Koranindopos.com, Jakarta – Industri perfilman tanah air bersiap menyambut sebuah karya ambisius yang mengangkat lembaran hitam sejarah penerbangan Indonesia. Film bertajuk Kapal Terbang produksi Solid Cinematic Dreams dipastikan akan menyapa penonton di bioskop pada tahun 2026 ini. Film bergenre action sejarah ini menjadi sorotan karena berani memvisualisasikan Tragedi Woyla, sebuah peristiwa pembajakan pesawat Garuda Indonesia yang mengguncang dunia pada 28 Maret 1981 silam.
Sutradara Ozan Ruz didapuk untuk mengarahkan proyek besar ini dengan menggandeng aktor spesialis laga, Oka Antara, sebagai pemeran utama. Oka Antara mengakui bahwa mengangkat kisah nyata pembajakan oleh kelompok Komando Jihad ini bukanlah perkara mudah bagi tim produksi. Banyak tantangan teknis dan non-teknis yang harus dihadapi demi menghidupkan kembali ketegangan di atas pesawat yang dipaksa mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok tersebut.
Bagi Oka Antara, keterlibatannya dalam film ini membawa beban emosional tersendiri mengingat sensitivitas isu yang diangkat. Aktor berusia 44 tahun ini mengungkapkan bahwa wacana memfilmkan Tragedi Woyla sebenarnya sudah lama beredar di kalangan sineas namun sering menemui jalan buntu. Ketakutan akan isu politik yang tajam membuat banyak produser sebelumnya ragu untuk mengeksekusi cerita ini ke dalam layar lebar.
”Kalau saya ngomong sama Rifnu itu sering banget, film ini hampir diproduksi namun selalu tidak jadi, selalu gagal gitu. Tapi banyak produser yang keringat dingin dan ketar-ketir,” jelasnya saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026).

Kegelisahan mengenai apakah film ini benar-benar bisa dinikmati publik luas juga sempat terlintas di benak sang aktor selama proses produksi berlangsung. Hal ini dikaitkan dengan narasi sejarah yang melibatkan konfrontasi langsung dengan kebijakan pemerintah pada masa itu. Oka menyadari bahwa setiap adegan yang direkam membawa pesan yang kuat dan berpotensi memicu diskusi panjang di tengah masyarakat.
”Karena ini isu yang sangat sensitif, ada penyebutan-penyebutan pemerintah, tuntutan terhadap pemerintah. Jadi sempat nggak tahu apakah ini bisa jadi jalan,” terangnya.
Selain persoalan isu, tantangan fisik berupa rekonstruksi suasana tahun 1980-an menjadi fokus utama tim produksi. Sutradara Ozan Ruz memastikan bahwa detail estetika masa lalu harus terlihat nyata agar penonton merasa terlempar kembali ke masa itu. Mulai dari kabin pesawat hingga tata bahasa yang digunakan para pemain, semuanya dikerjakan dengan riset yang mendalam.
”Mungkin guidelinenya, dia kelihatannya seperti mahasiswa tapi ternyata dia bukan mahasiswa, protagonis lah,” kata Oka Antara ketika memberikan sedikit bocoran mengenai karakter misterius yang ia mainkan dalam film tersebut.
Meskipun masih menjalani proses syuting hingga dua pekan ke depan, Oka menaruh harapan besar agar film ini menjadi media edukasi sejarah bagi generasi muda. Tragedi Woyla bukan hanya sekadar aksi pembajakan, melainkan sebuah ujian besar bagi kedaulatan dan kemanusiaan bangsa Indonesia di mata internasional. Ia berharap jadwal tayang film ini segera keluar agar publik bisa segera mengapresiasi kerja keras seluruh kru.
”Saya ingin masyarakat Indonesia mengenal satu fase di sepanjang sejarah negara kita, ada peristiwa yang sangat berkesan dan mengguncang dunia pada waktu itu,” ujar Oka Antara menutup percakapan. (BRG/Hend)










