliau menunjukkan bahwa film Indonesia dapat berakar kuat pada identitas bangsa sekaligus memiliki kualitas artistik yang sangat tinggi,” katanya.</p>
<p>Bagi keluarga, peringatan ini memiliki makna yang lebih personal. Istri Asrul Sani, Mutiara Sani Sarumpaet, mengatakan suaminya bukan hanya dikenal sebagai sastrawan dan sineas, tetapi juga sosok yang menjadi sahabat sekaligus guru kehidupan.</p>
<p>“Seabad setahun ini bukan sekadar peringatan angka. Tetapi ajakan untuk membaca, memahami dan menghidupkan kembali semangat yang diwariskan, yakni semangat berpikir kritis, keberanian berkarya serta komitmen terhadap nilai kemanusiaan dan kebangsaan,” ujar Mutiara.</p>
<p>Rangkaian acara turut diisi pembukaan pameran bertajuk “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” yang berlangsung hingga 17 Juni 2026 di Ruang Pameran Lantai 4 Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Perpusnas. Beragam arsip, dokumentasi, karya, serta perjalanan hidup Asrul Sani dipamerkan kepada publik.</p>
<p>Selain itu, Dialog Budaya juga menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi seperti Jimly Asshiddiqie, Riris K. Toha-Sarumpaet, Eros Djarot, S.M. Gietty Tambunan, dan Fauzan Zidni untuk membahas pengaruh pemikiran serta kontribusi Asrul Sani bagi sastra, film, dan kebudayaan Indonesia. (BRG/Kul)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/80-jejak-asrul-sani-tersimpan-di-perpusnas-dari-buku-hingga-rekaman-audio/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pergelaran Amal GITA CITRA CITA Satukan Seni dan Kepedulian untuk Anak Pejuang Kanker</title>
		<link>https://koranindopos.com/pergelaran-amal-gita-citra-cita-satukan-seni-dan-kepedulian-untuk-anak-pejuang-kanker/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/pergelaran-amal-gita-citra-cita-satukan-seni-dan-kepedulian-untuk-anak-pejuang-kanker/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Hana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 00:31:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[GITA CITRA CITA]]></category>
		<category><![CDATA[Pergelaran Amal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=119570</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com , JAKARTA — Panggung The Ballroom Djakarta Theatre menjadi ruang pertemuan antara seni, empati, dan aksi kemanusiaan melalui pergelaran amal GITA CITRA CITA yang digelar untuk mendukung program Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Kegiatan fundraising yang diprakarsai Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung itu menghadirkan 250 penampil lintas generasi dan profesi dalam 10 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2></h2>
<p><a href="http://Koranindopos.com" rel="nofollow noopener" target="_blank"><strong>Koranindopos.com</strong></a> , <strong>JAKARTA</strong> — Panggung The Ballroom Djakarta Theatre menjadi ruang pertemuan antara seni, empati, dan aksi kemanusiaan melalui pergelaran amal GITA CITRA CITA yang digelar untuk mendukung program Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).</p>
<p>Kegiatan fundraising yang diprakarsai Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung itu menghadirkan 250 penampil lintas generasi dan profesi dalam 10 babak musikal yang mengangkat kisah perjuangan, cinta, dan harapan bagi anak-anak pejuang kanker.</p>
<p>Pergelaran tersebut dihadiri tokoh masyarakat, filantropis, mitra, serta publik yang mendukung gerakan sosial untuk membantu anak-anak penderita kanker di Indonesia.</p>
<p>Mengusung tema besar tentang harapan yang dapat dinyalakan bersama, GITA CITRA CITA mengajak masyarakat melihat kanker anak bukan hanya sebagai isu kesehatan, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan gotong royong bersama.</p>
<p>Ketua YKAKI, Ira Soelistyo, mengatakan malam tersebut menjadi bukti bahwa solidaritas dapat menjadi kekuatan nyata bagi anak-anak dan keluarga yang tengah berjuang melawan kanker.</p>
<p>“Malam ini bukan hanya tentang sebuah pergelaran, tetapi tentang ribuan doa, kepedulian, dan harapan yang dipersatukan. Setiap dukungan yang hadir membantu anak-anak pejuang kanker merasa tidak berjuang sendirian. Ini adalah tentang kehidupan, martabat, dan masa depan mereka,” ujar Ira.</p>
