Koranindopos.com, AS-Kandidat dari Partai Demokrat, Aber Kawas, berhasil memenangkan kursi Senat mewakili negara bagian New York pada pemilihan umum Amerika Serikat (AS) pada Selasa (4/11/2026). Kawas merupakan merupakan politikus perempuan muslim keturunan Arab Palestina. Kemenangannya menjadikan Aber Kawas sebagai tokoh keturunan Palestina pertama yang berhasil menjadi Senator AS dan mencatatkan sejarah di Amerika.
Kawas merupakan seorang aktivis penggerak komunitas dan anggota organisasi Democratic Socialists of America (DSA). Dia memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat pada Juni, sebelum akhirnya memenangkan pemilihan umum. Menurut Middle East Eye, sebelum mencalonkan diri untuk jabatan publik, dia telah menghabiskan lebih dari 15 tahun bekerja di bidang hak-hak buruh, komunitas imigran, dan perjuangan Palestina.
Kawas merupakan seorang aktivis penggerak komunitas dan anggota organisasi Democratic Socialists of America (DSA). Dia memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat pada Juni, sebelum akhirnya memenangkan pemilihan umum.
Kawas lahir dan dibesarkan di Brooklyn. Dia merupakan putri dari imigran Palestina yang tiba di Amerika Serikat pada tahun 1990-an. Dia mengungkapkan bahwa peristiwa serangan 11 September (9/11) mengubah rasa aman yang dia rasakan saat masih kanak-kanak. Sebab, keluarga-keluarga Muslim di lingkungannya hidup dalam ketakutan akan pengawasan serta deportasi.
Ayahnya dideportasi ke Yordania saat ia masih duduk di bangku SMA. Ia menceritakan bagaimana kondisi keuangan keluarganya berubah setelah peristiwa tersebut. Pada 2023, Kawas bergabung dengan sekelompok aktivis yang berupaya memanfaatkan pemerintahan daerah sebagai sarana untuk menentang pendanaan bagi pendudukan Israel atas wilayah Palestina.
Kelompok tersebut mendukung sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang diusulkan oleh senator negara bagian Jabari Brisport, yang bertujuan menghentikan lembaga amal di New York agar tidak mendanai kelompok-kelompok yang terkait dengan permukiman ilegal.
Zohran Mamdani, yang saat itu menjabat sebagai anggota majelis negara bagian, turut membantu menyusun RUU tersebut. Namun, RUU itu gagal disahkan setelah mendapat penentangan dari para legislator. Mereka mengusung slogan Danai martabat, lawan kehancuran. Untuk isu domestik, ia mengampanyekan layanan kesehatan universal, transportasi umum yang cepat dan andal, serta perumahan yang terjangkau.
Dia juga mendorong aksi iklim dan menentang pendanaan untuk perang. Ia telah berjanji untuk memperjuangkan “New York For All Act”, sebuah undang-undang yang akan melarang lembaga negara bagian dan pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan badan penegak hukum imigrasi federal. (cnni/mmr)









