Koranindopos.com – JAKARTA – Ketegangan kembali terjadi di kawasan Laut China Selatan setelah militer China menyatakan telah mengusir kapal perang milik Belanda yang dituding melanggar wilayah sekitar Kepulauan Paracel.
Insiden tersebut menambah daftar panjang sengketa dan ketegangan militer di kawasan strategis yang selama ini menjadi rebutan sejumlah negara.
Dalam pernyataan resminya, militer China menyebut kapal fregat angkatan laut Belanda, HNLMS De Ruyter, berulang kali menerbangkan helikopter dari kapal untuk memasuki wilayah udara China secara ilegal.
Menurut pihak militer China, tindakan tersebut dianggap melanggar kedaulatan wilayah di sekitar Kepulauan Paracel.
China kemudian mengklaim telah mengambil langkah pengusiran terhadap kapal perang tersebut guna menjaga keamanan dan stabilitas wilayah.
Beijing diketahui mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan sebagai bagian dari teritorinya. Klaim tersebut selama bertahun-tahun memicu ketegangan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.
Namun, putusan tribunal internasional tahun 2016 sebelumnya telah menolak sebagian besar klaim China di kawasan tersebut.
Meski demikian, China tetap mempertahankan aktivitas militernya di Laut China Selatan, termasuk pembangunan fasilitas militer di sejumlah pulau dan wilayah sengketa.
Laut China Selatan merupakan salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia dengan nilai perdagangan triliunan dolar melintas setiap tahun.
Karena itu, kawasan ini juga menjadi perhatian banyak negara, termasuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, yang rutin melakukan operasi kebebasan navigasi untuk memastikan jalur internasional tetap terbuka.
Kehadiran kapal perang Belanda di kawasan tersebut disebut sebagai bagian dari misi internasional terkait kebebasan pelayaran.
Insiden terbaru ini menambah kekhawatiran dunia internasional terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Pengamat menilai konflik atau salah perhitungan di Laut China Selatan dapat berdampak luas terhadap stabilitas regional maupun perdagangan global.
Hingga kini belum ada laporan mengenai kontak fisik atau bentrokan langsung antara kedua pihak dalam insiden tersebut.(dhil)










