Koranindopos.com, Jakarta – Kabar gembira menghampiri para pecinta sinema Tanah Air setelah rumah produksi Soraya Intercine Films mengumumkan proyek film terbaru mereka. Sinematografi Indonesia siap disuguhi visual memukau lewat tajuk film 5 Cm. Revolusi Hati di bawah komando sutradara Emil Rahadi.
Kejutan besar mewarnai jajaran jajaran pemain yang akan mengisi jajaran karakter utama. Aktor muda berbakat Roman King secara resmi terpilih untuk menghidupkan karakter Zafran, peran ikonik yang pernah dipopulerkan oleh Herjunot Ali pada karya sebelumnya.
Kepastian mengenai proyek layar lebar ini disampaikan langsung oleh produser Sunil Soraya kepada awak media. Sesi konferensi pers pengenalan jajaran pemain tersebut berlangsung di kantor Soraya Intercine Film, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada Selasa (22/9/2026).
Secara garis besar, jalan cerita film ini mengambil latar belakang waktu yang jauh berbeda dari sekuel terdahulu. Fokus narasi difokuskan pada petualangan masa remaja Zafran ketika menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama.
“Cerita tentang Zafran waktu tahun terakhir SMP dengan teman-temannya sebelum dia ketemu dan Arial dan lain-lain (film 5cm. yang dulu). Jadi, yang lain Zafran belum ketemu pada saat SMP sesuai dengan bukunya ya. Nah ini ketemunya nanti,” kata Sunil dalam jumpa cast reveal di kantor Soraya Intercine Film di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).
Eksplorasi karakter Zafran masa SMP ini dihadirkan untuk menjawab rasa penasaran penonton mengenai asal-usul sang tokoh. Berbagai kisah unik serta ikatan persahabatan di masa sekolah menjadi sajian utama yang melandasi jalannya narasi.
“Jadi ini ceritanya tahun terakhir SMP mereka gitu dan kisah Zafran apa yang dia pernah lakuin di SMP, apa cerita dia dengan sahabatnya, gimana dia bisa apa yang terjadi setelah SMP dan lain-lain mungkin sebagai itu ya,” tambah Sunil.
Guna menghadirkan estetika visual yang kuat, tim produksi telah menentukan sejumlah spot pengambilan gambar yang masih terisolasi. Latar alam yang menyajikan keindahan pesisir hingga kedalaman bawah laut menjadi fokus utama lokasi perekaman.
“Nah ini lokasinya yang dipilih masih rahasia sekarang. Mungkin nanti kalau di trailernya atau di filmnya bisa lihat, tapi memang tempat-tempatnya baru belum terlalu dijelajahi mungkin ya tapi memang kita mencari ekosistem underwater dan ekosistem di atas segala macam. Ini yang paling cocok buat cerita film ini,” tutur Sunil.
Penetapan lokasi geografis tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan keutuhan skenario. Integrasi antara latar tempat dan alur skrip menjadi prioritas utama demi menjaga bobot kualitas cerita yang disampaikan.
“Jadi kita enggak kita enggak memisahkan lokasi dengan cerita, ceritanya membutuhkan lokasi ini makanya kita memilih lokasi ini,” ungkap Sunil.
Konsep visual perairan ini membawa konsekuensi tersendiri pada pembengkakan estimasi anggaran operasional. Biaya pembuatan karya layar lebar kali ini diakui melampaui besaran alokasi dana dari proyek pendahulunya.
“Tambahan kalau soal tantangan dan hambatannya lebih banyak mana dibanding gunung atau di laut mungkin, lebih menguras budget yang mana gitu. Mungkin tantangannya kalau gunung harus naik gunung dan harus punya stamina segala macam,” ungkap Sunil.
Tingkat risiko eksekusi adegan di area laut terbuka menjadi pemicu utama melonjaknya kebutuhan dana. Pengambilan gambar adegan ekstrem di tengah cuaca buruk membutuhkan persiapan teknis serta tingkat keamanan yang sangat tinggi.
“Kalau laut sangat berbahaya karena laut itu luas dan kami juga ada adegan badai dan lain-lain di tengah laut dan syutingnya itu dengan cuacanya cukup cukup sulit ya. Kalau budget mungkin di laut mungkin lebih ya,” tambah Sunil.
Proyek sinematik ini semakin semarak dengan keterlibatan jajaran aktor dan aktris muda potensial lainnya. Nama-nama seperti Ali Fikry, Bima Sena, Olivia Morisson, Rachel Aseelah, serta Ronggo Vercaemer dipastikan siap memberikan performa akting terbaik mereka. (BRG/Kul)










