Impresif. Debut Anies Baswedan mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta sukses menarik simpatik. Keberuntungan pun sedang memihak. Enam bulan sebelum lengser, badai pandemi mereda. Peluang terbuka. Ya, peluang! Peluang yang tidak semua kepala daerah punya. Sebab, tidak semua isi kocek pemerintah daerah sanggup mendanai pembangunan sirkuit hanya untuk ajang balap sehari dan stadion megah skala internasional. Ya! Hanya DKI Jakarta.
Sejatinya, Anda pun bisa. Siapa pun orangnya bisa langsung dapat nama. Berdiri di atas podium meresmikan ajang balap mobil listrik Jakarta E-Prix dan Jakarta International Stadium (JIS). Momen itu lah yang ditunggu-tungggu. Sedari dulu. Yang seharusnya sudah tercapai jika badai Covid-19 tidak melanda.
Namun, itu semua ada hikmahnya. Korona mereda sebelum Oktober 2022. Momentumnya pas. Tidak terlalu jauh atau pun terlampau dekat. Paling tidak, nama Anies belum lekang di benak publik menjelang tahun politik. Maka wajar, jika tim di belakang Anies yang berperan memoles citra langsung gercep (gerak cepat). Termasuk di antaranya para badan usaha milik daerah (BUMD). Seperti PT Jakarta Propertindo (Jakpro) yang ditugasi khusus menyelenggarakan Jakarta E-Prix dan pembangunan JIS.
Meskipun, cara kerja Jakpro dianggap oleh para parlemen Kebon Sirih bolong sana-sini. Misalnya, tugas Jakpro mengatasi persoalan pengelolaan sampah dengan membangun Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara, yang masih mangkrak. Proyek itu macet sejak groundbreaking pada 2018. Padahal, sampah adalah hajat rakyat banyak.
Tidak hanya itu. Hebatnya lagi, DKI Jakarta yang langka lahan pertanian, mampu ekspor beras ke Riyadh, Arab Saudi. Lagi-lagi, BUMD yang dipecuti. Kali ini, giliran PT Food Station Tjipinang Jaya yang bertugas dalam pengendalian stok pangan di ibu kota diminta menyediakan 19 ton beras terbaik. Tak tanggung-tanggung varietas Ciherang IR 64. Pertanyaannya beras itu dari mana?
Mengutip pernyataan Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Pamrihadi Wiraryo kepada awak media, beras itu berasal dari Jawa Barat. ”Beras yang dilepas ini diproduksi di Indramayu dengan varietas Ciherang IR 64,” ujar Pamrihadi. Silahkan Anda menilai sendiri. Apakah makna ekspor tersebut tepat disematkan kepada DKI Jakarta. (*)









