Koranindopos.com – JAKARTA — Ketidakpastian cuaca dan perubahan kondisi iklim menjadi salah satu tantangan bagi petani di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas pertanian, mulai dari penentuan waktu tanam hingga ketersediaan air.
Untuk membantu petani menghadapi tantangan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University memasang Automatic Weather Station (AWS) di Kampung Harapan Makmur.
Stasiun cuaca otomatis tersebut berfungsi menyediakan data cuaca yang dapat diakses masyarakat melalui sistem digital. Dengan teknologi ini, petani di Kampung Harapan Makmur dan wilayah sekitarnya dapat memantau kondisi cuaca secara lebih mudah.
Melalui AWS, masyarakat dapat mengakses data cuaca secara real-time sekaligus informasi prakiraan kondisi iklim hingga 15 hari ke depan.
Informasi tersebut diharapkan dapat membantu petani menentukan waktu tanam, mengatur kebutuhan air, serta mengantisipasi berbagai risiko yang berkaitan dengan kondisi cuaca.
Risiko tersebut antara lain kekeringan hingga potensi serangan hama yang dapat memengaruhi produktivitas tanaman.
Teknologi AWS yang dipasang TEP IPB University juga memiliki jangkauan hingga sekitar 40 kilometer dari lokasi stasiun cuaca.
Dengan cakupan tersebut, manfaat data cuaca tidak hanya dirasakan petani di Kampung Harapan Makmur, tetapi juga masyarakat di kawasan pertanian sekitarnya.
Kehadiran teknologi tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat transmigran yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian.
Kepala Kampung Harapan Makmur Sutamto mengatakan, keberadaan stasiun pemantau cuaca membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas pertanian.
“Dengan adanya alat itu, warga petani Kampung Harapan Makmur sangat terbantu, dan dengan harapan ke depannya dapat bermanfaat, dapat meningkatkan kualitas hasilnya,” ujar Sutamto dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (21/9/2026).
Pemasangan AWS tidak menjadi satu-satunya upaya TEP IPB University dalam membantu petani menghadapi perubahan kondisi cuaca.
Tim juga memberikan pendampingan kepada petani untuk menerapkan konsep pertanian cerdas iklim atau climate-smart agriculture.
Pendampingan tersebut mencakup penyusunan kalender tanam, pengaturan pemompaan air, hingga pemantauan kondisi pertanian melalui dashboard digital.
Pendekatan ini memungkinkan aktivitas pertanian disesuaikan dengan kondisi agroklimat di wilayah Merauke.
Ketua Tim TEP IPB University Ahmad Junaidi mengatakan, petani perlu memahami karakteristik iklim setempat agar keputusan terkait kegiatan pertanian dapat dilakukan dengan lebih tepat.
“Termasuk nanti mempelajari betul bagaimana kecukupan air dan karakter-karakter agroklimat serta konsekuensi dari agroklimat itu untuk pertanian,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan data cuaca dan informasi agroklimat menjadi bagian penting dalam membantu petani menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi lingkungan.
Kondisi cuaca yang sulit diprediksi dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gagal panen. Karena itu, ketersediaan data cuaca secara real-time dapat membantu petani mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Informasi mengenai prakiraan cuaca juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan waktu tanam dan mengatur penggunaan air.
Sementara itu, pemantauan melalui dashboard digital memungkinkan kondisi pertanian dapat dipantau secara lebih terintegrasi.
Pemasangan AWS dan pendampingan pertanian cerdas iklim tersebut menjadi bagian dari upaya TEP IPB University menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Pemanfaatan teknologi diharapkan tidak hanya membantu petani menghadapi ketidakpastian cuaca, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas hasil pertanian dan keberlanjutan aktivitas pertanian di Kampung Harapan Makmur dan wilayah sekitarnya.(Dhil/kmps)