<p>Ia menjelaskan, dana yang dihimpun melalui kegiatan tersebut akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan layanan YKAKI, mulai dari pendampingan keluarga, rumah singgah, hingga dukungan bagi anak-anak selama menjalani pengobatan.</p>
<p>Sementara itu, President Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung, Martha Haliman, mengatakan pergelaran ini menjadi wujud kolaborasi dan semangat pelayanan sosial melalui seni.</p>
<p>“Kami percaya kepedulian menjadi lebih bermakna ketika diwujudkan bersama. GITA CITRA CITA adalah panggung solidaritas, tempat seni menjadi medium untuk berbagi harapan dan mengajak lebih banyak orang terlibat membantu anak-anak pejuang kanker,” katanya.</p>
<p>Konsep artistik pertunjukan dirancang untuk menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton melalui perpaduan puisi, paduan suara, kolaborasi lintas komunitas, hingga grand finale yang menggambarkan perjalanan dari perjuangan menuju harapan.</p>
<p>Pencipta karya kreatif GITA CITRA CITA, Poppy Hayono Isman, mengatakan seluruh pertunjukan dirancang bukan sekadar menghibur, tetapi juga menyentuh dan menggerakkan kepedulian publik.</p>
<p>“Kami ingin setiap babak malam ini menjadi pengalaman batin, bahwa musik bisa menyuarakan empati, dan seni bisa mengajak orang mengambil bagian dalam perubahan. Jika malam ini hati banyak orang tergerak untuk peduli, maka karya ini menemukan maknanya,” ujarnya.</p>
<p>Manajer Produksi Pergelaran, Budi Widiastuti Suharto, menambahkan bahwa seluruh elemen artistik disusun untuk memperkuat pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan.</p>
<p>Pergelaran amal ini juga menghadirkan sejumlah tokoh dan musisi, di antaranya Aru Wisaksono Sudoyo, Ario Djatmiko, Eddy Tobing, Hayono Isman, dan Marlinda Adam, bersama komunitas paduan suara, survivor kanker anak, relawan, dan para pendukung kegiatan sosial.</p>
<p>Seluruh hasil penggalangan dana dari kegiatan tersebut akan disalurkan untuk mendukung program-program YKAKI bagi anak-anak pejuang kanker dan keluarga mereka.</p>
<p>“Malam ini membuktikan bahwa harapan bisa dinyalakan ketika banyak tangan bergandengan. Ini bukan akhir dari sebuah pertunjukan, tetapi penguatan dari sebuah gerakan,” tutup Ira Soelistyo. (Ana)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/pergelaran-amal-gita-citra-cita-satukan-seni-dan-kepedulian-untuk-anak-pejuang-kanker/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Makna Budaya Lebaran Idulfitri di Indonesia</title>
		<link>https://koranindopos.com/makna-budaya-lebaran-idulfitri-di-indonesia/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/makna-budaya-lebaran-idulfitri-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Hana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2026 04:57:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=115837</guid>

					<description><![CDATA[&#160; &#160; koranindopos.com &#8211; Jakarta. Lebaran Idulfitri bukan sekadar perayaan keagamaan bagi umat Islam, tetapi juga momentum budaya yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, Idulfitri hadir sebagai simbol kemenangan, penyucian diri, sekaligus ajang mempererat hubungan sosial. 1. Kembali ke Fitrah: Makna Spiritual dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://koranindopos.com"><strong>koranindopos.com</strong></a> &#8211; <strong>Jakarta</strong>. Lebaran Idulfitri bukan sekadar perayaan keagamaan bagi umat Islam, tetapi juga momentum budaya yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, Idulfitri hadir sebagai simbol kemenangan, penyucian diri, sekaligus ajang mempererat hubungan sosial.</p>
<h3>1. Kembali ke Fitrah: Makna Spiritual dan Sosial</h3>
<p>Secara harfiah, Idulfitri berarti kembali ke keadaan suci. Dalam konteks budaya Indonesia, makna ini tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga diwujudkan dalam hubungan antarmanusia. Tradisi saling memaafkan atau <em>halal bihalal</em> menjadi inti perayaan, di mana setiap orang berusaha membersihkan hati dari kesalahan dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.</p>
