Koranindopos.com – JAKARTA – Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat penduduk di Jalan Krendang Barat Gang 2, Tambora, Jakarta Barat, pada Kamis (28/5/2026) malam. Peristiwa tersebut menghanguskan sedikitnya 27 bangunan yang terdiri dari rumah tinggal dan kontrakan, serta menyebabkan sekitar 115 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.
Hingga Jumat (29/5/2026) siang, bekas kebakaran masih menyisakan pemandangan memilukan. Dinding bangunan yang menghitam, puing-puing berserakan, serta kerangka rumah yang rapuh menjadi saksi dahsyatnya kobaran api yang meluluhlantakkan kawasan tersebut.
Kebakaran tidak hanya menghanguskan bangunan fisik, tetapi juga memaksa ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka dalam waktu singkat.
Di sejumlah titik lokasi, garis polisi masih terpasang untuk mengamankan area yang berpotensi membahayakan warga akibat reruntuhan bangunan yang belum stabil.
Meski demikian, sejumlah warga masih terlihat berupaya mencari sisa barang-barang yang dapat diselamatkan. Beberapa di antaranya mengumpulkan potongan besi dan material bekas yang masih memiliki nilai jual.
Berdasarkan informasi awal, kebakaran pertama kali dilaporkan ke Pos Pemadam Kebakaran Krendang sekitar pukul 19.47 WIB.
Namun sebelum petugas tiba dan melakukan pemadaman, api telah membesar dan dengan cepat menjalar ke bangunan lain yang berdempetan.
Kondisi permukiman yang padat, ditambah hembusan angin kencang, membuat kobaran api semakin sulit dikendalikan. Sejumlah ledakan yang diduga berasal dari tabung gas juga sempat terdengar dan memperparah situasi.
Camat Tambora, Pangestu Aji, mengatakan dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik yang terjadi di sebuah rumah kontrakan.
“Info awal warga sih kayak ada percikan di kontrakan di lantai dua. Kemungkinan kalau sudah seperti itu berarti listrik, tapi pastinya belum tentu karena masih menunggu hasil penyelidikan,” ujarnya.
Salah seorang warga bernama Dedi (53) mengaku melihat asap tebal muncul sebelum api membesar.
Menurutnya, rumah yang diduga menjadi titik awal kebakaran sedang dalam keadaan kosong karena penghuninya yang berprofesi sebagai pedagang roti tengah pulang kampung.
Dedi menduga korsleting terjadi akibat kabel listrik yang rusak, kemungkinan karena digigit tikus.
“Awalnya banyak asap, lama-lama api membesar. Ada beberapa ledakan juga, terutama dari kabel listrik yang meletup-letup,” katanya.
Untuk menjinakkan api, Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat mengerahkan 22 unit mobil pemadam kebakaran dan 105 personel.
Petugas berjibaku selama beberapa jam untuk mencegah api merembet ke area permukiman yang lebih luas.
Meski berhasil dipadamkan, proses pendinginan masih dilakukan guna mengantisipasi munculnya titik api baru di lokasi kejadian.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Dugaan korsleting listrik menjadi salah satu fokus utama yang sedang didalami petugas.
Sementara itu, pemerintah setempat bersama instansi terkait terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak dan menyiapkan langkah-langkah bantuan bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal akibat musibah tersebut.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap instalasi listrik, terutama di kawasan permukiman padat penduduk yang memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran kebakaran.(dhil)










