Koranindopos com – Jakarta. Gelaran Jakarta World Cinema (JWC) 2024 resmi berakhir pada Sabtu malam (28/9) dengan penayangan film *Bird*, karya sutradara asal Inggris, Andrea Arnold. Film ini menutup festival film internasional yang telah berlangsung selama delapan hari penuh dengan rangkaian pemutaran film dari berbagai negara.
Bird sendiri menceritakan kehidupan Bailey, seorang remaja yang tinggal bersama saudara laki-lakinya, Hunter, dan ayahnya, Bug, di sebuah rumah kecil di Kent, Inggris. Bug, yang harus membesarkan kedua anaknya seorang diri, kerap kali tidak memiliki cukup waktu untuk memberikan perhatian penuh kepada mereka. Bailey yang merasa terabaikan kemudian mencari petualangan di luar rumah. Film ini dibintangi oleh Barry Keoghan, Franz Rogowski, dan Nykiya Adams, serta berhasil memukau para penonton di malam penutupan festival.
Tidak hanya menayangkan film penutup yang berkesan, JWC 2024 juga menjadi ajang yang memperkenalkan karya-karya terbaik dari berbagai negara. Salah satu festival bergengsi di Indonesia ini telah menayangkan 120 film dari 61 negara dengan lebih dari 10 program berbeda. Dari keseluruhan film tersebut, 13 di antaranya masuk ke dalam program kompetisi yang baru diperkenalkan tahun ini.
Pemenang Kompetisi Pertama di JWC 2024
Setelah hadir sebagai festival nonkompetisi dalam dua tahun sebelumnya, JWC 2024 memperkenalkan *First Feature Competition* dengan dua kategori utama, yakni Best Director dan Best Film. Dalam kompetisi ini, ke-13 film yang terpilih dikurasi secara ketat oleh tiga juri, yaitu Lola Amaria, Yosep Anggi Noen, dan Makbul Mubarak. Tidak hanya juri profesional, penonton festival juga berpartisipasi sebagai juri untuk memilih film favorit melalui voting yang kemudian diganjar penghargaan Audience Award.
Pada tahun ini, film The Substance karya sutradara Prancis, Coralie Fargeat, berhasil memenangkan penghargaan Audience Award. Film ini menjadi favorit penonton sepanjang gelaran JWC 2024. Sebelumnya, The Substanc* yang juga menjadi film pembuka festival ini, telah memperoleh dua nominasi bergengsi di Cannes Film Festival 2024, yaitu Palme d’Or dan *Penulis Skenario Terbaik*. Film ini kemudian berhasil membawa pulang penghargaan untuk kategori Penulis Skenario Terbaik di festival film bergengsi tersebut.
The Substance mengisahkan seorang aktris Hollywood yang menjadi pembawa acara latihan aerobik. Ketika usianya mulai bertambah dan posisinya tergantikan oleh yang lebih muda, ia mengambil jalan pintas dengan membeli obat dari pasar gelap yang membuatnya tampak muda kembali. Namun, tindakan tersebut membawa konsekuensi besar yang harus dihadapinya.

Pemenang Kategori First Feature Competition
Selain *Audience Award*, JWC 2024 juga mengumumkan pemenang First Feature Competition kategori Best Director yang diraih oleh Jianjie Lin dengan filmnya berjudul Brief History of A Family. Film ini menggambarkan kehidupan sebuah keluarga kelas menengah di China setelah penerapan kebijakan satu anak. Ketika seorang teman misterius anak mereka datang tinggal bersama, ketegangan muncul dan membuka rahasia-rahasia yang tersembunyi.
Dalam pernyataan juri yang dibacakan oleh Makbul Mubarak, Brief History of A Family dipuji karena berhasil membangun bahasa visual yang kuat, seolah menempatkan karakter-karakternya sebagai spesimen biologis yang diamati di bawah mikroskop. Penonton diajak untuk memperhatikan setiap gestur kecil yang, jika tidak dalam penempatan yang tepat, mungkin akan terlewatkan begitu saja. Meski mengambil pendekatan detail yang mendalam, film ini tetap menyadarkan penonton bahwa ia mengandung kritik sosial yang besar.
Sementara itu, penghargaan Best Film jatuh kepada Girls Will Be Girls, film debut sutradara Shuchi Talati. Film ini merupakan produksi kolaborasi antara Indonesia dan Prancis yang dibintangi oleh Preeti Panigrahi, Kani Kusruti, dan Kesav Binoy Kiron. *Girls Will Be Girls* bercerita tentang Mira, seorang remaja 16 tahun yang menemukan cinta dan hasrat di sebuah sekolah asrama ketat di pegunungan Himalaya. Namun, kebangkitan seksualnya terganggu oleh ibunya yang tidak pernah dewasa. Lebih dari sekadar kisah romansa remaja, film ini mengeksplorasi kekuatan gender.
Dalam pernyataan juri yang dibacakan oleh Lola Amaria, Girls Will Be Girls dipuji karena mampu meramu pendekatan genre yang familiar menjadi sesuatu yang segar dan tak terduga, tanpa kehilangan kesederhanaannya. Hubungan antartokoh digambarkan dengan cara yang misterius sekaligus menyentuh, membuat penonton terhanyut dalam alur cerita tanpa sadar.