<h3>2. Halal Bihalal: Perekat Silaturahmi</h3>
<p>Salah satu tradisi khas Indonesia adalah halal bihalal, yaitu kegiatan berkumpul bersama keluarga, tetangga, hingga rekan kerja untuk saling bermaafan. Tradisi ini tidak hanya dilakukan di rumah, tetapi juga di lingkungan kantor, sekolah, hingga instansi pemerintahan. Halal bihalal mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan harmoni sosial yang menjadi ciri khas budaya Indonesia.</p>
<h3>3. Mudik: Pulang ke Akar Kehidupan</h3>
<p>Mudik atau pulang kampung menjadi fenomena sosial terbesar saat Lebaran. Jutaan orang melakukan perjalanan dari kota ke desa untuk berkumpul bersama keluarga. Tradisi ini memiliki makna mendalam, yakni kembali ke asal-usul, menghormati orang tua, serta memperkuat ikatan keluarga lintas generasi.</p>
<h3>4. Kuliner Lebaran: Simbol Kebersamaan</h3>
<p>Hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan kue kering menjadi bagian tak terpisahkan dari Lebaran. Ketupat, misalnya, sering dimaknai sebagai simbol pengakuan kesalahan dan harapan akan kesucian. Momen makan bersama keluarga juga menjadi sarana mempererat kehangatan dan kebersamaan.</p>
<h3>5. Takbiran: Ekspresi Sukacita Kolektif</h3>
<p>Malam sebelum Idulfitri diwarnai dengan takbiran, yaitu lantunan takbir yang menggema di masjid maupun di jalanan. Di berbagai daerah, takbiran sering dirayakan dengan pawai obor, bedug, hingga arak-arakan. Tradisi ini menjadi bentuk ekspresi kebahagiaan sekaligus syiar keagamaan yang menyatukan masyarakat.</p>
<h3>6. Lebaran sebagai Identitas Budaya</h3>
<p>Lebaran di Indonesia memiliki warna yang khas karena berpadu dengan nilai lokal dan tradisi daerah. Perayaan ini tidak hanya menjadi milik umat Islam, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat luas sebagai bagian dari budaya nasional. Nilai toleransi, kebersamaan, dan saling menghormati semakin terasa, terutama di tengah keberagaman Indonesia.</p>
<p>Lebaran Idulfitri adalah perpaduan antara nilai spiritual dan budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia. Lebih dari sekadar hari raya, Lebaran menjadi momen refleksi, rekonsiliasi, dan penguatan ikatan sosial. Dalam suasana yang penuh kebahagiaan, Lebaran mengingatkan pentingnya menjaga harmoni, mempererat persaudaraan, dan membangun kehidupan bersama yang lebih baik. (ana)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/makna-budaya-lebaran-idulfitri-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kasanga Festival Caka 1948 di Denpasar Berakhir Semarak</title>
		<link>https://koranindopos.com/kasanga-festival-caka-1948-di-denpasar-berakhir-semarak/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/kasanga-festival-caka-1948-di-denpasar-berakhir-semarak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Memoarto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 09:18:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=115148</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, BALI-Pemerintah Kota Denpasar menyelenggarakan Kasanga Festival Caka 1948. Tahun ini, perhelatan tersebut dilangsungkan di kawasan Catus Pata Patung Catur Muka, Kota Denpasar, Bali pada Jumat (6/3/2026) lalu. Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, festival tahunan tersebut berlangsung hingga Minggu (8/3/2026). Itu diawali dengan pemukulan kulkul oleh wali kota bersama Wakil Wali [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://Koranindopos.com" rel="nofollow noopener" target="_blank">Koranindopos.com</a>, BALI-Pemerintah Kota Denpasar menyelenggarakan Kasanga Festival Caka 1948. Tahun ini, perhelatan tersebut dilangsungkan di kawasan Catus Pata Patung Catur Muka, Kota Denpasar, Bali pada Jumat (6/3/2026) lalu.</p>
<p>Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, festival tahunan tersebut berlangsung hingga Minggu (8/3/2026). Itu diawali dengan pemukulan kulkul oleh wali kota bersama Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, dan jajaran Forkopimda Kota Denpasar.</p>
<p>Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan pawai 16 ogoh-ogoh terbaik karya Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Kota Denpasar. Karya-karya tersebut merupakan hasil seleksi dari total 223 peserta STT yang sebelumnya mengikuti proses penjurian.</p>
