koranindopos.com – Jakarta, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding menegaskan komitmennya untuk mengurangi jumlah pekerja migran di sektor domestik yang saat ini mencapai 80 persen.
“Sebanyak 80 persen pekerja migran Indonesia berada di sektor domestik, dan 70 persen di antaranya adalah perempuan dengan tingkat pendidikan rata-rata SD hingga SMP, serta sedikit yang lulusan SMA,” ujar Menteri P2MI pada Jumat (7/3/2025).
Sebagai langkah strategis, Kementerian P2MI menjalin kerja sama dengan Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Terbuka (UT) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pekerja migran dan mengarahkan mereka ke sektor yang lebih profesional.
“Jadi kami harus menyiapkan dan mengonsolidasikan seluruh lembaga pelatihan yang ada. Misalnya Undip akan fokus pada bidang perikanan dengan pelatihan bahasa asing seperti bahasa Inggris, sementara Universitas Terbuka akan menghubungkan langsung pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja,” jelas Menteri P2MI.
Wakil Rektor Universitas Terbuka, Rahmat Budiman, menegaskan komitmen UT dalam meningkatkan akses pendidikan bagi pekerja migran. UT menawarkan program fleksibel yang memungkinkan mereka bekerja sambil kuliah.
“Fleksibilitas waktu antara bekerja dan kuliah yang ditawarkan UT membuka peluang bagi pekerja migran Indonesia untuk mendapatkan pendidikan formal, bahkan ketika mereka berada di luar negeri,” kata Rahmat Budiman.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan keterampilan pekerja migran serta mengarahkan mereka ke sektor yang lebih profesional, sehingga ketergantungan pada sektor domestik dapat dikurangi secara bertahap. (hai)










