Koranindopos.com, Jakarta – Gandhi Fernando punya alasan khusus ketika memutuskan menjadi produser film Iyus Jenius. Di tengah banyaknya film dengan genre yang sudah akrab bagi penonton Indonesia, ia justru memilih menggarap film musikal anak.
Menurut Gandhi, film musikal anak menjadi salah satu genre yang sudah cukup lama tidak hadir di layar lebar Indonesia. Kondisi tersebut membuatnya tertarik mengambil proyek yang berbeda dari karya-karya yang selama ini banyak diproduksi.
“Ya, karena aku pengin melawan arus, film yang jarang banget dibuat,” kata Gandhi Fernando.
Gandhi mengakui dirinya masih tetap mengerjakan film horor. Namun, ia tidak ingin seluruh perhatiannya hanya tertuju pada genre tersebut. Baginya, industri film juga membutuhkan karya dengan cerita dan pendekatan yang lebih beragam.
“Meskipun aku tetap bikin film horor, tapi aku tetap pengin bikin sesuatu yang berbeda gitu. Jadi, supaya tetap ada keberagaman di industri film Indonesia,” ujarnya.
Iyus Jenius kemudian menjadi salah satu proyek yang menurut Gandhi sesuai dengan keinginannya tersebut.
“Jadi salah satunya adalah Iyus Jenius ini yang di-project aku,” katanya.
Film tersebut bercerita tentang Iyus, anak berusia 10 tahun yang harus menghadapi perubahan dalam hidup setelah kehilangan ayahnya. Kondisi itu membuat Iyus kehilangan semangat belajar dan kepercayaan diri.
Cerita kemudian berkembang melalui pertemuan Iyus dengan Babah T. Bob. Musik, persahabatan, dan imajinasi menjadi bagian dari perjalanan Iyus untuk kembali menemukan semangatnya.

Menariknya, film ini juga menggunakan sejumlah lagu ciptaan Papa T. Bob. Beberapa di antaranya adalah Diobok-obok, Jangan Marah, dan Aku Takut Mamaku Marah.
Bagi Gandhi, pilihan membuat film musikal anak juga tidak lepas dari keinginannya menghadirkan genre yang semakin jarang ditemukan.
“Film genre musikal, musikal anak khususnya, itu udah lama banget nggak ada sama sekali dan bisa dibilang genrenya hampir punah,” ujarnya.
Namun, perjalanan Iyus Jenius menuju bioskop ternyata tidak singkat. Film tersebut sudah diproduksi sejak 2023 dan sempat mengalami proses penyuntingan yang panjang.
Gandhi mengatakan proses editing memakan waktu hampir satu tahun karena tim melakukan sejumlah perubahan, mulai dari musik hingga tampilan visual.
“Proses editingnya itu makan kurang lebih hampir satu tahun karena kita ada perombakan dari lagu, dari color grading, dari CGI,” katanya.
Pada versi awal, film tersebut bahkan belum menggunakan CGI. Setelah melihat hasil awal, Gandhi kemudian memberikan masukan agar dunia dalam film dibuat lebih imajinatif sehingga lebih dekat dengan pengalaman anak-anak.
“Waktu itu editan cut pertama nggak ada CGI sama sekali. And then aku ngasih masukan kayaknya bagusnya ada banyak pernak-pernik gambar-gambar dan kartun-kartunnya, kayaknya lebih lucu dan lebih whimsical buat anak-anak,” ujarnya.
Setelah film selesai, tantangan berikutnya adalah mendapatkan jadwal tayang di bioskop. Gandhi mengatakan pihaknya sebenarnya sudah mengajukan film tersebut untuk tayang pada Agustus 2024.
“Jadi film itu kita submit ke bioskop untuk minta tanggal di bulan Agustus 2024. Jadi kita sebenarnya dua tahun tuh nunggu aja, filmnya udah selesai,” tuturnya.
Menurut Gandhi, panjangnya masa tunggu tersebut tidak lepas dari semakin banyaknya film Indonesia yang masuk ke bioskop.
“Karena memang sekarang film Indonesia banyak banget jadinya ngantrinya panjang,” lanjutnya.
Meski demikian, Gandhi tidak ingin menjadikan persoalan komersial sebagai satu-satunya pertimbangan dalam membuat film.
“Tantangannya sih kalau menurut saya ini sebenarnya udah cukup komersial, cuma kembali lagi ke jumlah layar,” katanya.
Ia menilai persoalan jumlah layar dan distribusi juga ikut menentukan bagaimana sebuah film diterima penonton.
“Di Indonesia itu film komersial nggak komersial itu masih abu-abu ya. Kadang ada film yang kira festival banget tiba-tiba dapat layarnya banyak banget, tapi ada film yang menurut kita komersial malah tiba-tiba distribusinya nggak menyeluruh,” ujarnya.
Karena itu, Gandhi memilih tetap menjalankan proyek tersebut dengan keyakinan bahwa industri film membutuhkan lebih banyak pilihan.
“Apa yang kita lakukan adalah kita happy ngerjainnya dan kita mau melawan arus,” kata dia.
“Kita ingin memberikan genre-genre yang hampir nggak pernah dibuat sama sekali,” tuturnya.
Selain menjadi produser, Gandhi kini memang mulai mengurangi aktivitasnya sebagai pemain film. Ia mengaku sudah merasa lelah berakting dan ingin lebih banyak bekerja di balik layar.
“Enggak, karena aku kayaknya udah mulai capek deh main,” katanya.
Gandhi sebelumnya juga sempat menyampaikan bahwa dirinya ingin menjadikan salah satu film yang dibintanginya sebagai penampilan terakhir sebagai aktor.
“Kan pas kemarin aku sempat perpisahan bilang kalau itu film terakhir kali aku main sebagai aktor,” ujarnya.
Setelah Iyus Jenius, Gandhi masih menyiapkan sejumlah proyek lain sebagai sutradara dan penulis, termasuk Ratu Petaka. Ia juga tengah mengembangkan proyek perfilman di Thailand.
Kini, Iyus Jenius dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 10 September 2026. Film tersebut menjadi salah satu langkah Gandhi untuk menghadirkan genre yang menurutnya sudah lama tidak mendapat tempat di layar lebar. (BRG/Kul)










