Koranindopos.com, Jakarta – Pasar sandang dan tekstil tradisional nusantara kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional. Merek sarung tenun berkualitas premium, Sarung Asaatid, resmi tampil memukau pada ajang pameran kerajinan terbesar INACRAFT Vol. 5 yang diselenggarakan di Jakarta International Convention Center (JICC) mulai Rabu (7/10) hingga Minggu (11/10). Kehadiran produsen tenun asal Pekalongan ini sekaligus mempertegas eksistensi produk lokal dalam persaingan industri tekstil global.
Ajang pameran ini menjadi momen krusial bagi jenama di bawah naungan PT Bama Prima Textile tersebut. Pasalnya, partisipasi kali ini menandai transformasi besar perusahaan setelah melakukan peremajaan identitas merek. Merek yang diproduksi di sentra tekstil Pekalongan—bersandingan dengan jenama ternama seperti Sarung Gadjah Duduk dan Sarung Mangga—siap memperluas jangkauan pasarnya ke seluruh pelosok tanah air dari Aceh hingga Papua.
Marketing Manager PT Bama Prima Textile, Herman Kurniawan, menegaskan nilai strategis dari keikutsertaan mereka dalam pameran internasional tersebut. “Ini adalah kali keempat kami ikut INACRAFT. Namun, tahun ini merupakan panggung internasional pertama kami setelah rebranding logo baru dan slogan ‘Kemewahan Sejati’,” ujar Herman Kurniawan saat ditemui di lokasi pameran.
Perjalanan Sarung Asaatid di industri tekstil sebenarnya telah merentang selama lebih dari satu dekade. Memulai kiprah sejak periode 2012–2013, produsen ini pada awalnya fokus menggarap ceruk pasar luar negeri menggunakan merek ekspor seperti Gajah Kursi di Malaysia serta Dahrin di kawasan Afrika. Negara-negara seperti Malaysia, Somalia, Ethiopia, Yaman, Dubai, hingga Oman telah lama menjadi tujuan distribusi utama produk tenun mereka.
Langkah penetrasi ke pasar domestik secara masif baru dimulai beberapa tahun lalu menjelang pandemi Covid-19 dengan mengusung nama Sarung Asaatid. Strategi ini terbukti efektif melihat tingginya respons konsumen lokal. Hingga menjelang akhir tahun ini, catatan penjualan grup manufaktur tekstil tersebut telah hampir menyentuh angka 100.000 kodi untuk memenuhi permintaan pasar ekspor maupun grosir domestik.
Keunggulan utama dari produk ini terletak pada pemilihan bahan baku serta penguasaan teknik pembuatan motif. Untuk seri super premium seperti varian Elegan, manufaktur menggunakan bahan double rayon pilihan yang dirancang khusus agar memiliki karakteristik sehalus dan selemas sarung goyor. Fleksibilitas bahan rayon ini membuat sarung tetap nyaman dipakai karena terasa sejuk saat cuaca panas dan memberikan rasa hangat ketika suhu dingin.
Tidak hanya mengandalkan kenyamanan bahan, proses manufaktur juga memadukan tiga teknik tenun sekaligus, yaitu dobby (sulam luar), printing (motif batik), dan songket. Perpaduan teknik modern berbasis mesin ini mampu menghasilkan visual motif rumit menyerupai Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) namun tetap ditawarkan dengan kisaran harga yang rasional, mulai dari Rp70 ribu hingga Rp400 ribuan.
Respons positif juga datang dari kalangan tokoh agama dan pimpinan lembaga pendidikan Islam. Pada berbagai perhelatan besar seperti Muktamar NU, tercatat banyak tokoh dan pengasuh pesantren yang memesan khusus belasan hingga puluhan kodi sarung untuk kebutuhan institusi mereka. Hal ini membuktikan bahwa kualitas bahan dan motif yang ditawarkan mampu memenuhi standar kebutuhan masyarakat luas.
Melihat tingginya minat masyarakat di ajang INACRAFT, pihak pengelola menyiapkan penawaran khusus dan beragam aktivitas interaktif bagi para pengunjung. “Di event ini, kami mengajak para pengunjung melihat langsung kemewahan sarung kualitas ekspor namun harga bersahabat mulai dari 100ribu hingga koleksi super premium kami yang hanya 400 ribuan saja,” tambah Herman.
Guna menambah keseruan, booth pameran juga dilengkapi dengan tantangan hiburan berhadiah produk secara langsung. “Cuman di event ini kami mengajak para pengunjung main game menguji ketangkasan menghentikan timer tepat angka 10:00, yang berhasil bisa langsung bawa pulang Sarung gratis!” seru Herman yang juga memperagakan cara bermain game tersebut.
Menatap arah tren masa depan, PT Bama Prima Textile terus melakukan riset dan pengembangan (R&D) produk berbasis kain sarung untuk menggaet minat generasi muda. Perusahaan berencana meluncurkan lini busana kasual kekinian pada tahun 2027 mendatang, seperti celana model kargo berbasis kain sarung. Langkah inovatif ini diharapkan dapat mengubah persepsi sarung dari sekadar pakaian ibadah menjadi bagian dari gaya hidup busana harian. (RIS/Hend)










