Koranindopos.com – JAKARTA – Pemerintah Jepang terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi krisis kelahiran yang semakin serius. Salah satu langkah unik kini datang dari Prefektur Kochi yang mencoba pendekatan baru dengan mendorong warganya untuk mencari pasangan melalui aplikasi kencan.
Dalam kebijakan yang diumumkan pada 10 April 2026, pemerintah daerah setempat menawarkan subsidi kepada warga muda yang masih lajang agar mau menggunakan layanan perjodohan digital. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan peluang pernikahan, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan angka kelahiran.
Program tersebut mencakup bantuan biaya untuk mengakses aplikasi kencan atau platform pencarian pasangan. Pemerintah daerah menilai bahwa hambatan biaya dan kurangnya kesempatan bertemu pasangan menjadi salah satu faktor rendahnya angka pernikahan di kalangan generasi muda.
Fenomena penurunan angka kelahiran di Jepang sendiri telah berlangsung dalam beberapa dekade terakhir. Banyak anak muda menunda bahkan menghindari pernikahan karena faktor ekonomi, tekanan pekerjaan, serta perubahan gaya hidup. Akibatnya, populasi Jepang terus menyusut dan menua, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan tenaga kerja dan sistem sosial di masa depan.
Langkah yang diambil Prefektur Kochi ini menjadi salah satu contoh inovasi kebijakan lokal dalam menghadapi persoalan demografi. Meski terkesan tidak biasa, pemerintah berharap pendekatan ini bisa membantu mempertemukan lebih banyak pasangan dan mendorong terbentuknya keluarga baru.
Ke depan, efektivitas program ini akan menjadi perhatian, terutama apakah insentif semacam ini benar-benar mampu mengubah perilaku sosial generasi muda dan berdampak signifikan terhadap angka kelahiran di Jepang.(dhil)










