Koranindopos.com, Jakarta – Rumah mode dan tailoring legendaris Wong Hang Bersaudara (WHB) memasuki babak baru dalam perjalanan bisnisnya. Perusahaan yang berdiri sejak 1933 itu kini menggandeng perusahaan teknologi AKSADIGITEX untuk memperkuat transformasi digital di sektor tailor, garmen, dan fashion.
Langkah ini menandai keseriusan WHB dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan industri yang semakin berbasis teknologi. Di tengah percepatan perubahan global, digitalisasi dinilai bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar agar perusahaan tetap relevan dan kompetitif.
AKSADIGITEX sendiri diperkenalkan sebagai perusahaan solusi digital yang berfokus pada inovasi industri. Dipimpin oleh Panji dan Trianji Agus Dananto (Anji), perusahaan ini telah mengembangkan perangkat lunak serta pelatihan teknologi selama lebih dari 12 tahun, dengan seluruh riset dan pengembangan dilakukan oleh talenta lokal.
Trianji menjelaskan, kolaborasi ini bermula dari gagasan untuk mempertemukan warisan usaha lama dengan pendekatan teknologi modern. Menurutnya, banyak proses industri fashion yang masih dilakukan secara manual, mulai dari pencatatan pesanan hingga pengelolaan produksi.
“Selama ini banyak pekerjaan dikerjakan dengan kertas dan pencatatan manual. Melalui sistem digital, semuanya bisa lebih praktis, aman, cepat, dan tertata,” ujarnya.
Dalam skema kerja sama tersebut, AKSADIGITEX bertindak sebagai mitra teknologi independen yang menangani integrasi sistem digital pada berbagai proyek WHB. Dengan model kolaborasi yang bersifat dinamis, kedua perusahaan membuka peluang untuk mengembangkan berbagai produk berbasis teknologi di masa mendatang.
Stephen Wongso, Direktur Utama Wong Hang Bersaudara, mengatakan bahwa stigma “jadul” kerap melekat pada industri penjahit. Padahal, menurutnya, sektor tailor dan garmen memiliki potensi besar untuk berkembang dengan dukungan sistem digital.
“Digitalisasi adalah keharusan mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak beradaptasi, kita akan tertinggal. Kami ingin bidang tailor dan garmen dipandang sebagai lini usaha modern yang berbasis teknologi,” kata Stephen.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi. Dengan sistem yang lebih tertata, proses kerja menjadi lebih terukur dan potensi peningkatan margin keuntungan pun terbuka
Pihak perusahaan memperkirakan bahwa penerapan sistem digital dapat mendorong peningkatan kinerja lebih dari 30 persen, terutama dari sisi efektivitas operasional dan pengelolaan data.
Meski demikian, kedua belah pihak sepakat bahwa teknologi tidak akan menggantikan peran sumber daya manusia sepenuhnya. Dalam industri fashion, kreativitas, kepekaan desain, pemilihan warna, hingga penggabungan model tetap berada di tangan manusia.

“Teknologi, termasuk AI, adalah alat untuk mempercepat proses. Ide dan kreativitas tetap berasal dari manusia. SDM tidak tergantikan,” ujar Trianji Agus Dananto selaku perwakilan dari AKSADIGITEX.
Kolaborasi ini juga diharapkan dapat membawa WHB bersaing di pasar internasional. Dengan sistem yang lebih modern, perusahaan optimistis mampu meningkatkan daya saing serta memperluas jangkauan pasar di luar Indonesia.
Melalui kemitraan tersebut, warisan yang telah dibangun sejak hampir satu abad lalu diupayakan tetap terjaga, namun dengan fondasi operasional yang lebih efisien dan terintegrasi secara digital.
Bagi kedua perusahaan, langkah ini menjadi titik awal menuju industri fashion nasional yang lebih terstruktur dan siap menghadapi persaingan global. (Brg/Kul)










