
BANYUWANGI, koranindopos.com – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo mengajak seluruh elemen masyarakat memerangi radikalisme dan terorisme. Khususnya para tokoh masyarakat, alim ulama, guru, dan ASN agar aktif menyampaikan pesan kegotongroyongan, Pancasila, NKRI, dan pesan UUD 1945. Kurangnya pendidikan toleransi antar umat beragama dan bermasyarakat dinilainya menjadi salah satu penyebab paham radikalisme menyebar dengan cepat.
“Saya ingin menegaskan kita harus bisa menentukan sikap. Menentukan siapa kawan dan siapa lawan pada kelompok, perorangan, atau golongan yang anti Pancasila, anti Bhinneka Tunggal Ika, anti NKRI, anti kemajemukan bangsa dan UUD 1945,” tegas Tjahjo saat memberikan arahan dalam peresmian Warung NKRI, di Banyuwangi, Kamis (20/01). Dia teringat dengan arahan Presiden RI Joko Widodo yang dalam berbagai kesempatan menyampaikan pentingnya antisipasi bangsa terhadap ancaman ketahanan dan keamanan nasional di tengah mudahnya keterbukaan informasi dan akses jaringan komunikasi.
Menurut Tjahjo, Presiden Jokowi juga berpesan bahwa bidang pertahanan-keamanan harus tanggap dan siap menghadapi perang siber, menghadapi intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Apalagi, pemahaman-pemahaman intoleransi yang mengarah pada sumbu radikalisme telah menyebar bahkan hingga ke pelosok daerah terpencil. “Di sinilah peran sosialisasi dan pembinaan tindakan gencar dilakukan pemerintah sebagai langkah preventif agar tidak terjadi pelanggaran terkait komitmen kebangsaan dan tindakan radikalisme,” papar Tjahjo.
Politisi PDIP itu mengungkapkan berbagai upaya yang telah dilakukannya bersama lembaga lain untuk menanggulangi penyebaran paham-paham yang mengancam ideologi bangsa. Salah satunya dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui program Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan (WARUNG) NKRI. Dia mengapresiasi upaya BNPT yang menghadirkan Warung NKRI sebagai terobosan sederhana, namun mengena ke seluruh lapisan masyarakat guna memberantas paham radikalisme terutama pada kawasan wisata dan industri.
“Jangan dianggap Warung NKRI ini sekadar warung tapi bagaimana warung ini sebagai tempat berkumpul, berdialog dan berkomunikasi masyarakat dari berbagai latar belakang,” tandas Tjahjo.(hai)










