koranindopos.com – Jakarta. Hutan Gunung Cikuray menyimpan kisah menegangkan dari seorang remaja asal Karawang, Elang Guntur Pratama (17), yang nyaris empat hari menghilang setelah terpisah dari rombongan pendakian. Dalam kondisi lemas dan menggigil, Elang akhirnya ditemukan di sebuah lembah asing yang sunyi dan dingin—jauh dari jalur pendakian utama.
Peristiwa tersebut bermula pada Senin, 12 Mei 2025, saat Elang mendaki Gunung Cikuray bersama dua temannya. Setelah menikmati keindahan puncak, mereka sepakat untuk turun pada keesokan harinya. Namun, pagi di hari Selasa itu justru menjadi awal dari petualangan hidup dan mati bagi Elang.
Karena merasa kelelahan, Elang memutuskan untuk beristirahat sejenak di tengah perjalanan turun, sementara dua temannya lebih dahulu melanjutkan perjalanan menuju pos. “Saya bilang ke mereka, saya nyusul nanti. Tapi setelah itu saya tertidur sebentar… pas bangun, saya malah kehilangan arah,” tutur Elang saat ditemui di Puskesmas setempat.
Setelah tersadar telah tertinggal, Elang berusaha mengikuti jejak atau tanda jalur, namun justru semakin masuk ke dalam hutan. “Hutan itu sunyi sekali. Saya mencoba naik ke tempat tinggi untuk melihat jalur, tapi kabut tebal, saya nggak bisa lihat apa-apa,” ungkapnya.
Ia menghabiskan hampir empat hari tanpa makanan dan hanya mengandalkan air dari daun dan embun untuk bertahan hidup. “Saya minum air dari daun dan batang pohon. Untungnya malam tidak hujan, tapi dinginnya menusuk,” ujarnya. Selama itu pula, Elang tidur di balik semak dan pepohonan untuk menghindari angin malam.
Tim SAR bersama relawan dan masyarakat yang melakukan pencarian akhirnya menemukan Elang pada Jumat pagi (16/5) di sebuah lembah yang jauh dari jalur pendakian resmi. Saat ditemukan, ia dalam kondisi sangat lemah, dehidrasi, dan mengalami luka ringan di kaki akibat duri dan bebatuan tajam.
“Alhamdulillah, dia bisa selamat meski kondisinya sangat lemas. Ini mukjizat,” ujar salah satu anggota tim SAR. Setelah dievakuasi, Elang langsung dibawa ke Puskesmas untuk mendapat perawatan dan observasi.
Dari pengalamannya, Elang berbagi beberapa kiat bertahan hidup di hutan:
-
Jangan panik: “Panik cuma bikin tambah tersesat. Lebih baik duduk, tenangin diri, lalu pikirkan langkah selanjutnya.”
-
Cari sumber air alami: Embun, air dari daun, atau batang pohon bisa menjadi penyelamat.
-
Hemat tenaga: “Saya banyak istirahat dan nggak terlalu banyak gerak biar nggak cepat lemas.”
-
Kenali arah matahari dan suara alam: Suara air atau suara kendaraan kadang bisa membantu menemukan arah.
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi para pendaki, terutama pemula, agar tidak mendaki sendirian dan selalu mematuhi prosedur pendakian yang aman. Membawa perlengkapan darurat seperti peluit, senter, dan cadangan makanan juga sangat disarankan.
Meski lelah dan masih dalam masa pemulihan, Elang menyatakan tak kapok mendaki. “Tapi lain kali harus lebih siap dan hati-hati,” katanya sambil tersenyum.(dhil)








