<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raam Punjabi &#8211; Indopos</title>
	<atom:link href="https://koranindopos.com/tag/raam-punjabi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://koranindopos.com</link>
	<description>Indopos Portal Berita yang menyajikan Berita-berita Aktual dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2026 13:27:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://koranindopos.com/wp-content/uploads/2026/06/cropped-b543b1ee-68df-4e38-b9c6-65b57c328bea-1-32x32.jpg</url>
	<title>Raam Punjabi &#8211; Indopos</title>
	<link>https://koranindopos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">230925932</site>	<item>
		<title>Mengupas Sisi Edukasi dan Tantangan Parenting Gen Z di Balik Film &#8216;Putri Jangan Gentayangan Lagi&#8217;</title>
		<link>https://koranindopos.com/mengupas-sisi-edukasi-dan-tantangan-parenting-gen-z-di-balik-film-putri-jangan-gentayangan-lagi/</link>
					<comments>https://koranindopos.com/mengupas-sisi-edukasi-dan-tantangan-parenting-gen-z-di-balik-film-putri-jangan-gentayangan-lagi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor : Akula]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2026 13:27:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film dan Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Denisha Wahyuni.]]></category>
		<category><![CDATA[film horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata Lentera Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Mvp pictures]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[Putri Jangan Gentayangan Lagi]]></category>
		<category><![CDATA[Raam Punjabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://koranindopos.com/?p=131581</guid>

					<description><![CDATA[Koranindopos.com, Jakarta &#8211; Industri perfilman Indonesia kembali kedatangan karya yang mengangkat fenomena kisah nyata yang sempat menggemparkan publik. &#8220;Putri Jangan Gentayangan Lagi&#8221; dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026. Film ini tidak hanya menjual elemen ketakutan supranatural, tetapi juga membawa misi sosial yang lebih dalam sebagai sarana edukasi bagi remaja dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Koranindopos.com, Jakarta &#8211;</strong> Industri perfilman Indonesia kembali kedatangan karya yang mengangkat fenomena kisah nyata yang sempat menggemparkan publik. &#8220;Putri Jangan Gentayangan Lagi&#8221; dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026. Film ini tidak hanya menjual elemen ketakutan supranatural, tetapi juga membawa misi sosial yang lebih dalam sebagai sarana edukasi bagi remaja dan orang tua.</p>
<p>Proyek ini diadaptasi dari kisah nyata Amanda Rizky Saputri atau yang akrab disapa Putri, yang kisahnya meledak di platform siniar &#8220;Lentera Malam&#8221; asuhan Jamaluddin Darris. Episode mengenai Putri telah ditonton lebih dari 25 juta kali di YouTube, sebuah angka yang menunjukkan besarnya antusiasme dan keingintahuan publik terhadap tragedi yang menimpa keluarga tersebut. Tingginya angka penonton ini menjadi modal awal bagi MVP Pictures bersama Folago Pictures, PK Films, dan SHOW Token untuk mengemas ulang cerita tersebut ke dalam format sinema yang lebih visual dan emosional.</p>
<p>Produser Raam Punjabi menekankan bahwa film ini ditujukan menjadi sarana edukasi bagi remaja dan orang tua. Ia menyoroti dinamika komunikasi keluarga yang sering kali terputus di era modern ini. Melalui karakter dan alur cerita, penonton diajak memahami batasan pergaulan lawan jenis serta dampak fatal dari tindakan impulsif yang sering kali dilakukan tanpa pertimbangan matang oleh usia muda.</p>
<p>Raam menilai bahwa kepercayaan dari tokoh asli, Mak Eli, merupakan amanah besar. Kisah ini dipilih karena memiliki nilai-nilai yang sangat relevan dengan tantangan pengasuhan di era generasi modern, di mana kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak sering terjadi. Kolaborasi tim yang solid menjadi kunci untuk mengeksekusi cerita emosional ini agar pesan edukasinya dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton, di samping fungsi film sebagai hiburan.</p>
<p>Tantangan mendidik anak di era digital menjadi sorotan utama dalam narasi film ini. Raam menjelaskan bahwa orang tua sering kali menghadapi kesulitan karena anak-anak di generasi Z memiliki pemikiran yang mandiri dan kompleks. Namun, tanggung jawab orang tua untuk memberikan pengarahan tidak boleh surut meski menghadapi perbedaan pola pikir tersebut.</p>
<p>&#8220;Mak Eli mengalami situasi tersebut sehingga memberikan contoh kepada kita semua bahwa mendidik anak bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam generasi Z ini, semua punya pemikiran sendiri. Tapi kita (sebagai orang tua) tidak boleh lepas dari tanggung jawab kita, tetap memberikan pengarahan yang benar,&#8221; kata Raam di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (30/10/2026).</p>
<p>Pesan kewaspadaan juga disampaikan oleh para pemain yang terlibat. Denisha Wahyuni, yang memerankan tokoh Alana, berharap film ini dapat menjadi refleksi bagi anak usia SMA yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan sering kali labil. Ia menekankan pentingnya memikirkan konsekuensi jangka panjang sebelum mengambil keputusan yang berisiko.</p>
<p>&#8220;Jadi, semoga dari film ini, teman-teman semua juga bisa mengambil pelajaran. Jadi, untuk berhati-hati dalam melakukan sesuatu, karena bisa berdampak sangat panjang ke depannya, gitu,&#8221; kata Denisha.</p>
<p>Senada dengan hal tersebut, Fadi Alaydrus yang memerankan tokoh Wira melihat film ini sebagai pintu masuk edukasi yang jarang dibahas secara terbuka di Indonesia, khususnya mengenai pendidikan lawan jenis atau seksualitas bagi remaja perempuan. Ia berharap film horor ini dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan perlindungan diri.</p>
<p>&#8220;Eh, dan pesannya setelah aku menonton film ini, aku mempunyai harapan semoga film horor ini juga bisa menjadi saran edukasi di Indonesia, karena kita tahu betul jarang sekali ada tentang itu, dan mungkin dari sini bisa menjadi eh sarana masuk awalnya untuk eh apalagi untuk anak perempuan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Film berdurasi 104 menit ini telah diklasifikasikan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) untuk penonton berusia 13 tahun ke atas, memastikan bahwa konten yang disajikan sesuai dengan target audiens remaja dan dewasa muda yang membutuhkan panduan dalam navigating dinamika sosial dan keluarga. (BRG/Hend)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://koranindopos.com/mengupas-sisi-edukasi-dan-tantangan-parenting-gen-z-di-balik-film-putri-jangan-gentayangan-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">131581</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
