Koranindopos.com, AUSTRALIA – Otoritas Kesehatan Australia Barat (Government of Western Australia Department of Health) mengumumkan siaga campak (measles) di negara bagian New South Wales (NSW). Wabah tersebut diduga dibawa oleh pelancong asal Jakarta.
Dikutip dari Government of Western Australia Department of Health, suspect diketahui berangkat dari Jakarta pada Sabtu malam (7/2/2026) dan mendarat di Terminal 1 Bandara Perth pada Minggu (8/2/2026) dini hari, sekitar pukul 00.40. Suspect tersebut menghabiskan waktu hingga pukul 01.30 untuk proses imigrasi serta pengambilan bagasi.
Aktivitas suspect berlanjut pada Minggu siang. Dia diketahui menghadiri kegiatan Gereja Oikos di Myaree antara pukul 11.30 – 14.15. Pada sore hari, sekitar pukul 17.30–19.00, suspect juga sempat mengunjungi Chopsticks Viet Restaurant di Northbridge untuk makan malam. Tak lama setelah rangkaian aktivitas tersebut, pasien mulai menunjukkan gejala medis yang kemudian dikonfirmasi oleh laboratorium sebagai infeksi campak aktif.
Menanggapi temuan itu, pihak Government of Western Australia Department of Health kini memantau ketat seluruh lokasi publik yang pernah didatangi suspect. Mengingat virus campak dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan, masyarakat yang berada di lokasi dan waktu yang sama diminta untuk memantau kesehatan mereka secara mandiri hingga 26 Februari 2026.
Area seperti gereja dan restoran menjadi perhatian utama petugas karena adanya interaksi jarak dekat dalam durasi yang cukup lama. Masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala awal berupa demam tinggi, batuk, hidung meler, dan mata merah, yang biasanya diikuti oleh munculnya ruam merah bintik-bintik beberapa hari kemudian.
Menanggapi kejadian tersebut, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menilai, penumpang tersebut memiliki risiko tinggi melakukan kontak dengan kasus campak, baik saat masih berada di Indonesia maupun saat berada di Bandara Perth.
Prof. Tjandra menekankan tiga poin penting yang bisa dipelajari dari penanganan otoritas Australia. Pertama, ia memuji ketajaman investigasi otoritas Australia dalam menelusuri riwayat penyakit dengan sangat rinci. Kedua, transparansi informasi kepada warga mengenai lokasi dan waktu penularan hingga detail menitnya dinilai sangat luar biasa. ”Dua hal ini tentu dapat menjadi benchmark atau tolak ukur penyelidikan epidemiologik (PE) yang amat baik,” ujar Prof. Tjandra dalam keterangannya pada Sabtu (21/2/2026).
Poin ketiga yang disoroti adalah perlunya kewaspadaan domestik. Mengingat kasus itu berasal dari Jakarta, Prof. Tjandra menyarankan otoritas kesehatan Indonesia untuk segera melacak tempat tinggal atau tempat kerja pasien, memeriksa status imunisasi, serta memantau potensi penularan di lingkungan sekitarnya di Indonesia. (dtc/mmr)










