Koranindopos.com – JAKARTA – Pasar kripto kembali berada di bawah tekanan setelah harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang kripto terbesar di dunia tersebut sempat menyentuh level terendah intraday di angka US$58.995 atau sekitar Rp1,05 miliar dengan asumsi kurs Rp17.947 per dolar AS.
Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan Bitcoin yang sepanjang tahun 2026 masih kesulitan mempertahankan posisi di atas level psikologis US$60.000. Dibandingkan dengan puncak harga yang pernah dicapai tahun lalu, nilai Bitcoin kini telah terkoreksi sekitar 52 persen.
Meski harga Bitcoin mengalami penurunan tajam, sejumlah pelaku pasar menilai tekanan yang terjadi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sesungguhnya. Aktivitas perdagangan derivatif, khususnya pada produk ETF berbasis Bitcoin, menunjukkan investor masih bersikap sangat hati-hati terhadap prospek aset digital tersebut.
Data perdagangan menunjukkan ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT) mencatat aktivitas opsi yang sangat tinggi. Volume transaksi opsi mencapai hampir 1,1 juta kontrak dalam sehari, dengan dominasi kuat pada kontrak opsi jual atau put option.
Investor tercatat membeli sekitar 275.000 kontrak opsi put, jauh lebih tinggi dibandingkan opsi call yang hanya berada di bawah 129.000 kontrak. Kondisi ini mengindikasikan bahwa mayoritas pelaku pasar masih mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan penurunan harga lebih lanjut.
Dari total premi opsi yang diperdagangkan pada IBIT senilai sekitar US$187 juta, sebagian besar atau sekitar US$144 juta berasal dari transaksi opsi put. Bahkan dari 20 kontrak yang paling aktif diperdagangkan berdasarkan volume, sebanyak 19 kontrak merupakan opsi jual.
Fenomena tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan investor untuk melindungi portofolio mereka dari risiko pelemahan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Salah satu kontrak yang paling banyak diminati adalah opsi put dengan harga pelaksanaan 32,5 yang akan berakhir pada Jumat. Posisi ini memberikan keuntungan bagi investor jika harga terus mengalami penurunan dalam waktu dekat.
Meski sentimen pasar cenderung negatif, volatilitas ETF Bitcoin saat ini masih berada pada level yang relatif terkendali. Indikator volatilitas IBIT tercatat di angka 53, yang menunjukkan ekspektasi pergerakan harga sekitar 3 persen per hari.
Berdasarkan perhitungan harga opsi yang jatuh tempo pada akhir Juli 2026, terdapat peluang sekitar 48 persen bahwa harga IBIT akan turun lebih dari 10 persen dari posisi saat ini.
Namun di sisi lain, peluang kenaikan sebesar 10 persen dalam periode yang sama juga masih cukup besar, yakni sekitar 55 persen. Hal ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi, di mana arah pergerakan selanjutnya belum sepenuhnya jelas.
Di tengah tekanan yang dialami Bitcoin, perhatian investor global saat ini banyak beralih ke sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kinerja saham-saham perusahaan teknologi berbasis AI yang terus menguat membuat sebagian dana investasi berpindah dari aset kripto ke instrumen yang dianggap lebih menjanjikan.
CEO Two Prime, Alexander Blume, menilai Bitcoin saat ini menghadapi tantangan besar untuk kembali menarik perhatian investor.
Menurutnya, dominasi narasi AI di pasar keuangan membuat Bitcoin kehilangan momentum yang sebelumnya menjadi daya tarik utama bagi investor spekulatif maupun institusional.
Selain itu, ketidakpastian terkait sejumlah perusahaan besar yang memiliki eksposur tinggi terhadap Bitcoin juga turut memengaruhi sentimen pasar. Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset kripto.
Analis menilai pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, serta arus investasi institusional ke produk-produk ETF berbasis kripto.
Selama belum muncul katalis positif yang kuat, volatilitas tinggi diperkirakan masih akan membayangi pasar aset digital. Meski demikian, sebagian investor jangka panjang tetap melihat koreksi harga saat ini sebagai peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Dengan harga yang masih bergerak di sekitar level US$60.000, Bitcoin kini berada pada fase penting yang akan menentukan arah tren pasar kripto untuk sisa tahun 2026.(dhil/dtk)









