Koranindopos.com, Jakarta – Di tengah maraknya fenomena gaya hidup instan dan jeratan utang digital, rumah produksi Rollink Action menghadirkan film horor terbaru berjudul “Aku Harus Mati”. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 2 April 2026, dengan membawa pendekatan berbeda: horor sebagai medium kritik sosial.
Diproduseri oleh Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta disutradarai Hestu Saputra, film ini tidak hanya mengandalkan elemen supranatural. Ceritanya justru menyoroti realitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban, terutama terkait tekanan sosial, budaya flexing, hingga praktik pinjaman online (pinjol).
“Genre horor dipilih karena memiliki kontribusi penonton yang besar, sekitar 60 persen. Kami ingin pesan yang kami bawa bisa terserap lebih luas,” ujar Irsan Yapto.
Berbeda dari film horor konvensional, “Aku Harus Mati” menempatkan isu “jual jiwa demi harta” sebagai inti cerita. Fenomena ini digambarkan melalui karakter Mala, diperankan Hana Saraswati, yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif hingga terlilit utang digital.
Menurut Hana, tema tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Menurut aku, jual jiwa demi harta itu dekat dengan kita. Kita sering jual ketenangan batin demi hal yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan. Apalagi pinjol sekarang gampang banget. Selagi enggak penting-penting banget, enggak usah,” ujarnya.
Sutradara Hestu Saputra menambahkan bahwa ide cerita berangkat dari keresahan tim kreatif terhadap normalisasi utang instan di masyarakat.
“Kita melihat di media sosial, fenomena pinjol itu seperti hal yang biasa. Padahal dampaknya besar. Itu yang jadi motivasi kami, bagaimana narasi ini tidak terus dinormalisasi,” katanya.

Film yang ditulis oleh Aroe Ama ini mengikuti perjalanan Mala, seorang yatim piatu yang kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Ia bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta sosok Ki Jago (Bambang Paningron) yang dianggap sebagai figur ayah.
Namun, kepulangan tersebut justru membuka teror baru. Mala mengalami kejadian mistis setelah mata batinnya terbuka secara misterius. Ia kemudian dihadapkan pada fakta kelam tentang keluarganya: adanya perjanjian dengan kekuatan gaib yang menuntut tumbal nyawa sebagai imbalan kesuksesan.
Cerita berkembang menuju konflik batin yang intens, ketika Mala harus menghadapi pilihan sulit yang menyangkut nyawa orang-orang terdekatnya.
Hestu menegaskan bahwa film ini tidak sekadar menghadirkan ketakutan, tetapi juga pesan moral.
“Sukses jalur kilat tidak pernah ada. Kesuksesan harus diusahakan. Kalau kita memilih jalan instan, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menagih di kemudian hari,” ujarnya.
Pesan tersebut diperkuat dengan sudut pandang spiritual yang juga dihadirkan dalam film, termasuk konsultasi dengan pakar spiritual Ria Puspita untuk menjaga akurasi penggambaran ritual dan dunia gaib.
Menurut Ria, praktik pesugihan maupun kepercayaan terhadap entitas gaib masih ada di masyarakat modern, hanya saja sering tersembunyi di balik kemajuan digital. Ia menilai, keinginan instan untuk kaya tetap menjadi celah yang dimanfaatkan.
Proses produksi film ini juga menyisakan pengalaman tak terlupakan bagi para pemain. Hana Saraswati mengaku mengalami perubahan sensitivitas terhadap hal mistis setelah menjalani adegan pembukaan mata batin.
“Adegan itu paling berkesan. Saat syuting tidak terasa apa-apa, tapi setelahnya saya jadi lebih sensitif terhadap hal-hal mistis,” ungkapnya.
Cerita serupa juga datang dari pemeran Tiwi, yang mengaku mengalami gangguan saat masa syuting, mulai dari perasaan diawasi hingga kejadian aneh di lokasi penginapan.
Melalui “Aku Harus Mati”, Rollink Action mencoba menghadirkan refleksi atas fenomena sosial yang kian marak, mulai dari flexing di media sosial hingga jeratan utang digital.
Alih-alih sekadar menakut-nakuti, film ini mengajak penonton memahami bahwa teror terbesar bukan berasal dari dunia gaib, melainkan dari keputusan manusia sendiri dalam mengejar pengakuan dan kemewahan. (BRG/Kul)










