koranindopos.com , Jakarta — Epilepsi pada anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di dunia. Pada usia anak dari nol hingga 18 tahun, kejang bisa terjadi tanpa demam atau pemicu yang jelas, sehingga sering kali tidak disadari oleh orang tua. Jika kejang terjadi berulang tanpa sebab yang jelas, maka perlu dicurigai sebagai epilepsi dan harus segera dilakukan pemeriksaan lanjutan.
RSIA Bunda Jakarta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan saraf anak, khususnya dalam mengenali dan mencegah risiko Epilepsi. Edukasi ini disampaikan seiring dengan memperingati hari Epilepsi sedunia dan peluncuran layanan Pediatric Neurology Center (Pusat Neurologi Anak), sebuah layanan terpadu untuk diagnosis dan penanganan gangguan saraf pada anak, yang digelar pada Minggu 26/4/26 di The BIC Menteng – Morula IVF Jakarta – Fertilisasi in Vitro Klinik Bayi Tabung Indonesia.

Konsultan neurologi anak RSIA Bunda Jakarta, Dr. dr. Achmad Rafli, Sp.A, Subsp. Neuro(K), FICNA, menegaskan bahwa menjaga kesehatan anak tidak hanya sebatas pemenuhan gizi, tetapi juga mencakup kewaspadaan terhadap gangguan saraf yang kerap tidak disadari, seperti kejang tanpa demam.
“Orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal gangguan saraf. Jika anak mengalami kejang berulang tanpa penyebab yang jelas, segera lakukan pemeriksaan lanjutan,” ujarnya.
Salah satu langkah utama menjaga kesehatan saraf anak adalah melakukan deteksi dini. Pemeriksaan seperti EEG kini semakin mudah diakses, bahkan dengan teknologi portabel yang memungkinkan pemantauan dari rumah. Deteksi sejak awal dapat membantu mencegah kondisi berkembang lebih serius.
Ia menegaskan, epilepsi bukan penyakit menular dan meskipun belum dapat disembuhkan secara total, kondisi ini dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat. “Dengan terapi rutin selama sekitar dua tahun tanpa kejang, risiko kambuh bisa ditekan hingga di bawah 20 persen,” tambahnya.
Peluncuran pusat neurologi ini juga bertujuan menghapus stigma negatif terhadap penderita epilepsi, terutama anak-anak. Dengan penanganan yang tepat, anak dengan epilepsi tetap dapat menjalani aktivitas normal seperti anak lainnya.
Selain itu, kehadiran EEG portabel diharapkan memperluas akses layanan kesehatan, termasuk melalui skema home service bagi pasien yang sulit datang ke rumah sakit. Pemeriksaan EEG sendiri umumnya berlangsung selama 30 menit, namun untuk hasil lebih optimal dapat diperpanjang hingga 2–4 jam, bahkan ditargetkan mencapai 12 jam untuk mendeteksi gangguan yang sulit teridentifikasi.
Diagnosis epilepsi, lanjutnya, tidak selalu bisa ditegakkan saat kejang terjadi. Dalam banyak kasus, diagnosis baru dapat dipastikan dalam waktu 3–5 hari setelah kejadian, karena kondisi anak sering kembali normal pascakejang.
Dari sisi pembiayaan, sebagian besar pengobatan epilepsi saat ini telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Namun, teknologi pemeriksaan terbaru seperti EEG portabel masih dalam tahap pengembangan agar ke depan dapat memperoleh dukungan pembiayaan pemerintah.
Dokter juga mengingatkan orang tua untuk tetap tenang saat anak mengalami kejang. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah memposisikan anak dalam keadaan miring, melonggarkan pakaian, serta memberikan obat sesuai anjuran dokter guna menghentikan kejang secepat mungkin.
Dengan hadirnya Pediatric Neurology Center ini, diharapkan layanan kesehatan saraf anak di Indonesia semakin maju dan mampu memberikan penanganan yang lebih cepat, akurat, serta terjangkau bagi masyarakat. (ana)










