Koranindopos.com, JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Korea Utara (Kemlu Korut) menegaskan tidak akan melakukan denuklirisasi, seperti yang diinginkan Amerika Serikat (AS). Dikutip kantor berita Korut KCNA, seorang juru bicara Kemlu Korut mengatakan posisi Pyongyang tidak pernah berubah dan akan terus menggenjot kekuatan nuklir, terlepas dari desakan berulang Amerika Serikat.
Sumber tersebut berujar, komitmen AS agar Korut denuklirisasi total membuktikan bahwa Washington terus bersikap konfrontatif terhadap Pyongyang. “Dengan demikian, pemerintahan (Presiden AS Donald) Trump telah sepenuhnya menegaskan kembali kebijakan permusuhannya yang tak berubah untuk secara sembarangan melanggar kedaulatan, sistem politik, dan kepentingan keamanan DPRK (nama resmi Korea Utara),” kata juru bicara tersebut.
Juru bicara itu menyampaikan senjata nuklir merupakan “jaminan mutlak untuk mempertahankan kedaulatan” Korea Utara. Status nuklir Korut, kata dia, tidak akan melemah hanya karena tuntutan Washington. Dalam pernyataan yang sama, sang juru bicara juga mengkritik rencana latihan militer gabungan antara AS, Korea Selatan (Korsel), dan Jepang pada September mendatang. Ia menegaskan “tak ada gunanya” mengharapkan ketegangan kawasan mereda jika latihan provokatif semacam itu masih dilakukan.
Pernyataan Korut ini disampaikan setelah Trump bulan ini memerintahkan pengurangan skala latihan bersama AS-Korsel bertajuk Ulchi Freedom Shield. Trump ketika itu beralasan latihan tersebut mahal dan mengirimkan sinyal buruk kepada Pyongyang. Ia saat itu juga mengaku memiliki hubungan sangat baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Belakangan, Trump dikabarkan meminta bawahannya untuk menyusun agenda pertemuan dengan Kim Jong Un. Trump ingin bertatap muka dengan Kim saat ia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China, pada November mendatang.
Trump sempat mengaku bahwa Kim Jong Un telah merespons ajakannya untuk bertemu. Kendati begitu, saudara perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, tak tahu soal komunikasi tersebut. Kim Yo Jong juga mengomentari keputusan Trump mempersingkat durasi latihan militer bersama Korsel, dengan menyebut langkah tersebut tetap provokatif dan agresif. (cnni/mmr)