<p>I Gusti Ngurah Jaya Negara menjelaskan, Kasanga Festival menjadi wahana kreativitas tanpa batas Yowana Kota Denpasar yang bernafaskan Vasudhaiva Kutumbakam. Menurutnya, festival itu juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai budaya dengan tetap berpedoman pada konsep Satyam Siwam Sundharam yang mengedepankan etika, logika, dan estetika.</p>
<p>”Kegiatan ini memberikan ruang bagi para kreator ogoh-ogoh untuk berkompetisi secara produktif. Ke depan, Kasanga Festival diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pembangunan Kota Denpasar yang berbasis budaya menuju Denpasar Maju,” ujar Jaya Negara.</p>
<p>Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar AA Made Angga Harta Yana menjelaskan bahwa Kasanga Festival tetap mengusung semangat Vasudhaiva Kutumbakam. Itu bertujuan untuk mempersatukan berbagai kreativitas masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan perayaan Hari Suci Nyepi.</p>
<p>”Selain menampilkan 16 ogoh-ogoh terbaik, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan lain. Seperti pameran 10 ogoh-ogoh dari TK/PAUD, 43 ogoh-ogoh mini, lomba sketsa yang diikuti 33 peserta, lomba tapel dengan 35 peserta, lomba barong dengan 16 peserta, lomba baleganjur ogoh-ogoh yang diikuti enam kelompok, serta sebanyak 43 UMKM yang dapat menjadi pilihan warga kota untuk berbelanja dan kulineran,” bebernya. <strong>(rls/why/mmr)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/kasanga-festival-caka-1948-di-denpasar-berakhir-semarak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cungkup Prasasti Batutulis Diresmikan, Upaya Merawat Jejak Sejarah Sunda di Kota Bogor</title>
		<link>https://koranindopos.com/cungkup-prasasti-batutulis-diresmikan-upaya-merawat-jejak-sejarah-sunda-di-kota-bogor/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/cungkup-prasasti-batutulis-diresmikan-upaya-merawat-jejak-sejarah-sunda-di-kota-bogor/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Akula]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 03:42:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Batutulis]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Cungkup]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=111176</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, Jakarta &#8211; Upaya pelestarian warisan sejarah di Kota Bogor kembali mendapat perhatian. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah meresmikan bangunan pelindung (cungkup) Prasasti Batutulis, sebuah situs cagar budaya penting peninggalan Kerajaan Sunda yang selama ini menjadi bagian dari jejak peradaban Tanah Pasundan. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di kawasan Batutulis, Bogor, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Koranindopos.com, Jakarta &#8211;</strong> Upaya pelestarian warisan sejarah di Kota Bogor kembali mendapat perhatian. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah meresmikan bangunan pelindung (cungkup) Prasasti Batutulis, sebuah situs cagar budaya penting peninggalan Kerajaan Sunda yang selama ini menjadi bagian dari jejak peradaban Tanah Pasundan.</p>
<p>Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di kawasan Batutulis, Bogor, Selasa (31/12/2025). Kehadiran cungkup tersebut dimaksudkan untuk menjaga kondisi prasasti sekaligus menata kawasan cagar budaya agar tetap selaras dengan karakter sejarah dan lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Dalam sambutannya, Fadli Zon menyampaikan bahwa Jawa Barat, khususnya Bogor, menyimpan kekayaan tinggalan budaya yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang peradaban Nusantara. Menurutnya, pelestarian situs-situs semacam ini tidak hanya soal perlindungan fisik, tetapi juga tentang menghidupkan kembali narasi sejarah agar dapat dipahami secara kolektif oleh masyarakat.</p>
<p>Ia mencontohkan sejumlah langkah pelestarian yang telah dan sedang dilakukan, termasuk relokasi Prasasti Muara Cianten yang sebelumnya berada di tengah aliran sungai. “Itu baru pertama kali dilakukan setelah puluhan tahun, mengingat bobot prasastinya hampir 20 ton. Sekarang sudah berhasil diamankan,” ujarnya.</p>
