Koranindopos.com, KOTA BEKASI-Kota Bekasi mendadak viral. Itu setelah Satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen Earth Surface Mineral Dust Source Investigation (EMIT) milik NASA mengungkap fakta tentang tingginya emisi metana dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Kawasan tersebut menghasilkan sekitar 6,3 ton gas metana per jam. Fakta tersebut menempatkan Kota Patriot dan Kota Industri itu sebagai kota kedua penyumbang emisi beracun metana terbesar di dunia, persis di bawah Campo de Mayo di Argentina.
Perlu diketahui, dikutip dari earthdata.nasa.gov, EMIT adalah instrumen NASA Earth Venture (EVI-4) yang dipasang di bagian luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). EMIT merupakan instrumen pertama yang menggunakan teknologi spektroskopi pencitraan yang ditemukan NASA untuk mengukur secara komprehensif berbagai panjang gelombang cahaya yang dipancarkan oleh mineral di permukaan gurun dan sumber debu lainnya untuk menentukan komposisinya.
Temuan itu menunjukkan besarnya kontribusi sektor pengelolaan sampah terhadap emisi gas rumah kaca, terutama di kawasan seperti TPST Bantargebang yang menerima ribuan ton sampah setiap hari. Emisi metana tidak bisa dianggap sepele karena dalam jangka 20 tahun, efek pemanasannya jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Gas tersebut mempercepat pemanasan global, sekaligus berperan dalam pembentukan ozon troposfer yang berbahaya bagi kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Sebelumnya, terkait kondisi TPST Bantargebang yang memperihatinkan itu, Pemprov DKI Jakarta selaku wilayah yang membuang sampah di TPST tersebut buka suara. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, dirinya telah menyetujui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek itu akan mengolah sampah menjadi energi listrik. ”Yang pertama, saya sudah menyetujui untuk di sana segera dibangun untuk PLTSa pembangkit listrik tenaga sampah,” kata Pramono pada Kamis (7/5/2026).
Selain itu, skema pengolahan sampah menjadi bahan bakar (fuel) juga telah disiapkan di TPST Bantargebang. Pihaknya akan memfokuskan pada pengolahan sampah dengan metode refuse derived fuel (RDF). ”Sehingga dengan demikian nanti di sana ada tiga aktivitas, untuk RDF Bantargebang, yang kedua untuk fuel, yang ketiga untuk menjadi energi (PLTSa),” katanya. (kc/mmr)










