Koranindopos.com, Jakarta – Aktris Fanny Ghassani, bermain dalam film horor terbarunya bertajuk Riba. Dalam produksi ini ia dipercaya memerankan tokoh Rohma, sosok istri dari karakter Sugi. Meski bukan pertama kali terlibat di dunia seni peran, Fanny mengakui proyek terbaru ini memberikan pengalaman yang jauh berbeda dari pekerjaan sebelumnya, terutama karena sebuah adegan yang menuntutnya menjadi mayat berkafan.
Peristiwa itu terjadi ketika proses syuting berlangsung di Jakarta. Fanny menceritakan bahwa adegan pocong tersebut menjadi bagian paling menantang selama keterlibatannya di film tersebut. Ia menyebut momen itu meninggalkan dampak psikologis yang tidak ia duga sebelumnya.
“Sebenarnya dipocongin itu adalah sebuah perjalanan juga buat aku. Karena di saat kita manusia itu, ya kita bisa bebas bergerak, bebas bicara,” jelasnya saat ditemui di Plaza Senayan pada Jumat (28/11/2025).
Menurut Fanny, sensasi yang muncul ketika tubuhnya dililit kain kafan membuatnya merasakan ketidakberdayaan yang tidak pernah ia bayangkan. Ia menuturkan bahwa posisi tubuh yang tak bisa digerakkan benar-benar membuatnya memahami sisi lain dari kondisi manusia ketika tidak lagi bernyawa.

“Ketika kita dipocongin kayak gitu, itu rasanya enggak berdaya sebagai manusia,” katanya dengan nada serius.
Wanita kelahiran 1991 itu kemudian menuturkan bagaimana kru menyiapkan prosesi pengkafanan untuk kepentingan adegan. Seluruh bagian tubuhnya, mulai dari tangan, kaki, hingga kepala, diikat kuat sesuai kebutuhan gambar. Bahkan saluran napasnya sempat ditutup kapas sebelum kamera mulai merekam.
“Tangan diikat, kaki diikat, badan diikat, kepala diikat, napas disumpel. Wah, ternyata gini ya rasanya menjadi orang yang enggak berdaya,” ujarnya mengenang momen tersebut.
Sebelum memasuki proses syuting, Fanny mengira adegan menjadi mayat adalah hal yang sepele karena tidak memerlukan ekspresi rumit atau dialog. Namun, anggapan itu runtuh begitu seluruh riasan dan kostum lengkap dikenakan. Situasi berubah drastis ketika ia diminta berbaring di tempat yang menyerupai ruang penyimpanan jenazah.
“Aku pikir, ‘Ah enggaklah, orang cuma dipocongin masih bisa napas kok’. Tapi pas make up-nya sudah jadi, duduk di tempat mayat, dikafanin itu aku langsung ‘heuh’ (kaget). Benar-benar rasanya cemas, berat banget perasaannya,” tuturnya.
Dari seluruh rangkaian adegan yang ia jalani selama syuting, Fanny menilai momen menjadi pocong justru menjadi tantangan paling berat. Ia bahkan membandingkan kesulitannya dengan adegan menangis yang kerap ia lakukan di sinetron. Menurutnya, tekanan psikologis saat dipocong tidak bisa disamakan dengan tuntutan emosional dalam adegan dramatis.
“Aduh, aku jadi kebayang mati ya. Maksudnya kita semua pasti bakal meninggal, enggak akan pernah siap sama waktu itu,” pungkasnya.
Film Riba sendiri menyajikan cerita horor bertema kehidupan rumah tangga dan konsekuensi moral yang melingkupinya. Selain Fanny, sejumlah aktor seperti Ibrahim Risyad, Jajang C. Noer, Wafda Saifan, dan Pritt Timothy turut memperkuat deretan pemain. Para aktor ini dikabarkan memberikan sentuhan akting yang intens demi menghadirkan cerita yang solid dan mencekam.
Syuting film yang berlangsung beberapa bulan lalu memadukan nuansa religius serta ketegangan khas film horor modern. Penonton disebut akan diajak menelusuri konflik keluarga yang berkaitan dengan keputusan-keputusan berisiko dan dampaknya bagi kehidupan para tokohnya. Kehadiran Fanny sebagai Rohma menjadi salah satu elemen emosional yang memperkaya narasi.
Film arahan sineas nasional ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 4 Desember 2025. Dengan pengalaman emosional yang dialami langsung oleh para pemainnya, Riba disebut siap menawarkan ketegangan yang berbeda bagi para pencinta thriller spiritual. Bagi Fanny, proses ini bukan hanya pekerjaan, tetapi juga perjalanan batin yang tidak akan ia lupakan. (Brg/Hend)