<p>Menteri Kebudayaan juga menyinggung pentingnya museum dan situs cagar budaya sebagai ruang etalase peradaban. Menurutnya, museum tidak sekadar tempat menyimpan artefak, melainkan medium untuk memperkenalkan identitas dan sejarah bangsa kepada publik, termasuk generasi muda.</p>
<p>Dalam konteks Jawa Barat, Fadli berharap keberadaan museum yang merepresentasikan kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Pajajaran, dapat segera terwujud. Ia menilai, pemahaman terhadap masa lalu merupakan fondasi penting dalam merancang masa depan kebudayaan Indonesia.</p>
<p>Sejalan dengan itu, Kementerian Kebudayaan mendorong kolaborasi lintas instansi, baik dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota, untuk mempercepat revitalisasi museum dan kawasan cagar budaya. Revitalisasi ini diharapkan mampu menjadikan situs sejarah sebagai pusat edukasi sekaligus ruang aktivitas budaya masyarakat.<br />
Direktur Jenderal Pelindungan</p>
<p>Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, mengapresiasi kerja sama berbagai pihak dalam penataan kawasan Prasasti Batutulis. Ia menyebutkan peran Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat serta Pemerintah Kota Bogor yang dinilai konsisten mendukung penguatan situs tersebut sebagai cagar budaya nasional.</p>
<p>Prosesi peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti oleh Menteri Kebudayaan, disaksikan unsur pemerintah provinsi dan kota. Kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan kawasan situs serta ziarah ke makam Mbah Dalem Batutulis.</p>
<p>Prasasti Batutulis sendiri merupakan peninggalan Kerajaan Sunda yang memuat sembilan baris inskripsi pada batu andesit berwarna keabu-abuan. Menggunakan aksara Jawa Kuna dan bahasa Sunda Kuna, prasasti ini mencatat riwayat Sri Baduga Maharaja saat memerintah Kerajaan Pakuan Pajajaran, sebagaimana dikaji oleh ahli epigrafi Danasasmita.</p>
<p>Di akhir kegiatan, Menteri Kebudayaan berharap revitalisasi kawasan Batutulis tidak hanya menjaga nilai sejarahnya, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Kawasan tersebut diharapkan berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang berkelindan dengan sektor ekonomi kreatif, kuliner, UMKM, dan pariwisata lokal, sehingga memberikan kontribusi berkelanjutan bagi daerah.(Brg/Kul)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/cungkup-prasasti-batutulis-diresmikan-upaya-merawat-jejak-sejarah-sunda-di-kota-bogor/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tarian Soya-Soya, Warisan Budaya Maluku Utara yang Sarat Semangat Kepahlawanan</title>
		<link>https://koranindopos.com/tarian-soya-soya-warisan-budaya-maluku-utara-yang-sarat-semangat-kepahlawanan/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/tarian-soya-soya-warisan-budaya-maluku-utara-yang-sarat-semangat-kepahlawanan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Affandy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2025 08:42:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Tarian Soya-Soya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=108875</guid>

					<description><![CDATA[koranindopos.com &#8211; Jakrta. Tarian Soya-Soya kembali menjadi perhatian publik sebagai salah satu warisan budaya Maluku Utara yang kaya akan nilai sejarah dan semangat kepahlawanan. Tarian tradisional ini berasal dari Kesultanan Ternate dan telah diwariskan turun-temurun sebagai simbol keberanian para prajurit dalam mempertahankan tanah kelahiran. Soya-Soya awalnya merupakan tarian perang. Dalam sejarahnya, tarian ini diciptakan pada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto [content-visibility:auto] supports-[content-visibility:auto]:[contain-intrinsic-size:auto_100lvh] scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]" dir="auto" tabindex="-1" data-turn-id="request-WEB:d26f9ca2-798f-44fb-a9f8-f759f90d3d4f-4" data-testid="conversation-turn-10" data-scroll-anchor="false" data-turn="assistant">
<div class="text-base my-auto mx-auto [--thread-content-margin:--spacing(4)] thread-sm:[--thread-content-margin:--spacing(6)] thread-lg:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)">
