Koranindopos.com, Jakarta – Indonesia pernah diguncang oleh tragedi yang melibatkan David Ozora, dan ingatan kolektif itu belum benar-benar pudar. Dari luka sosial tersebut, lahirlah film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, sebuah karya yang mencoba menyibak sisi emosional yang jarang tersentuh publik, dilema seorang ayah, tekanan psikologis keluarga, serta benturan antara jeritan rakyat dan tembok kekuasaan. Film ini siap tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 4 Desember 2025.
Disutradarai duo kakak beradik Anggy Umbara (44) dan Bounty Umbara, film ini menjadi proyek reuni setelah keduanya lama tidak berbagi kursi penyutradaraan. Produksi dilakukan melalui kolaborasi banyak rumah produksi, termasuk Umbara Brothers Film, VMS Studio, hingga Makara Production. Anggy menjelaskan bahwa gagasan awal film datang dari Bounty, namun sejak awal keduanya sepakat memegang kemudi bersama.
“Ide awal film ini memang lahir dari Bounty, sepakat untuk menyutradarainya bersama-sama,” ujar Anggy.
Film ini menampilkan jajaran pemain dengan reputasi kuat, seperti Chicco Jerikho, Muzakki Ramdhan, Tika Bravani, Erdin Werdrayana, Donny Damara, Annisa Kaila, hingga Mathias Muchus. Mereka memerankan tokoh-tokoh yang terlibat dalam tragedi yang pernah memicu kemarahan publik dan menjadi sorotan nasional.
Ceritanya berpusat pada Jonathan, ayah yang hidupnya berubah dalam sekejap setelah putranya, David Ozora, jatuh koma akibat penganiayaan oleh anak seorang pejabat tinggi negara. Ketika kasus itu viral, Jonathan tidak sendiri; dua sahabatnya, Melissa dan Rustam, ikut menguatkan langkahnya menuntut keadilan di tengah sistem hukum yang dianggap berat sebelah.

Film ini tidak berusaha membuat rekonstruksi kriminal. Fokusnya lebih pada bagaimana kekerasan meninggalkan jejak yang menggores batin. Perspektif Jonathan dihadirkan untuk memperlihatkan betapa panjang dan melelahkannya perjalanan seorang ayah yang berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa putranya hanya memiliki peluang hidup dua persen.
“Kisah David ini memang mengguncang Indonesia, dalam film ini juga akan mengangkat soal harapan dan mujizat Tuhan,” ungkap Anggy.
Peran Jonathan dimainkan Chicco Jerikho, aktor berusia 41 tahun yang telah menikah dan memiliki satu anak. Chicco mengaku karakter ini bukan sekadar menantang, tetapi menguras sisi emosional dirinya. Ia menjelaskan bahwa peran tersebut sangat berat karena memiliki kedekatan dengan perasaan seorang ayah di dunia nyata.
“Rasanya bermain di film ini dan memerankan karakter Jonathan sangat melelahkan, saya harus benar-benar mengatur emosi agar tetap berada di frekuensi Jonathan,” ucapnya.
Selain menyoroti kegamangan hukum, film ini memperlihatkan bagaimana solidaritas publik yang terbentuk saat tragedi terjadi dapat menjadi kekuatan yang tidak terduga. Dukungan masyarakat dari berbagai latar kepercayaan digambarkan sebagai bagian penting dalam proses pemulihan keluarga korban.
Dalam alurnya, publik dapat melihat bagaimana ruang digital berubah menjadi arena gugatan rakyat. Di tengah maraknya penyalahgunaan jabatan dan situasi hukum yang diragukan kebersihannya, film ini mengajak penonton untuk memahami bahwa keberanian bersuara adalah bentuk perlawanan yang sah.
Melengkapi narasi, film ini menyuguhkan original soundtrack yang dirancang sebagai manifesto kritik sosial. Lagu “Hidup Setara” dari Armia And The Shadows, kolaborasi Sara Wijayanto dan Anggy, menghadirkan empati. Sementara Sukatani memberi hentakan melalui “Bayar Bayar Bayar” dan “Gegap Gempita”, dua nomor bernada protes yang pernah menuai kontroversi. Marky Najoan menutup dengan “Kuning”, refleksi tentang idealisme dan kekuasaan. (Brg/Hend)










