Koranindopos.com, JAKARTA – Dua kebijakan baru mulai diterapkan untuk pengguna Transjakarta kemarin (4/10). Yakni, harus tap in-tap out serta one passenger one card (satu penumpang satu kartu). Akibat penerapan aturan tersebut, antrean tampak mengular di beberapa halte Transportasi Jakarta (TJ) kemarin pagi. Sebab, banyak pengguna TJ yang kesulitan saat melakukan tap-in di halte. Kartu elektronik beberapa pelanggan tidak bisa membuka gate halte TJ secara otomatis. Bahkan, banyak penumpang TJ yang kartunya terblokir.
Misalnya Ardhito, 28. Penumpang yang berangkat dari Halte Kebun Jeruk tersebut harus merasakan antre dan kartunya terblokir. ”Semalam itu naik bus TJ dari Sarinah ke Tanah Abang, bus non-BRT. Itu kan hanya sekali tap, tidak ada harus tap in-tap out. Ini mau tap in tadi (kemarin) malah kartunya terblokir,’’ ujarnya. Dia menyayangkan PT TJ yang tidak melakukan sosialisasi terkait kebijakan tersebut.
Terkait antrean yang mengular dan banyaknya penumpang TJ yang kartunya terblokir, PT Jak Lingko Indonesia (JLI) tidak menampiknya. Mereka menyebutnya sebagai dampak penerapan bisnis baru pada TJ. Yakni, one passenger one card dan kewajiban tap in-out di setiap perjalanan.
Direktur Utama PT JLI Muhamad Kamaluddin menuturkan, kebijakan tap in-tap out dan one passenger one card memang kebijakan baru. ’’Sebetulnya, sistem ini sudah berfungsi sekarang. Namun, memang kami mohon maaf apabila ada pengguna yang mengalami masalah di pagi hari karena kemarin malamnya, saat perjalanan, belum melakukan tap-out sehingga pada pagi hari ini berusaha tap-in. Kemudian, kartunya menjadi terblokir,’’ terangnya.
Untuk kartu elektronik pelanggan yang terblokir, Kamaluddin menyebutkan bisa digunakan kembali, tapi harus di-reset dulu di halte-halte. ”Nanti akan dibantu petugas TJ. Tapi, harus dipastikan ada saldo Rp 5 ribu di dalam kartu ketika melakukan reset. Ke depan, perlu disiplin melakukan tap-in tap-out,’’ katanya.
Terkait banyaknya penumpang yang menjadi korban, Kamaluddin membantah bahwa pihaknya tidak melakukan sosialisasi sebelum menerapkan aturan itu. ’’Sebetulnya kami sudah melakukan sosialisasi melalui media sosial Jak Lingko. Apabila ada pengguna yang belum mengetahui proses peralihan ini, ke depan, kami akan tingkatkan lagi sosialisasinya,’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Kamaluddin juga menjelaskan, penerapan dua kebijakan tersebut akan memberikan banyak manfaat kepada pengguna transportasi massal di Jakarta. Khususnya TJ, MRT, dan LRT. ’’Tap-in tap-out ini ke depannya memberikan manfaat kepada pengguna untuk bisa menikmati tarif integrasi dengan tarif maksimal Rp 10 ribu selama tiga jam,’’ paparnya.
Kamaluddin juga mengakui, kebijakan itu tidak hanya dilakukan untuk TJ, tetapi juga LRT dan MRT. Namun, karena LRT dan MRT sudah menerapkan dua kebijakan tersebut, tidak ada kendala yang sama di keduanya. ”Saat ini, kami terus berkoordinasi intensif dengan Transjakarta. Mudah-mudahan tidak ada kendala seperti ini lagi,’’ imbuhnya.
Banyaknya penumpang yang perjalanannya terkendala karena harus mengantre dan me-reset kartu membuat PT TJ mulai menggiatkan sosialisasi melalui media sosial kemarin. Dalam sosialisasinya, Kepala Divisi Sekretaris PT TJ Anang Rizkani Noor menuturkan bahwa kebijakan tersebut diberlakukan mulai kemarin.
”Apabila pelanggan tidak melakukan tempel kartu, baik saat naik atau turun, konsekuensinya kartu akan terblokir. Pelanggan perlu melakukan atur ulang atau reset dan biaya perjalanan sebelumnya akan dikenakan pada perjalanan berikutnya,’’ ujarnya. (wyu/mmr)