<div class="[--thread-content-max-width:40rem] thread-lg:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn" tabindex="-1">
<div class="flex max-w-full flex-col grow">
<div class="min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-1" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="3a98168e-a727-4834-b308-a81109fdf9eb" data-message-model-slug="gpt-5-1">
<div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[1px]">
<div class="markdown prose dark:prose-invert w-full break-words light markdown-new-styling">
<p data-start="84" data-end="404"><strong><a href="http://koranindopos.com">koranindopos.com</a> &#8211; Jakrta.</strong> Tarian Soya-Soya kembali menjadi perhatian publik sebagai salah satu warisan budaya Maluku Utara yang kaya akan nilai sejarah dan semangat kepahlawanan. Tarian tradisional ini berasal dari Kesultanan Ternate dan telah diwariskan turun-temurun sebagai simbol keberanian para prajurit dalam mempertahankan tanah kelahiran.</p>
<p data-start="406" data-end="740">Soya-Soya awalnya merupakan tarian perang. Dalam sejarahnya, tarian ini diciptakan pada masa Sultan Baabullah pada abad ke-16 untuk menyambut para prajurit yang kembali dari medan perjuangan. Gerakan-gerakannya yang dinamis, tegas, dan penuh energi mencerminkan kegigihan serta tekad kuat para pejuang Ternate dalam mengusir penjajah.</p>
<p data-start="742" data-end="1146">Biasanya, tarian ini dibawakan oleh sekelompok penari laki-laki, meski saat ini perempuan juga banyak ikut menarikan. Para penari mengenakan busana khas prajurit dengan ikat kepala merah, pakaian serba hitam, serta membawa pedang atau tongkat kayu sebagai simbol senjata. Musik pengiringnya menggunakan tifa dan gong yang dimainkan dengan ritme cepat, memperkuat kesan heroik dan membangkitkan adrenalin.</p>
<p data-start="1148" data-end="1526">Makna “Soya-soya” sendiri sering dihubungkan dengan seruan semangat dan ajakan untuk terus berjuang. Karena itu, tarian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat, penyambutan tamu kehormatan, festival budaya, hingga perayaan Hari Kemerdekaan di Maluku Utara. Kehadirannya memberikan nuansa megah sekaligus mengingatkan masyarakat pada nilai-nilai perjuangan dan persatuan.</p>
<p data-start="1528" data-end="1852">Selain bernilai estetika, Tarian Soya-Soya juga menjadi medium pelestarian identitas budaya bagi masyarakat Maluku Utara. Pemerintah daerah bersama para budayawan terus mendorong regenerasi penari muda melalui sanggar-sanggar seni dan kegiatan sekolah, agar tarian ini tetap hidup dan dikenal luas oleh generasi selanjutnya.</p>
<p data-start="1854" data-end="2183" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Dengan karakter kuat dan filosofi yang mendalam, tarian Soya-Soya tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga simbol kejayaan sejarah, keberanian, dan kecintaan masyarakat Ternate terhadap tanah leluhur mereka. Tarian ini kini menjadi salah satu ikon budaya Maluku Utara yang memperkaya khazanah seni tradisional Indonesia. (dni)</p>
</div>
</div>
</div>
</div>
<div class="z-0 flex min-h-[46px] justify-start"></div>
</div>
</div>
</article>
<article class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto scroll-mt-(--header-height)" dir="auto" tabindex="-1" data-turn-id="240a2970-040a-4aea-bd09-19ea29ee84a0" data-testid="conversation-turn-11" data-scroll-anchor="false" data-turn="user">
<h5 class="sr-only"></h5>
</article>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/tarian-soya-soya-warisan-budaya-maluku-utara-yang-sarat-semangat-kepahlawanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>VIP Lounge Atreyu Moniaga Jadi Oase Refleksi di Art Jakarta 2025</title>
		<link>https://koranindopos.com/vip-lounge-atreyu-moniaga-jadi-oase-refleksi-di-art-jakarta-2025/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/vip-lounge-atreyu-moniaga-jadi-oase-refleksi-di-art-jakarta-2025/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2025 15:40:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[ART]]></category>
