Koranindopos.com, JAKARTA-Long weekend ke Bali belum lengkap jika tidak mampir ke Kabupaten Tabanan. Tepatnya ke objek wisata berbasis subak atau sistem irigasi sawah tradisional Bali. Destinasi yang berada di Kecamatan Penebel tersebut baru-baru ini meraih penghargaan internasional, Asian Tourism & Hospitality Awards 2025–2026.
Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih menyelenggarakan Jatiluwih Festival 2026. Ajang tersebut dikombinasikan denga lari santai Bali Tourism Run. “Salah satu tujuan kami memperkuat citra agar peserta tahu Jatiluwih saat ini aman-aman saja,” kata Manager Operasional DTW Jatiluwih John Ketut Purna di Denpasar, Rabu (28/5/2026).
Sebelumnya, objek wisata tersebut sempat sepi karena efek konflik terkait pelanggaran tata ruang. Itu terjadi karena sejumlah usaha pariwisata yang membuat bangunan di area subak berstatus Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO tersebut disegel pemerintah, hingga akhirnya muncul perlawanan dengan memasang pagar seng.
Menurut Ketut Purna, ajang Jatiluwih Festival 2026 bertujuan untuk memperkuat citra pariwisata kawasan. ”Festival digelar pada 20–21 Juni 2026. Pada hari pertama diwarnai pertunjukan-pertunjukan hiburan dan memberi pengalaman langsung kepada pengunjung bertani di sawah, khususnya memanen karena momen tersebut bertepatan dengan musim panen,” bebernya.
Pada hari kedua ditargetkan 2.000 peserta lari santai bergabung untuk menikmati khasnya pariwisata di Jatiluwih, yaitu hamparan sawah berundak yang sedang di masa panen raya. Untuk semakin mensejahterakan petani dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal, selama kegiatan akan disediakan puluhan UMKM produk pangan lokal.
Para pengunjung DTW yang membeli tiket lari santai akan mendapat paket kupon berbelanja di UMKM, sehingga pelaku usaha tak perlu khawatir produknya tidak laku dan peserta merasakan pengalaman positif sepanjang acara.
Dengan begitu festival tersebut bisa kembali mendapatkan hati wisatawan, dimana pascakonflik pagar seng kunjungan sempat turun ke angka 500-600 kunjungan per hari dari yang sebelumnya bisa menembus 1.000 kunjungan. (dtk/mmr)










