Koranindopos.com, JAKARTA – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren yang positif. Seiring berbagai upaya pemerintah untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan, kebutuhan akan teknologi pendukung yang mampu memastikan operasional kendaraan berjalan optimal juga semakin meningkat.
Mulai Juni 2026, pemerintah Indonesia akan menghadirkan program insentif yang ditujukan untuk mempercepat penggunaan mobil dan sepeda motor listrik. Program tahap pertama ini menargetkan penambahan hingga 200.000 kendaraan listrik baru di Tanah Air. Di balik pertumbuhan tersebut, perusahaan yang mulai beralih ke armada listrik juga menghadapi tantangan baru dalam mengelola kendaraan mereka.
Jika sebelumnya pengelolaan armada berfokus pada konsumsi bahan bakar dan perawatan mesin, kini perhatian beralih pada kondisi baterai, pola pengisian daya, hingga pemantauan performa kendaraan secara digital. Di sinilah teknologi telematika memainkan peran penting.
Melihat perkembangan tersebut, Teltonika kembali menggelar Telematics Summit South Asia di Jakarta. Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, acara ini mempertemukan lebih dari 150 pakar telematika dari berbagai negara di South Asia bersama tim ahli Teltonika yang datang langsung dari Vilnius, Lithuania.
Head of Sales for South Asia Teltonika Telematics, Adomas Jurėnas, mengatakan bahwa kolaborasi dan pertukaran pengetahuan menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan industri telematika pada acara press conference kamis 4 Juni 2026 di Ritz-Carlton Jakarta.
Menurutnya, telematika saat ini telah berkembang jauh melampaui fungsi pelacakan lokasi kendaraan. Teknologi ini mampu memberikan berbagai informasi penting yang dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko kerusakan kendaraan, hingga menciptakan nilai tambah bagi pemilik armada.
Selama summit berlangsung, para peserta tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai tren industri terkini, tetapi juga mengikuti sesi workshop interaktif bersama para engineer Teltonika. Berbagai demonstrasi teknologi ditampilkan, mulai dari solusi untuk kendaraan pribadi, sepeda motor, alat berat, hingga mesin-mesin khusus yang digunakan dalam berbagai sektor industri.
Salah satu topik yang mendapat perhatian besar adalah pengelolaan kendaraan listrik. Product Owner for E-Mobility Teltonika, Giedrius Adomaitis, menjelaskan bahwa kendaraan listrik membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Melalui integrasi dengan jaringan CAN (Controller Area Network) pada kendaraan, teknologi telematika memungkinkan perusahaan memantau berbagai indikator penting secara real-time, termasuk kondisi baterai, suhu, hingga kebiasaan pengisian daya. Data tersebut membantu perusahaan mendeteksi potensi masalah lebih awal sehingga perawatan dapat dilakukan sebelum kerusakan terjadi.
Pemantauan ini menjadi semakin penting karena kondisi baterai sangat dipengaruhi oleh pola penggunaan sehari-hari. Pengisian daya yang tidak tepat atau penggunaan baterai hingga kapasitas terlalu rendah dapat mempercepat penurunan performa baterai dan berdampak pada operasional kendaraan.
Selain mendukung efisiensi, teknologi telematika juga menawarkan lapisan keamanan tambahan. Dengan akses ke sistem kendaraan, perusahaan dapat mengatur berbagai fungsi dari jarak jauh, termasuk membatasi akses penggunaan kendaraan hanya kepada pengemudi yang telah terverifikasi.
Dalam konteks Indonesia, pembahasan mengenai sepeda motor listrik juga menjadi sorotan utama. Sebagai negara dengan populasi sepeda motor terbesar di dunia, kendaraan roda dua memainkan peran penting dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari layanan pengiriman hingga transportasi berbasis aplikasi.
Karena itu, keandalan perangkat telematika menjadi faktor yang sangat penting. Perangkat yang ringkas, tahan air, dan tahan debu memungkinkan pemantauan kendaraan tetap berjalan optimal dalam berbagai kondisi operasional.
Tidak hanya membahas kendaraan listrik, Telematics Summit South Asia juga menghadirkan berbagai inovasi lain, termasuk solusi pelacakan dalam ruangan (indoor tracking), manajemen alat berat, hingga pemantauan mesin industri dan sistem pertanian.
Salah satu teknologi yang menarik perhatian adalah dead reckoning, sebuah sistem yang memungkinkan kendaraan tetap dapat dilacak meskipun tidak mendapatkan sinyal GPS. Dengan memanfaatkan sensor gyroscope dan accelerometer, perangkat dapat memperkirakan posisi kendaraan berdasarkan arah dan pola pergerakannya.
Teknologi ini menjadi solusi yang relevan untuk meningkatkan keamanan kendaraan, terutama dalam situasi ketika sinyal GPS terganggu atau sengaja diblokir oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pada kesempatan yang sama, Teltonika juga memperkenalkan teknologi Wirepas Mesh, solusi pelacakan nirkabel yang dirancang untuk kebutuhan pemantauan dalam ruangan berskala besar. Teknologi ini menawarkan alternatif yang lebih efisien dibandingkan Bluetooth® konvensional, terutama pada lingkungan dengan kepadatan perangkat yang tinggi seperti gudang, fasilitas logistik, maupun rumah sakit.
Melalui berbagai inovasi yang diperkenalkan dalam Telematics Summit South Asia, Teltonika menunjukkan bahwa telematika tidak lagi sekadar alat pelacak kendaraan. Teknologi ini berkembang menjadi solusi yang membantu perusahaan memahami aset mereka secara lebih menyeluruh, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus mendukung transformasi menuju era mobilitas yang semakin cerdas dan berkelanjutan.
Seiring pertumbuhan kendaraan listrik yang semakin pesat di Indonesia dan kawasan South Asia, kehadiran teknologi telematika diyakini akan menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan transisi menuju mobilitas masa depan dapat berjalan lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.(dhil)










