Koranindopos.com, Jakarta – Kehangatan keluarga menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak, terutama di wilayah yang minim fasilitas. Hal inilah yang ditekankan oleh selebritas Ayu Dewi saat menghadiri diskusi mengenai pemerataan pendidikan inklusif di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Ibu tiga anak ini memaparkan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat di pelosok negeri. Menurutnya, akses pendidikan yang merata bukan sekadar tentang gedung sekolah, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat disampaikan melalui pola asuh yang menyenangkan dan penuh kasih sayang dari orang tua.
”Untuk anak anak yang ada di pelosok yang belum terjangkau dengan segala macam fasilitas, jujur kita semua orang tua yang ada di sini merasakan privilege kemewahan dengan rezeki lebih, kita terbuka dengan ilmu,” ujar Ayu Dewi saat diacara program OREO Berbagi Seru, di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2026).

Ayu memahami bahwa realita di lapangan sangatlah berat bagi para pekerja kasar atau petani di desa-desa terpencil. Waktu yang habis di ladang atau sawah seringkali membuat mereka kehilangan energi untuk sekadar menemani anak belajar atau bermain di rumah.
”Tapi buat para orangtua yang ada di pelosok mungkin waktunya terbagi-bagi, bekerja, pulang dan tidur kapan dia punya waktu sama anak, kapan dia ngajarin anak boro-boro ilmu waktu aja dia gak punya,” lanjut Ayu Dewi.
Kehadiran bantuan media permainan edukatif dipandang sebagai solusi praktis. Bagi Ayu, permainan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana komunikasi yang efektif untuk menjaga kedekatan emosional antara ibu dan anak di tengah himpitan ekonomi dan kesibukan bekerja.
”Dengan adanya alat-alat (berupa mainan yang dibagiin sama teman teman Oreo Berbagi Seru) siapa thu saudara-saudara kita yang kekurangan setelah pulang dari kerja di sawah bisa terbantu dengan adanya alat ini. Mereka punya waktu berbagi keseruan sambil ngajarin anak, di mana ikatan anak dan ibu bisa terjaga hangat,” ujarnya.
Dalam narasi yang ia bangun, Ayu Dewi mengajak para orang tua untuk menciptakan momen-momen kecil yang bermakna. Ia berpendapat bahwa kebahagiaan anak tidak selalu diukur dari barang mewah, melainkan dari kehadiran orang tua dalam setiap rutinitas sederhana di rumah.
”Minimal selalu melakukan sesuatu bareng-bareng. Contoh dalam keseharian ngobrol bareng, main gitar atau alat musik bareng, semuanya kita lakukan se-sederhana mungkin bareng-bareng sebagai sebuah keluarga, karena aku percaya kehangatan bisa muncul, keseruan timbul, dan meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak,” ujar Ayu Dewi.
Diskusi ini juga dihadiri oleh para ahli, termasuk perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta psikolog anak. Kehadiran mereka memperkuat argumen Ayu bahwa kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan tokoh publik sangat diperlukan untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif.
Melalui dukungannya ini, Ayu Dewi menitipkan harapan besar bagi generasi penerus bangsa. Ia percaya bahwa dengan perhatian yang cukup pada masa kanak-kanak, kualitas sumber daya manusia di Indonesia akan meningkat secara signifikan di masa depan.
”Semoga ini menjadi awal untuk punya masa depan yang cerah dan merata di seluruh Indonesia,” pungkas Ayu Dewi sambil mengungkapkan harapannya.
Dalam talkshow untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional lewat program OREO Berbagi Seru mendukung visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) ini juga dihadiri oleh Anggya Kumala (Marketing Director Mondelez Indonesia), Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A (Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T), dan Irma Gustiana A., A.Psi., M.Psi. (Psikolog Anak & Keluarga). (BRG/Hend)










