Koranindopos.com – JAKARTA – Seorang pasien laki-laki berusia 49 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung akibat infeksi hantavirus dan leptospirosis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan kasus tersebut terjadi pada tahun 2025 dan tidak berkaitan dengan kasus hantavirus yang sebelumnya ramai diperbincangkan di kapal pesiar MV Hondius.
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Elisabeth Hutajulu, menjelaskan bahwa pasien merupakan seorang buruh bangunan yang tinggal di kawasan Cibeunying Kolot, Kota Bandung.
Menurut Elisabeth, pasien menjalani perawatan selama tiga hari di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia akibat kondisi kesehatannya yang terus memburuk.
“Pasien datang dengan kondisi yang sudah cukup berat dan mengalami perburukan selama masa perawatan,” ujar Elisabeth Hutajulu.
Elisabeth menjelaskan, gejala awal mulai dirasakan pasien sekitar enam hari sebelum masuk rumah sakit. Saat itu pasien mengalami demam yang muncul secara hilang timbul.
Kondisi pasien kemudian semakin memburuk dalam tiga hari terakhir sebelum menjalani perawatan. Ia mulai merasakan nyeri pada bagian kanan atas perut yang semakin berat dari waktu ke waktu.
Selain itu, pasien juga mengalami sejumlah gejala lain yang mengarah pada infeksi serius hingga akhirnya dirawat intensif di rumah sakit.
Pihak rumah sakit kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya infeksi hantavirus disertai leptospirosis.
Menanggapi munculnya kembali perhatian publik terhadap hantavirus, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa kasus di Bandung tersebut tidak berkaitan dengan kasus hantavirus yang sebelumnya ramai dibahas di kapal pesiar MV Hondius.
Kemenkes menyebut kasus pasien di Bandung terjadi pada tahun 2025 dan merupakan kasus terpisah.
Hantavirus sendiri merupakan penyakit yang umumnya ditularkan melalui paparan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat seperti tikus. Sementara leptospirosis juga dikenal sebagai penyakit yang dapat menyebar melalui air atau lingkungan yang terkontaminasi urine hewan.
Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan tikus, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam disertai keluhan lain yang tidak membaik.(dhil)










