Koranindopos.com, Jakarta — Industri sinema horor tanah air kembali diguncang oleh terobosan berani dari tangan dingin sutradara ternama, Anggy Umbara. Lewat karya sinematik terbarunya yang bertajuk 402 Rumah Sakit Korea, Anggy menyuguhkan sebuah sajian mencekam dengan mengadopsi teknik rekaman mentah alias found footage secara penuh. Proyek ambisius yang diproduksi oleh kolaborasi antara MD Pictures bersama Umbara Brothers Films ini menandai tonggak sejarah baru, lantaran menjadi pengalaman pertama bagi sang sutradara dalam menggarap film berformat tersebut di sepanjang rekam jejak kariernya.
Langkah revolusioner ini tentu tidak dilalui dengan mudah oleh seluruh jajaran kru yang terlibat di balik layar. Berbicara dalam sesi jumpa pers resmi yang diselenggarakan di CGV Grand Indonesia, kawasan Jakarta Pusat, pada Senin (6/7/2026), Anggy membeberkan secara gamblang mengenai
rumitnya persiapan teknis yang melatarbelakangi pembuatan film ini.
Sejak lembaran naskah mulai digodok, komitmen besar langsung dicanangkan demi menjaga marwah kualitas tayangan agar tidak terkesan murahan. Anggy menekankan pentingnya keselarasan gerak antara tim kreatif pembuat cerita dengan tim teknis yang mengeksekusi visual di lapangan. Hal tersebut dilakukan agar sensasi kamera genggam yang disajikan mampu memberikan pengalaman menonton yang sangat autentik, berstandar tinggi, dan berbeda dari film sejenis pada umumnya.
“Jadi ketika izin gol, bener-bener langsung berjalan bareng antara creativity dan teknis. Kreatif ya ngomong sama Lele (penulis) bahwa harus begini. Jadi kita bener-bener pengen bikin film found footage yang bener-bener prosesnya itu dan hasilnya itu terjaga banget kualitasnya,” ujar Anggy Umbara.
Guna mewujudkan visi tersebut, tim produksi terpaksa melakukan berbagai eksperimen ekstrem, salah satunya dengan merancang perangkat penopang kamera khusus yang dipasangkan langsung ke badan para pemeran. Proses pembuatan penyangga tubuh atau body rig ini diakui menjadi salah satu fase paling menguras energi karena harus melewati rangkaian uji coba berulang kali demi keselamatan para aktor.
“Ya itu yang harus kita bedah terlebih dahulu, membuat rigging di badan para pemain. Itu prosesnya satu tahun untuk membuat body rig gitu. Dari mulai kita bubut, desain dulu pakai besi. Ternyata berat sekali kalau pakai besi, kokoh, tapi berat sekali. Kalau untuk adegan berbahaya itu sangat berbahaya,” kenang Anggy.
Kendala bobot besi yang dinilai terlalu berisiko kemudian memaksa kru memutar otak untuk mencari alternatif material lain yang lebih bersahabat. Tim produksi sempat mengalihkan pilihan pada logam aluminium yang secara fisik jauh lebih ringan dan mudah dibentuk sesuai kebutuhan postur tubuh manusia.
Sayangnya, material kedua ini justru menemui kegagalan fungsional karena strukturnya yang rapuh dan mudah melengkung akibat tidak kuat menahan beban dari berbagai perlengkapan syuting yang kompleks.
Titik terang akhirnya muncul ketika tim produksi memutuskan untuk memanfaatkan keunggulan
teknologi modern berupa mesin cetak tiga dimensi atau 3D printing. Dengan memformulasikan bahan
dasar resin yang dikombinasikan dengan campuran zat khusus, mereka berhasil menciptakan sebuah mahakarya pelindung yang solid sekaligus aman.
“Jadi kita bikin dulu secara 3D, terus kita print 3D nya gitu kan dengan bahan resin campur beberapa bahan lainnya agar itu kuat tapi juga nggak lemah,” tambah Anggy.
Tantangan tidak berhenti pada persoalan berat alat saja, melainkan merembet hingga ke urusan tata cahaya atau pencahayaan di dalam ruang syuting.
Mengingat format film ini mengusung sudut pandang mata kamera karakter, maka keberadaan lampu sorot profesional tidak boleh bocor ke dalam frame sama sekali. Konsekuensinya, kru harus merekam sebuah adegan secara berulang-ulang tanpa lampu dan menggunakan lampu, lalu menghapus keberadaan fisik lampu tersebut secara digital lewat proses masking yang rumit saat pascaproduksi.
“Kita enggak boleh kelihatan lampu sama sekali. Sedangkan ya harus, kalau enggak, enggak kelihatan shape body-nya atau lokasinya. Jadi kita ngambil beberapa kali. Satu yang tanpa lampu, satu yang pakai lampu. Yang kelihatan lampunya baru kita masking sendiri, kita ilangilangin lampunya,” ucap Anggy.
Puncak kerumitan dari proyek ini terletak pada ruang penyuntingan gambar akibat penggunaan total 28 kamera yang diaktifkan secara simultan demi menangkap setiap sudut teror. Anggy mengaku proses kompilasi data visual kali ini menjadi pengalaman yang paling menguras pikiran karena membutuhkan waktu berhari-hari demi menyelaraskan ritme cerita.
“Biasanya syuting cuma satu atau dua kamera, ini 28 kamera. Itu meng-assemble hasil syutingnya itu berhari-hari. Kalau biasa kan assemble 4 jam atau 6 jam, ini enggak, 3 hari gitu. 24 jam dikali 3,” tutup Anggy.
Segala pengorbanan, cucuran keringat, dan idealisme tinggi yang dicurahkan oleh Anggy Umbara bersama seluruh kru akhirnya membuahkan apresiasi yang sangat prestisius. Film 402 Rumah Sakit Korea secara resmi terpilih untuk melangsungkan pemutaran perdana dunia atau World Premiere di ajang bergengsi Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026 di Korea Selatan. (BRG/Hend)










