Koranindopos.com – JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan kegiatan belajar mengajar di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali dimulai pada Senin (31/8/2026), setelah daerah tersebut terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema pembelajaran dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing sekolah.
“Kami menyampaikan tentu ada proses belajar akan dimulai besok hari,” kata Berton dalam konferensi pers secara daring, Minggu (30/8/2026).
Menurut Berton, sekolah yang bangunannya masih dalam kondisi baik dan dinilai layak digunakan dapat kembali menggelar pembelajaran secara tatap muka.
Sementara itu, sekolah yang mengalami kerusakan akan menerapkan pembelajaran secara daring agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.
“Tapi ketika sekolahnya masih bagus dan layak untuk digunakan, tentu ini akan digunakan secara kelas atau pertemuan biasa,” ujarnya.
Selain memastikan kegiatan pendidikan kembali berjalan, BNPB juga terus memantau pemulihan berbagai fasilitas vital yang terdampak gempa.
Berton mengatakan, sejumlah kebutuhan dasar masyarakat seperti pasokan bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan sarana komunikasi telah kembali pulih sepenuhnya.
Pemulihan fasilitas tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari setelah gempa.
Aktivitas perekonomian masyarakat juga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal itu terlihat dari kembali berlangsungnya kegiatan perdagangan di sejumlah pasar.
“Kami akan tetap memantau dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait,” kata Berton.
Meski sejumlah aktivitas mulai pulih, dampak gempa masih dirasakan masyarakat. BNPB mencatat belum terdapat penambahan korban meninggal dunia.
Jumlah korban meninggal dunia hingga Minggu tercatat sebanyak 111 orang.
Sementara itu, sebanyak 1.631 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 233 orang mengalami luka berat dan 1.408 orang mengalami luka ringan.
Jumlah pengungsi juga masih cukup besar, yakni mencapai 188.161 orang. Namun, angka tersebut telah mengalami penurunan sebanyak 4.142 orang dibandingkan data sebelumnya.
Para pengungsi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah terdampak, terutama Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Manggarai.
Di Kabupaten Nagekeo, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 50.574 orang, sedangkan di Kabupaten Manggarai mencapai 50.556 orang.
BNPB sebelumnya juga mencatat banyaknya bangunan rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Kondisi tersebut masih terus didata dan diverifikasi untuk menentukan kategori kerusakan.
Dengan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar, pemerintah berharap proses pemulihan kehidupan masyarakat di NTT dapat berlangsung secara bertahap. Di sisi lain, pemantauan terhadap kondisi sekolah dan fasilitas publik tetap dilakukan untuk memastikan aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan aman.(dhil/kmps)




