Koranindopos.com, Jakarta — Industri film horor Indonesia kembali kedatangan judul baru yang memanfaatkan kekayaan mitologi Nusantara sebagai fondasi cerita. Setelah mencatat hasil impresif pada awal tahun lewat film Jalan Pulang, Leo Pictures kini menghadirkan Sosok Ketiga Lintrik, sebuah proyek yang menaruh fokus pada praktik lintrik, kepercayaan yang hidup di sejumlah daerah dan erat kaitannya dengan ritual pelet serta pengaruh magis terhadap target tertentu. Film ini resmi beredar mulai Kamis, 6 November 2025, dengan penayangan serentak di 2.030 showtime yang tersebar di 349 bioskop di berbagai kota.
Kemunculan film ini menjadi momentum penting bagi Leo Pictures yang beberapa tahun terakhir intens mengembangkan cerita horor berbasis riset budaya. Dengan pendekatan berbeda dari Jalan Pulang, rumah produksi tersebut mencoba memadukan elemen teror, drama, hingga sentuhan humor untuk menciptakan dinamika baru bagi penggemar film horor. Fokus cerita yang menyinggung ritual lintrik dipilih untuk menggambarkan bagaimana praktik tersebut masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai medium untuk memikat atau memengaruhi seseorang.
“Film ini berangkat dari riset yang mendalam tentang lintrik. Kami meneliti tidak hanya dari mereka yang pernah menjadi korban lintrik, tapi juga pelaku, bahkan sosok yang pernah menjalankan sihir itu langsung dari daerah asal sihir ini,” kata produser sekaligus founder rumah produksi Leo Pictures Agung Saputra.
Agung menjelaskan bahwa gagasan awal film berasal dari kisah nyata yang kemudian diperdalam melalui pengembangan skenario bersama para penulis dan sutradara Fajar Nugros.
“Banyak dari ide awal film yang kemudian kami perkaya dengan cerita, legenda, dan interaksi antar tokoh yang membuat kisah dalam film ini lebih variatif tapi terfokus. Misalnya elemen-elemen komedi yang akan memperluas pengalaman sinematik penonton,” kata Agung.

Untuk menghidupkan konsep tersebut, deretan pemain yang dikenal dengan performa kuat di genre horor turut dilibatkan. Beberapa di antaranya adalah Adinda Thomas dan Aulia Sarah yang sebelumnya menonjol melalui film KKN di Desa Penari, disusul Atiqah Hasiholan, Nugie, Adzwa Aurell, Saputra Kori, hingga Alifa Lubis. Nama-nama dari kalangan kreator digital seperti Dilan Janiyar dan Iris juga dihadirkan untuk memperkaya dinamika karakter.
Keterlibatan Luna Maya dalam proyek ini menjadi salah satu elemen yang menarik perhatian. Meski tidak tampil sebagai pemain seperti dalam Jalan Pulang, ia terjun sebagai executive producer. Agung menyebut bahwa pengalaman Luna dalam proyek sebelumnya memberikan perspektif tambahan yang berdampak pada pengembangan proyek terbaru ini.
“Sosok Luna Maya tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Jalan Pulang. Dia punya perspektif tentang film horor yang penting untuk dimasukkan dalam film Sosok Ketiga Jalan Pulang,” kata Agung.
Peran Luna sebagai bagian dari tim kreatif disebut memberikan sudut pandang baru dalam keseimbangan tone film.
“Luna sangat terlibat dalam pengembangan naskah dan tone visual film. Dia membantu kami menemukan keseimbangan antara horor, drama, dan sisi emosional serta komedi dari kisah ini,” ujarnya.
Sutradara Fajar Nugros menegaskan bahwa film ini tidak hanya menonjolkan serangan mistis dari ritual lintrik, melainkan juga pergulatan batin yang dialami tokoh-tokohnya.
“Sosok Ketiga Lintrik bukan hanya tentang teror yang muncul dari praktik mistik, tetapi juga menggali sisi psikologis manusia yang terjebak di antara cinta, obsesi, dan kutukan. Kami ingin penonton merasakan ketegangan bukan hanya dari sosok mistisnya, tapi juga dari konflik batin para tokohnya,” kata Fajar.
Secara visual, film ini dirancang untuk menghadirkan nuansa realisme yang dipadukan dengan elemen magis khas cerita rakyat. Tata suara serta musik latar dikerjakan dengan perhatian tinggi agar mampu menciptakan atmosfer yang menekan dan memancing respons emosional penonton. Leo Pictures berharap perpaduan tersebut dapat memperluas jangkauan penonton sekaligus mempertahankan rekam jejak mereka di genre horor.
“Semoga penonton bisa merasakan ketegangan sekaligus pesan emosional yang kami selipkan di balik kisah mistis film ini,” kata Agung Saputra. (Brg/Kul)