		<category><![CDATA[Art Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Atreyu Moniaga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=105966</guid>

					<description><![CDATA[koranindopos.com &#8211; Jakarta. Di tengah meriahnya Art Jakarta 2025, sebuah ruang khusus menarik perhatian pengunjung. VIP Lounge by DESIGN:JAKARTA persembahan CASA Indonesia bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang refleksi yang mengajak pengunjung menarik napas, merenung, dan meresapi seni secara lebih personal. Ruang ini dirancang oleh seniman visual Atreyu Moniaga bersama arsitek Marcello Decaran dengan konsep [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="141" data-end="467"><strong><a href="http://koranindopos.com">koranindopos.com</a> &#8211; Jakarta.</strong> Di tengah meriahnya Art Jakarta 2025, sebuah ruang khusus menarik perhatian pengunjung. VIP Lounge by DESIGN:JAKARTA persembahan CASA Indonesia bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang refleksi yang mengajak pengunjung menarik napas, merenung, dan meresapi seni secara lebih personal.</p>
<p data-start="469" data-end="824">Ruang ini dirancang oleh seniman visual Atreyu Moniaga bersama arsitek Marcello Decaran dengan konsep dualisme: dua zona berkarakter desain berlawanan namun saling melengkapi. Permainan cahaya artifisial menciptakan ilusi siang yang lembut di tengah pameran, menghadirkan suasana dinamis yang mengaburkan batas antara seni, desain, dan pengalaman batin.</p>
<p data-start="826" data-end="1223">“Keterlibatan saya di Art Jakarta 2025, khususnya lewat VIP Lounge, bukan semata tentang estetika. Bagi saya, ini adalah upaya menghadirkan ruang di mana seni tidak hanya dilihat, tapi dirasakan,” ujar Atreyu Moniaga, Seniman Visual &amp; Pendiri Atreyu Moniaga Project (AMP). “Bersama Marcello, kami ingin menciptakan pengalaman yang meleburkan batas antara seni, ruang, dan kehidupan sehari-hari.”</p>
<p data-start="1225" data-end="1646">Tiga karya Atreyu Moniaga menjadi titik fokus area ini. Dengan palet hijau dan kuning yang menenangkan, karya-karya tersebut menegaskan dialog antara alam dan sentuhan manusia (artifisial), sekaligus menghadirkan keseimbangan antara keheningan dan energi. Seperti oasis di tengah hiruk-pikuk pameran, lounge ini mengundang pengunjung berhenti sejenak, merenungi harmoni antara seni dan ruang, manusia dan lingkungannya.</p>
<p data-start="1648" data-end="1959">Selain proyek kolaboratif VIP Lounge, Atreyu juga menampilkan empat karya terbarunya bersama Ota Fine Arts, galeri internasional yang menaungi seniman besar seperti Yayoi Kusama dan Christine Ay Tjoe. Kolaborasi ini menandai tonggak penting perjalanan kariernya dan memperkuat posisinya di kancah seni global.</p>
<p data-start="1961" data-end="2315">Tak hanya menampilkan karya pribadi, Atreyu juga membawa semangat pembinaan seniman muda melalui Atreyu Moniaga Project (AMP), program inkubasi yang ia dirikan sejak 2014. AMP telah menjadi ruang pembelajaran dan kolaborasi bagi puluhan talenta muda di bidang ilustrasi dan fotografi, menekankan pentingnya proses, empati, dan keberanian bereksperimen.</p>
<p data-start="2317" data-end="2779">Kehadiran sembilan alumni AMP dalam gelaran Art Jakarta 2025 menjadi bukti bagaimana seni tumbuh lewat pembelajaran dan kolaborasi. “Saya selalu percaya, kekuatan seni lahir dari keberanian dan empati. Untuk para alumni AMP dan seniman muda Indonesia, teruslah berkarya dengan hati yang jujur dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Bangunlah komunitas yang saling menguatkan, karena di situlah seni menemukan makna yang sesungguhnya,” tutup Atreyu Moniaga.</p>
<p data-start="2781" data-end="3067">Art Jakarta 2025 berlangsung di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, pada 3–5 Oktober 2025. Pameran seni kontemporer terbesar di Indonesia ini kembali menjadi panggung bagi seniman Asia untuk bereksperimen, berkolaborasi lintas disiplin, dan memperluas makna seni sebagai bagian dari kehidupan. (ana)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/vip-lounge-atreyu-moniaga-jadi-oase-refleksi-di-art-jakarta-2025/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
