koranindopos.com, Jakarta – Isu mobilitas perkotaan selama ini kerap berfokus pada jalan raya, kemacetan, dan transportasi publik. Padahal, area parkir memiliki peran yang tidak kalah menentukan dalam membentuk kelancaran pergerakan kendaraan di kota besar.
Ketersediaan lahan, jarak parkir dari tujuan, hingga sistem pelayanan kerap menjadi persoalan sehari-hari bagi pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan di wilayah urban tidak berhenti di jalan, melainkan berlanjut hingga kendaraan diparkir.
Chief Executive Officer Centrepark, Charles Richard Oentomo, menilai pengelolaan parkir memiliki dampak langsung terhadap keteraturan mobilitas kota. Menurutnya, setiap perjalanan dimulai dan diakhiri di area parkir, sehingga kualitas tata kelolanya turut memengaruhi pengalaman masyarakat.
“Parkir sering kali bekerja di balik layar, tetapi efeknya terasa pada alur pergerakan kota dan kenyamanan pengguna,” ujar Charles dalam jumpa pers di dia.lo.gue, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (4/2).
Perkembangan kota yang semakin padat turut mendorong perubahan dalam sistem perparkiran. Pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan mobilitas modern yang menuntut kecepatan, keteraturan, dan keamanan.
Chief Operating Officer & Acting Chief Financial Officer Centrepark, Chris Haryadi, menjelaskan bahwa transformasi dari sistem manual menuju pengelolaan berbasis teknologi menjadi bagian dari penyesuaian tersebut. Sejumlah fasilitas seperti gerbang otomatis, pengenalan pelat nomor kendaraan, hingga pembayaran non-tunai mulai diterapkan untuk merapikan arus masuk dan keluar kendaraan.

“Integrasi teknologi memungkinkan proses parkir berjalan lebih tertib, membantu pengendara menemukan ruang parkir, sekaligus memudahkan pemantauan operasional di berbagai lokasi,” kata Chris.
Dari sisi perencanaan jangka panjang, parkir juga dipandang memiliki nilai strategis. Chief Strategy Officer Centrepark, Stephen Roy Imantaka, menilai pengelolaan parkir berbasis data dapat memberi dampak lebih luas dari sekadar operasional harian.
“Parkir kini tidak hanya diposisikan sebagai pusat biaya, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap nilai properti, pengalaman pengunjung, dan kesiapan kota menghadapi perkembangan mobilitas, termasuk kendaraan listrik,” ujarnya.
Seiring pertumbuhan wilayah urban, sistem parkir terintegrasi dinilai menjadi salah satu elemen pendukung ekosistem smart mobility. Pengelolaan yang terstruktur disebut dapat membantu kota merespons peningkatan volume kendaraan secara lebih terukur.
Saat ini, Centrepark mengelola ratusan lokasi parkir yang tersebar di puluhan kota di Indonesia dengan dukungan sistem teknologi terpusat. Melalui berbagai forum dan diskusi, termasuk Parking Outlook 2026, perusahaan tersebut menyoroti pentingnya peran parkir dalam membangun mobilitas perkotaan yang lebih tertata.
Ke depan, tantangan pengelolaan parkir tidak hanya terkait kapasitas, tetapi juga bagaimana menyelaraskannya dengan kebutuhan kota yang terus berkembang, efisiensi ruang, serta kenyamanan masyarakat sebagai pengguna akhir. (Brg/Feb)










