Koranindopos.com, Jakarta – Setelah beberapa tahun berlalu sejak film terakhirnya, aktris Prilly Latuconsina kembali tampil sebagai Risa dalam film Danur: The Last Chapter. Film ini dijadwalkan hadir di bioskop pada 18 Maret 2026 dan menjadi penutup dari rangkaian kisah yang telah berjalan sejak film pertamanya dirilis hampir satu dekade lalu.
Proyek tersebut kembali digarap oleh sutradara Awi Suryadi, yang sebelumnya juga mengarahkan beberapa film dalam semesta Danur. Bagi Prilly, kesempatan kembali terlibat di film penutup ini menjadi momen yang cukup penting karena perjalanan karakternya sudah berlangsung cukup lama.
Ia menjelaskan bahwa film Danur memiliki posisi khusus dalam perjalanan kariernya di dunia akting. Ketika film pertama diproduksi, ia masih berada pada tahap awal membangun reputasi di industri perfilman Indonesia.
“Film ini punya arti penting buat aku. Dari Danur, aku mulai lebih banyak dikenal lewat film dan berbagai peluang lain akhirnya datang,” kata Prilly dalam sebuah kesempatan promosi film di Bandung, Sabtu (7/3).
Perjalanan panjang seri Danur juga memperlihatkan perubahan dalam industri film horor Indonesia. Prilly mengingat bahwa saat proyek pertama dimulai, genre horor belum sepenuhnya dianggap sebagai tontonan yang mampu menarik jumlah penonton besar di bioskop.

Ia menilai kemunculan film Danur ikut membuka kembali minat penonton terhadap genre tersebut. Sejak saat itu, film horor Indonesia mulai lebih sering diproduksi dan mendapat respons yang baik dari publik.
Karakter Risa sendiri menjadi salah satu peran yang paling lama ia mainkan sepanjang kariernya. Sejak awal seri hingga film penutup ini, Prilly telah memerankan tokoh tersebut selama bertahun-tahun.
Ia mengaku merasakan pengalaman berbeda karena bisa mengikuti perkembangan satu karakter dalam rentang waktu panjang. Kesempatan seperti ini tidak selalu didapat oleh seorang aktor dalam setiap proyek film.
Namun proses kembali memerankan Risa setelah jeda waktu yang cukup panjang juga memerlukan penyesuaian. Prilly harus mengingat kembali bagaimana karakter tersebut bersikap ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan dunia tak kasatmata.
“Aku sempat mempertanyakan apakah reaksiku sudah tepat atau belum. Karena Teh Risa itu biasanya santai ketika menghadapi hal-hal seperti itu, jadi aku harus menyesuaikan lagi cara bereaksinya,” ujarnya.
Untuk menjaga aktingnya tetap sesuai dengan karakter yang menjadi dasar cerita, Prilly juga melakukan diskusi dengan penulis kisahnya, Risa Saraswati. Interaksi tersebut membantu memastikan bahwa penggambaran tokoh Risa di layar tetap mendekati sosok aslinya.
Ia bahkan mengaku merasa tertantang karena tokoh yang ia perankan benar-benar ada di kehidupan nyata dan sering terlibat dalam proses produksi.
“Menariknya, aku memerankan orang yang benar-benar ada. Jadi tentu ada tanggung jawab supaya penggambarannya tetap sesuai,” kata Prilly.
Film ini melanjutkan cerita setelah kejadian dalam Danur: Sunyaruri yang dirilis pada 2019. Dalam kisah tersebut, Risa sempat mencoba menjalani kehidupan yang lebih normal setelah menjauh dari teman-teman gaibnya.
Situasi berubah ketika adiknya, Riri, menerima lamaran di sebuah gedung pertunjukan tua. Sejak saat itu berbagai peristiwa aneh mulai terjadi dan Risa kembali menghadapi pengalaman misterius yang berkaitan dengan masa lalunya.
Risa kemudian menduga kejadian tersebut berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan oleh sahabat-sahabat tak kasatmata yang selama ini dikenal sebagai Peter dan kawan-kawan. Cerita tersebut menjadi bagian dari penutup perjalanan panjang semesta Danur di layar lebar. (BRG/Kul)










