Koranindopos.com, JAKARTA – Industri makanan dan minuman nasional, khususnya sektor minuman kemasan menunjukkan resiliensi positif. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo dalam siaran pers di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan pada Kamis (4/6/26).
Triyono menjelaskan, industri tersebut sebagai salah satu tulang punggung manufaktur, sekaligus penopang utama konsumsi domestik di tengah tekanan dari beberapa faktor. Misalnya ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian geopolitik. ”Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka. Namun, membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih resilient ke depan,” ujar Triyono.
Triyono menambahkan, pihaknya mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha. ASRIM mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan industri. ”Termasuk cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, dan perlindungan tenaga kerja nasional,” beber Triyono.
Dia juga mengapresiasi upaya pemerintah untuk penguatan sektor domestik dan berharap implementasi kebijakan ke depan dapat berjalan secara adaptif tanpa memberikan beban tambahan yang memberatkan pelaku usaha. Hal itu penting agar industri tetap mampu mempertahankan investasi dan penyerapan tenaga kerja.
Sementara itu, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Merrijantij Punguan Pintaria menyampaikan, bentuk dukungan ekosistem industri dari regulator. “Sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19 persen terhadap PDB nasional pada Triwulan I-2026. Industri makanan-minuman sebagai subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional. Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor mamin,” ujar Merrijantij dalam siaran pers tersebut.
Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat bahwa berdasar data BPS, pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan porsi 19,07 persen, di mana subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, menegaskan perannya sebagai motor utama sektor manufaktur. Meskipun menunjukkan ketahanan secara makro, kualitas pertumbuhan industri di lapangan masih menghadapi tantangan riil.
Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menjelaskan bahwa dinamika pasar saat ini memerlukan perhatian khusus terkait daya beli masyarakat. ”Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain; pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri,” katanya. (rls/mmr)










