Koranindopos.com, Jakarta – Musisi senior sekaligus pegiat hak kekayaan intelektual, Candra Darusman, menandai ulang tahunnya yang ke-68 dengan meluncurkan dua karya berbeda medium: sebuah buku dan sebuah lagu. Buku tersebut berjudul Invisible Cycle: Memantik Inovasi dan Kreasi untuk Kemajuan, sementara lagu terbarunya diberi judul Salah Sendiri. Meski berbeda bentuk, keduanya membawa pesan yang sama, yakni ajakan untuk berefleksi dan bergerak maju demi masa depan Indonesia.
Candra menjelaskan bahwa lahirnya buku Invisible Cycle merupakan hasil perenungan panjang dari perjalanan hidupnya. Ia berangkat dari latar belakang musik, kemudian setelah 15 tahun berkecimpung di dunia itu, dirinya bersentuhan dengan dunia inovasi. Menurutnya, meskipun kedua bidang tersebut terlihat berbeda, ternyata keduanya memiliki banyak kesamaan.
“Saya memulai dengan habitat saya di dunia musik. Setelah 15 tahun kemudian saya terekspose dengan habitat inovasi. Saya punya persepsi tentang dua habitat ini. Yang bikin saya takjub, banyak kemiripan antara seni dan inovasi yang jadi isi dari buku ini,” ujar Candra saat peluncuran di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (21/8/2025).

Ia menambahkan bahwa seni dan inovasi sama-sama memiliki siklus yang berjalan berulang. Hal itulah yang menjadi kunci kemajuan negara-negara besar di dunia, yang mampu menjalankan siklus kreasi dan inovasi dengan konsisten.
“Dua habitat ini menjalankan siklus masing-masing, siklus inovasi dan siklus kreasi. Ternyata inilah formula di negara-negara yang sudah maju, mereka melakukan siklus kreasi dan inovasi. Tapi bukan berarti Indonesia tidak melakukan ini, tapi kalah cepat, kalah mulus, dan kalah segalanya dari negara maju,” kata Candra.
Perjalanan menyelesaikan buku ini diakui tidak mudah. Candra membutuhkan waktu tiga tahun untuk benar-benar merampungkan naskah. Di tengah kesibukan dan polemik di dunia musik, ia sempat tertahan hingga akhirnya bertemu dengan sosok penulis bernama Agung yang dikenalnya lewat media sosial.
“Buku ini sudah saya coba tulis tiga tahun lalu dan banyak halangan, di dunia musik yang sedang banyak polemik. Mas Agung tiba-tiba DM saya, perkenalkan saya penulis buku. Akhirnya kita kenalan dan klik. Beliau membantu saya untuk menyelesaikan buku ini,” tuturnya.
Selain meluncurkan buku, Candra juga mempersembahkan sebuah lagu baru berjudul Salah Sendiri. Lagu ini menjadi karya kolaborasi lintas negara yang melibatkan diva dangdut Indonesia, Ikke Nurjanah, serta penyanyi asal Sri Lanka, Umaria, yang ia sebut sebagai “Rossanya Sri Lanka”. Candra menjelaskan, “Ini dinyanyikan Ikke Nurjanah dan juga penyanyi dari Sri Lanka, Umaria. Dia ini Rossanya Sri Lanka lah.”
Menurut Candra, lagu tersebut merupakan bentuk autokritik yang terinspirasi dari karya Mochtar Lubis. Lagu ini berusaha mencerminkan kegelisahan kolektif masyarakat yang cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain daripada bercermin pada diri sendiri.
“Lagu ini jadi semacam kegelisahan kita semua yang cenderung menyalahkan orang lain. Jadi ini autokritik tentang kegelisahan sekaligus doa agar ke depannya menjadi lebih baik. Tapi sebelum ke sana akui dulu,” ungkapnya.
Bagi Ikke Nurjanah, keterlibatan dalam proyek ini memberikan tantangan tersendiri. Ia menilai lirik lagu tersebut sarat makna sehingga membutuhkan pemahaman yang mendalam untuk bisa membawakannya dengan tepat.
“Waktu diajak kolaborasi awal yang saya konsen, mas ini liriknya apa ya. Butuh pemahaman dalam menurut saya. Pas Mas Candra bilang ini autokritik, wah besar ya maknanya. Artinya Mas Candra memikirkan sesuatu yang besar,” kata Ikke.
Melalui dua karya ini, Candra Darusman berharap dapat membuka percakapan lebih luas di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Ia menekankan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan generasi penerus dalam menjaga kesinambungan antara kreasi dan inovasi. “Jadi bismillah buku ini ingin sekali kita masuk frame of mind bahwa inovasi dan kreasi adalah masa depan negara,” pungkasnya.(Brg/Kul)










